Minggu, 29 Juli 2012

Logo Ken Mercedez

Diposting oleh Ken Mercedez di 18.23.00 1 komentar
Guys, aku lagi bikin logo sederhana dengan segenap kemampuanku nih. Kira - kira bagus yang mana ya? Menurutku sendiri sih yang ijo, menurut kalian gimana?

Logo 1:



Logo 2:

Senin, 23 Juli 2012

ABG Galau

Diposting oleh Ken Mercedez di 23.19.00 0 komentar
Guys, tanpa sengaja aku nemuin postingan gambar ini di fb salah seorang temanku. Coba deh diamati, diresapi dalam - dalam. hehehe... Gambar ini lucu lho, sekaligus mengingatkan Qta pada kebiasaan galau yang sering menerpa Qta.

Sekarang lagi musimnya galau. Aku sendiri bingung, siapa pencetus kegalauan ini pada mulanya ya? Terus kenapa harus kata 'galau' yang dipilih? Kok bukan 'Pening' misalnya, atau 'Resah' kek gitu? hehehe
Cukup kreatif sih dengan pilihan kata 'galau'. Unik gimanaaaa geto. hohohoho

Aku sendiri gak memungkiri, daku pun sering galau. Apalagi pas jaman SMA dulu. Hampir tiap hari Galau! Sukanya nangis dengerin lagu - lagu sedih, melow gitu. Waktu itu dengerin lagunya Letto, D'Massiv terus apaan lagi ya, udah banyak yang lupa. Pas waktu dengerin lagu aja baru keinget deh lagu itu pernah aku gemari waktu galau. Padahal nih, banyak orang yang permasalahannya lebih berat daripada Qta, tapi gak diekspos seperti Qta. hm...

Dulu itu aku sering galau pas mikirin dihianati sahabat, putus cinta, nilai ujian ancur, dimarahin ortu, dimarahin guru, kadang gara - gara bokek. xixixi

But, itu alami. Mungkin banyak remaja lainnya yang mengalami kegalauan. Semua ada prosesnya. Untuk menuju dewasa mungkin Qta masuk zona galau dulu. Asal, galaunya jangan lama - lama ya! Ntar bisa stres. Enjoy aja lagi, kayak iklannya rokok. Semuanya pasti berakhir, gak selamanya Qta galau tanpa bahagia.

Kalau kamu disuruh milih, ngikutin trend galau atau jadi orang yang hepi pilih mana? Kalo aku sih milih jadi orang hepi dong. So, Qta harus bangkit. Masalah - masalah yang Qta alami saat ini emang kadang terasa beraaaatttt banget. Tapi suatu saat nanti kalo Qta mengingat masa - masa berat itu bisa senyum - senyum sendiri karna Qta bisa melaluinya. Yang terpenting adalah mengambil maknanya. Ingat, di buku Sidu *kok jadi promosi?* ada tulisan yang kalo gak salah gini nih: Experience is a good teacher. Ada tuh di bawah sendiri. Dulu pas sekolah aku sering melafalkan kata - kata itu.

Semangat ya Guys! Semoga Qta bisa cepet - cepet keluar dari zona Galau yang bikin kepala pusing, hati perih, perut kembung, sesak napas, nyeri sendi, keram otot *alaydotcom* 

Hidup itu indah, terlalu indah untuk ditangisi :D

Rabu, 18 Juli 2012

Merengkuh Rembulan

Diposting oleh Ken Mercedez di 16.02.00 0 komentar

Terik sinar matahari membakar kulitku. Peluhku bercucuran dan tubuhku lelah. Tuanku yang gagah dan tampan tengah menunggangi unta yang ku tuntun menggunakan sebuah tali yang begitu kuat.
“Zaidah, apa kau lelah?” tanya Tuan Aamir padaku.
“Tidak Tuan. Saya masih mampu melanjutkan perjalanan,” ucapku. Aku menengadah memandang wajahnya. Begitu sadar segera ku tundukkan kepalaku. Wajahku panas, bukan karena sinar matahari, tetapi malu dan merasa bersalah. Sebagai seorang budak aku tidak seharusnya memandang wajah Tuanku. Ku betulkan cadarku, takut wajahku yang memerah tampak di hadapan Tuan Aamir.
“Aku lelah. Bisakah kita menginap semalam di penginapan dekat sini?” tanya Tuan Aamir.
“Ya Tuan, mungkin sekitar 1 kilometer lagi,” jawabku seraya menunduk. Aku segera melanjutkan langkahku sambil menarik unta.
“Kalau kau lelah, naiklah ke atas unta ini. Biar aku yang menuntunnya,” Tuan Aamir menawarkan diri.
“Sungguh Tuan, jangan berkata seperti itu. Hamba begitu tidak pantas melakukannya,” ucapku masih dengan menundukkan badan. Ku teruskan lagi langkahku sambil berharap Tuan Aamir tidak berkata apapun lagi. Semakin banyak beliau mengajakku bicara, semakin gugup aku menanggapinya.
Aku seorang budak belian yang mengabdi untuk keluarga Rajab sejak berumur 6 tahun. Ayahanda Tuan Aamir bernama Saif. Beliau membeliku dari seorang teman baiknya. Semula aku tidak punya nama, namun Tuan Aamir yang waktu itu berumur 9 tahun memberiku nama Zaidah. Lalu Tuan Saif Rajab menjadikanku pelayan pribadi Tuan Aamir hingga saat ini ketika aku berusia 21 tahun. Aku sangat kagum pada Tuan Aamir yang begitu cerdas, tampan, dan berakhlak mulia. Beliau selalu memperlakukanku dengan baik, berbeda dengan kebanyakan majikan yang berlaku sewenang – wenang pada budak mereka.
Saat ini aku sedang menjalankan tugas menemani Tuan Aamir pergi menemui keluarga calon istrinya. Tuan Saif menjodohkan putra pertamanya ini dengan putri seorang saudagar kaya. Namun aku merasa Tuan Aamir tidak begitu senang, hatinya masih tidak rela menerima perjodohan tersebut. Mungkin dikarenakan ia masih betah melajang.
“Disinikah tempatnya?” tanya Tuan Aamir saat kami sampai di sebuah penginapan kecil ketika senja.
“Ya Tuan,” jawabku.
Tuan Aamir turun dari unta dan segera masuk ke dalam penginapan. Aku mengikutinya setelah memberikan unta kepada penjaga penginapan.
“Kamarmu di sebelah kamarku,” kata Tuan Aamir.
“Terimakasih Tuan,” jawabku singkat. Tak tahu harus berkata apa lagi.
“Sebaiknya kita beristirahat terlebih dahulu. Besok pagi kita akan melanjutkan perjalanan,” ujar Tuan Aamir sambil tersenyum lirih. Beliau menatapku sejenak dengan tatapan sedih, tapi aku segera menunduk agar ia berhenti memandangku.
Setelah undur diri, aku segera masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan Tuan Aamir. Aku duduk di kursi yang bersebelahan dengan tempat tidur. Di depanku sebuah obor dipasangkan di dinding. Hanya cahaya obor itulah yang menerangi kamar kecil ini. aku membuka kerudung dan cadarku. Ku cari sebuah sisir mungil yang kutaruh di saku bajuku. Aku mulai menyisir rambutku yang hitam panjang. Hatiku kalut. Sebentar lagi Tuan Aamir akan menikah, kemudian memiliki anak. Aku akan menjadi pengasuh anak – anaknya. Entah kenapa aku sangat sedih, air mataku mengalir. Mengapa aku dilahirkan sebagai seorang budak? Seorang budak begitu hina untuk mencintai seseorang, apalagi orang itu adalah tuannya.
Ku berjalan mendekati jendela yang terbuka. Bulan purnama bersinar begitu terang. Memandangnya membuatku tersadar, mencintai Tuan Aamir sama halnya dengan keinginan merengkuh rembulan. Aku ingin menjadi pendamping hidup Tuan Aamir. Selama ini aku selalu melayani kebutuhannya. Setelah beliau menikah akan ada seorang istri yang mendampinginya dan aku harus menyingkir. Memikirkan ini semua membuat hatiku terluka. Kepalaku sedikit pusing. Aku memutuskan untuk tidur agar hatiku tentram setidaknya untuk saat ini.
*
Pagi hari setelah memakan sepotong roti aku bersiap – siap mendampingi Tuan Aamir melanjutkan perjalanan. Tuan Aamir sendiri sudah berdiri memunggungiku. Beliau bersiap – siap naik ke atas unta sementara aku segera memegang tali unta yang diserahkan penjaga penginapan padaku.
“Maaf. Apakah ada pasar di dekat sini?” tanya Tuan Aamir pada seorang lelaki tua penjaga penginapan.
“Ya. Anda lurus ke depan dan 2 kilometer lagi bertemu pasar yang cukup ramai,” ujar pria tua itu.
“Lalu bila saya hendak ke Khasmir harus ke arah mana?” tanya Tuan Aamir.
Aku terkejut, hendak kemana Tuanku ini? Bukankah tempat tujuannya bukan ke Khasmir?
“Dari pasar silahkan menempuh jalur kanan. Anda akan menemukan desa. Khasmir sangat jauh, sekitar 5 hari perjalanan. Anda harus menyebrang laut terlebih dahulu,” ujar pria tua tadi begitu yakin.
“Baiklah, terimakasih. Assalamualaikum,” kata Tuan Aamir sembari tersenyum dan sedikit membungkukkan badan.
“Waalaikumsalam warohmatullahiwabarokatuh,” jawab penjaga penginapan.
*
Kami melewati sebuah pasar, tepat seperti yang dikatakan pria tua penjaga penginapan. Tuan Aamir menunjuk seorang pria berjanggut tebal yang tengah berteriak – teriak menawarkan kudanya untuk orang yang mau membelinya.
“Assalamualaikum,” sapa Tuan Aamir pada pria berjanggut tebal.
“Waalaikumsalam,” jawab pria itu.
“Apakah kudamu dijual?” tanya Tuan Aamir.
“Ya Tuan,”
“Bolehkah aku menukarnya dengan untaku?” tanya Tuan Aamir lagi.
“Tentu saja,” pria itu gembira. Lalu Tuan Aamir turun dari unta dan menyerahkan tali kekangnya pada pria berjanggut tebal.
“Tuan, untuk apa membeli kuda?” tanyaku bingung.
“Kita membutuhkannya supaya cepat sampai di Khasmir,” jawab Tuan Aamir setelah mendapatkan kuda hitam yang terlihat masih muda dan kuat itu.
“Untuk apa kita ke Khasmir? Dari sini kita harus menuju timur Baghdad,”
“Tidak. Aku tidak ingin kesana. Naiklah. Ini perintah,” tuan Aamir memberikan tangannya agar aku dapat naik dengan mudah ke punggung kuda. Walaupun  ragu aku segera melaksanakan perintahnya.
Tanpa mengatakan apapun,beliau naik ke atas punggung kuda tepat duduk di belakangku. Jantungku berdebar kencang. Ia kemudian memacu kudanya dengan kencang menjauhi keramaian orang – orang di pasar.
Hari semakin siang. Kami semakin jauh dari Baghdad. Hingga tiba di sebuah danau, Tuan Aamir menghentikan kudanya. Beliau membantuku turun dari kuda.
Tuanku yang bertubuh tegap mencuci muka dan meminum air danau, sementara aku terus memandanginya dengan perasaan campur aduk.
“Ada apa, Zaidah?” tanya Tuan Aamir.
“Tuan, kita hendak kemana?” tanyaku.
“Kita akan pergi jauh dari Baghdad. Lupakanlah semua yang telah terjadi di Baghdad,” kata tuan Aamir. “Jangan lagi memanggilku dengan sebutan ‘Tuan’,”
“Tapi hamba tidak mengerti,” aku semakin bingung.
“Aku ingin memulai kehidupan yang baru bersama gadis yang kucintai. Tanpa peduli status sosial dan hidup dengan damai,” tuan Aamir menyentuh cadarku dengan lembut. Matanya memancarkan kasih sayang.
Aku sungguh tak percaya. Airmataku mengalir namun aku tak sanggup mengatakan apapun. Kupandangi wajah Tuan Aamir yang begitu teduh. Aku tak peduli, aku akan terus memandangnya seperti ini.
“Aku mencintaimu, Zaidah. Kau telah begitu lama mendampingiku dan aku tak menginginkan apapun lagi,”
Aku menghambur memeluk Tuan Aamir. Pria yang sangat kucintai.
“Aku rela pergi kemanapun selama bersamamu,” akhirnya aku dapat mengatakannya setelah 15 tahun memendamnya.
Kurasakan Tuan Aamir juga menangis tetapi bukan karena sedih, melainkan bahagia. Akhirnya ku dapat merengkuh rembulan. Kami segera melanjutkan perjalanan menuju Khasmir, tempat dimana kehidupan yang baru menanti kami berdua.
SELESAI


Jumat, 01 Juni 2012

Enide, Merindukan Kehidupan

Diposting oleh Ken Mercedez di 13.11.00 6 komentar
 Jika tidak ada yang dapat kulakukan lagi, lebih baik aku mati. Ada dan tiadanya diriku takkan berpengaruh pada siapapun...


“Saya sarankan Anda untuk melakukan kemoteraphy. Kanker anda sudah menyebar dan akan semakin sulit ditangani nantinya,”
“Tidak, Dok. Biarkan saja,” jawabku lunglai.
“Anda harus optimis, jangan menyerah dulu. Kami akan melakukan semampu kami untuk menyelamatkan Anda,” Dokter Ana menyemangatiku walau sebenarnya itu tak ada gunanya. Ini yang kuinginkan, segera enyah dari muka bumi ini.
“Permisi Dok, saya teringat suatu urusan yang penting,” aku berusaha tersenyum walau kaku. Lalu aku berbalik dan membuka kenop pintu.

Aku berjalan keluar dari rumah sakit. Sungguh, aku benci tempat ini. Aku tidak akan datang kemari lagi. Aku terus menyusuri jalan, hingga aku menyadari semakin jauh aku berjalan menjauhi Rumah Sakit Bougenvil. Sekarang kakiku membawaku ke sisi kanan jembatan besar. Orang – orang mengagumi jembatan indah yang dibawahnya berbaring sungai Seine yang indah.

Mademoiselle, apakah kau mau bunuh diri disini?” seorang pria mengagetkanku. Ia tiba – tiba sudah berdiri di belakangku dengan tangannya menarik lenganku.
Quoi?” tanyaku terkejut.
Pardon moi, saya kira Anda hendak melompat dari jembatan ini,” kata pria itu lagi.
“Tidak, aku hanya ingin melihat sungai Seine saja,” jawabku datar.
“Oh, maafkan aku. Aku sungguh bodoh. Mana mungkin gadis semuda dan secantik Anda bisa bunuh diri,” pria itu garuk – garuk kepala.
Sayang sekali dia tidak tahu, aku sudah mencoba banyak cara untuk mengakhiri hidupku. Aku pernah mengiris ulu nadiku, minum obat berlebihan, melompat ke sungai pun pernah. Namun semuanya tidak ada yang berhasil. Akhirnya aku menyerah, dan Tuhan mulai mendengar doaku. Ia memberiku penyakit Leukimia dan sebentar lagi aku akan menghilang dari dunia ini dengan sendirinya.
“Boleh ku tahu siapa namamu?” tanya pemuda itu memecah lamunanku.
“Enide,” jawabku singkat.
“Nama yang bagus sekali,” puji pemuda itu. “Namaku Francoeur,”
“Hati yang jujur,” gumamku.
Pardon?”
“Namamu, Francoeur Hati yang jujur,” jelasku.
“Kau mau kemana, Mademoisell? Biar aku mengantarmu,”
Just call me, Enide,” kataku. “Aku tidak tahu, mungkin aku akan pulang ke rumah,”
“Sayang sekali pagi seperti ini kau habiskan hanya untuk minum teh di rumah. Bagaimana kalau kita berkeliling saja, Enide?” Francoeur menawariku tumpangan di vespanya. Ia menyodorkan helm kuning padaku.
“Tidak, Mercy. Aku pulang saja,” aku tersenyum tipis.
“Ayolah, hari ini indah sekali. Aku ingin berjalan – jalan tapi tidak menemukan kawan. Mungkin kau bisa menemaniku,” Francoeur tersenyum riang. “Apa aku terlihat seperti penculik wanita?”
“Tidak,” jawabku. Oh Tuhan, hari ini aku banyak tersenyum karena pemuda asing ini. Biasanya aku menghabiskan hariku dengan merenung dan meratapi nasib. Jarang sekali aku tersenyum.
“Ayolah. Ini helm-mu. Cepat pakai atau kutinggal,” ia memasangkan helm itu ke kepala, sungguh tidak sopan. Tidak hanya itu, ia menarikku dan mendudukkanku di jok belakang vespanya. “Pegangan, kita akan ngebut di jalanan,”
“Ngebut? Dengan motor vespa?” tanyaku. Francoeur tidak menggubrisku. Ia malah mengegas motornya dan aku terpaksa memeluknya.
Pemuda ini mengingatkanku pada Papa. Punggungnya begitu hangat. Aku sering bersepeda dengan Papa saat berumur 13 tahun. Kami berkeliling kota Paris, lalu berhenti di sebuah taman. Mama menungguku dan Papa sambil mengoleskan selai stroberi pada roti. Ketika aku datang, beliau melambaikan tangan. Kami makan bersama sambil memandangi menara Eiffel dari kejauhan. Oh, aku hampir lupa saat terindah dalam hidupku, ketika Papa dan Mama masih hidup dan menemaniku.
“Kau menangis?” tanya Francoeur setengah berteriak. Suaranya terdengar samar diantara angin dan derum kendaraan di jalanan.
Oui. Bagaimana kau tahu?”
“Aku tahu, airmatamu membasahi punggungku,” katanya setengah berteriak lagi.
Aku segera meregangkan tubuh. Kupandangi kaos yang menempel di punggung Francoeur basah karena airmataku.
“Maafkan aku. Nanti akan kucuci,” aku mengusap - usap punggung pemuda jangkung itu.
“Tidak usah, aku baik – baik saja,” Francoeur membelokkan vespanya ke sebuah taman yang bernama Marigny Square. Ia memarkir motor dan membantuku melepas helm.
“Sepertinya kita bisa bersahabat,” Francoeur memandang wajahku, membuatku malu.
“Ehm, itu kalau kita bisa bertemu lagi,” gumamku. Aku tidak tahu mengapa tiba – tiba aku berkata demikian, pasti ia bertanya – tanya apa maksudku.
“Tentu saja bisa. Tiap hari aku akan menemuimu,” jawab Francoeur, membuatku terkejut. Apa lelaki ini sudah gila? Kenapa ia terlihat begitu tertarik padaku, atau aku hanya ke-GR-an saja?
“Enide, aku selalu kesepian. Aku hidup sebatang kara. Tapi begitu melihatmu tadi, rasanya aku ingin selalu bersamamu. Aku bahkan tidak tahu kenapa. Rasanya sangat damai,”
“Bagaimana kau bisa merasa damai bersamaku? Sedangkan aku tidak punya hasrat untuk hidup,” kataku sambil menatapnya. Ia lebih tinggi dariku. Matanya yang berwarna biru dan rambutnya yang berwarna kecoklatan membuatku tak bosan menatapnya.
“Kau tahu arti dibalik namamu?” Francoeur malah mengalihkan pembicaraan.
Aku hanya diam. Nama ini pemberian orang tuaku, tapi aku belum sempat bertanya apa artinya saat mereka masih ada di sisiku.
“Enide berarti jiwa. Jadi rasanya aneh kalau kau tidak punya semangat hidup,” Francoeur mengernyitkan dahi seolah berpikir. “Mungkin kau jiwa yang kosong,” ia mencoba bercanda, tapi itu tidak lucu.
“Francoeur, aku juga hidup seorang diri sejak orang tuaku meninggal akibat kecelakaan pesawat,” ujarku.
“Lalu sejak saat itu kau tidak ingin hidup?” tebaknya.
“Ya,”
“Kau berpikiran sempit, Enide. Lihatlah, dunia ini masih menerimamu. Kau masih bisa menikmati hembusan angin, memandang dedaunan yang hijau, sungai Seine yang indah, Marigny Square dan Eiffel,” Francoeur berputar – putar sambil merentangkan tangan. “Kau berada di surga. Bayangkan begitu banyak orang yang ingin datang kemari, dan kau beruntung terlahir disini,”
Dia benar. Aku bahkan tak pernah menyadari itu.
“Ajari aku mengenal kehidupan ini, Francoeur,” kataku. Senyumku merekah, aku telah menemukannya, penyelamatku dari jurang keputusasaan.

Selesai
*mohon kritik dan saran Kawand^^

Jumat, 25 Mei 2012

Try to Make Danbo

Diposting oleh Ken Mercedez di 22.40.00 0 komentar
Hai hai...

Rasa keingintahuan membuatku semangat bikin Danbo. Tutorialnya pake bahasa inggris, gambarnya juga ribet. Males banget mau ngikutin berdasarkan step-nya. Akhirnya bikin dengan ngawur - ngawuran deh. Hehehe

Hasilnya? Seperti ini:






Harap maklum ya, masih pemula jadi masih gak terlalu apik. :p

Jumat, 18 Mei 2012

My Kitties

Diposting oleh Ken Mercedez di 23.25.00 2 komentar
Kucingku yang super Unyu, hehe... Pochil kini sudah punya anak, jadi aku sering panggil dengan sebutan "Mama Pochil". Awalnya Mama Pochil punya anak 7!!! Tapi perlahan mati satu per satu dan menyisakan 4 ekor anak. Kasihan. Tapi maklum, Mama Pochil kawinnya sama beda ras, Pochil si Kucing Persia menjalin hubungan terlarang dengan kucing kampung milik tetanggaku. Walhasil anaknya ada yang cantik, setengah cantik, sampai jelek. xixixi

Dari ke-4 anak kucing itu, hanya 2 yang ku rawat. Namanya Boni-Chil dan Mochil. Boni kucing jantan, sedangkan Mochil kucing betina. Tapi Boni penakut banget, digendong teriak - teriak dan suka nyakar! Tanganku udah banyak jadi korban, sampai seperti orang stres menyayat tangan sendiri, padahal aku hanyalah 'korban'.

Beda dengan Boni, Mochil lebih berani dan pendiam, tapi gesit banget! Mochil jarang nyakar. Tapi kalo Boni ngompor - ngomporin, akhirnya aku dicakar juga deh.... u.u

Trus, yang 2 kemana? Yang 2 diambil orang. Hahaks. 1 diambil temanku, satunya lagi diambil tanteku. Tapi Mama Pochil santai aja tuh anaknya ilang 1 per 1. Malah Mama Pochil sibuk menggemukkan badannya yang kembali kurus pasca melahirkan. Tapi pola makannya berubah. Sekarang dia pengennya makan apa yang dimakan manusia. Roti, Sosis, ikan, santan, kelapa parut, apa aja dehhh.... Tapi kalo buah2an yang seger - seger dia gak suka.

Mau intip fotonya? Ini dia. Tadaaaa!!!!!



Mama Pochil


Boni, Teroris Kecil


Boni waktu main bajuku



Boni umur 1 bulan


  Waktu masih bersama, umur 1 bulan

Sementara itu dulu deh fotonya. Tunggu koleksi berikutnya ya! :p

Anyyeong! ^^

Rabu, 16 Mei 2012

Me Too, Flower (16 Episode)

Diposting oleh Ken Mercedez di 12.09.00 0 komentar

Ini drama Korea yang Ken suka, nontonnya pun dengan penuh antusias tanpa dicepet – cepetin. Hahaks...


Cha Bong Sun (Lee Ji Ah) adalah seorang Polwan yang galak. Ia hidup seorang diri dan kesepian. Suatu hari ia bertemu seorang pemuda bernama Seo Jae Hee (Yoon Shi Yoon) dan bertengkar kecil dengannya. Tidak disangka pemuda itu bekerja sebagai tukang parkir di sebuah butik besar bernama Perche yang lokasinya berdekatan dengan kantor polisi tempat Cha Bong Sun bertugas. Kontan keduanya sering bertemu dan bertengkar tentunya.


Benci dan cinta itu bedanya tipis. Mereka akhirnya jatuh cinta. Tetapi Park Hwa Young atau Nyonya Park (Han Go Eun) adalah sosok wanita yang rapuh dan membutuhkan sosok Jae Hee dalam hidupnya. Ia berusaha menghalangi  Jae Hee dan Petugas Cha bersatu. Oleh karena itu, ia membongkar penyamaran Jae Hee yang ternyata bukan sekedar tukang parkir, melainkan pendiri Butik Perche! Ia juga menyogok Kim Dal (Seo Hyo Rim) yang merupakan adik tiri Petugas Cha untuk menghancurkan hubungan mereka berdua.
Kim Dal yang terobsesi menjadi wanita kaya menerima tawaran Nyonya Park. Namun setelah tahu Jae Hee kekasih sang kakak, ia merasa bersalah dan membongkar rahasia Nyonya Park pada Jae Hee.




Drama korea ini romantis banget, mengharukan, tapi juga lucu abis. Gak nyesel deh nonton dramanya. Sangat direkomendasikan oleh Ken Mercedez! :D






 

Lakshya लक्ष्य (Tujuan)

Diposting oleh Ken Mercedez di 11.51.00 0 komentar

Kenapa Ken review film India? Karena Ken suka film India (tapi kalo yang main pemain2 muda jaman sekarang gak suka ah, terlalu kebarat - baratan dari segi busana hingga jalan ceritanya). So, Ken mau bagi resensi film tahun 2004 ini (lumayan jadul). Judulnya Lakshya. Cekidot!

Karan (Hritikh Roshan) adalah pemuda yang tidak pernah memikirkan masa depan karena ia tidak punya tujuan yang pasti. Ia memiliki kekasih Romi (Preety Shinta) yang merupakan aktivis kampus dan terobsesi menjadi seorang Reporter. Orang tua Karan selalu membandingkannya dengan sang kakak yang berbakti dan bermasa depan cerah.
Suatu hari teman Karan ingin menjadi tentara. Bingung menentukan tujuan, Karan ikut – ikutan masuk tentara padahal temannya yang menjadi panutan tidak jadi masuk tentara karena dilarang orang tuanya. Karan menjadi goyah, tetapi Romi selalu memberinya semangat. Hingga di akademi tentara, Karan tidak serius menjalani kewajibannya dan selalu dikenai hukuman. Merasa tidak betah, Karan kabur di tengah malam. Tindakannya ini menuai kemarahan orang tuanya dan kekecawaan Romi. Gadis itu memutuskan hubungan mereka karena tidak ingin memiliki kekasih seorang pecundang. Dari sinilah Karan merenung dan memutuskan untuk serius menjalani kewajibannya, ia selalu ingat perkataan Romi yang menyebutnya pecundang. Karan ingin membuktikan pada Romi bahwa ia bisa menjadi yang terbaik. Karan kembali ke akademi dengan penuh keseriusan dan berani menanggung konsekuensi karena pernah kabur. Ia menjalani semua hukumannya dengan tegar. Setelah lulus dan menjadi tentara, Karan hendak menemui Romi. Sayang, gadis itu telah bertunangan dengan orang lain. Karan pun patah hati dan berniat melupakan Romi.
Beberapa tahun kemudian, Karan ditugaskan di daerah perbatasan India yang sedang rawan. Ia bertemu Romi yang bertugas sebagai reporter disana. Semula Karan menjauhi Romi karena gadis itu telah memiliki tunangan, padahal Romi memutuskan tunangannya karena terlalu banyak diatur. Selalu bertemu membuat cinta lama mereka bersemi kembali. Karan dan Romi bersatu kembali, tetapi ia harus menunaikan tugasnya membela tanah air. Karan meninggalkan Romi untuk berperang melawan musuh. Ia membawa kemenangan untuk negaranya dan kebanggaan untuk dipersembahkan bagi Romi dan kedua orang tua Karan.
Film ini bagus sekali. Sangat menggugah rasa, tentang menentukan pilihan, jati diri, dan kecintaan pada tanah air. Menontonnya akan membuat kita merasa semakin hanyut karena film ini berdurasi 3 jam! Wow! Selamat menonton. :D

Selasa, 15 Mei 2012

Rab Ne Bana Di Jodi (Jodoh dari Tuhan)

Diposting oleh Ken Mercedez di 16.32.00 5 komentar
Ken suka banget film India yang 1 ini.


Surinder Sahni (Sharukh Khan) adalah seorang pria pendiam, pemalu, tetapi pintar. Gayanya kebapakan banget. Awal nonton, Ken sempat gak nyangka dia Sharukh Khan soalnya culun banget. Surinder atau dipanggil Suri merupakan mahasiswa kesayangan dosennya. Ia jatuh cinta saat pertama kali bertemu dengan Taani (Anuskha Sharma) di acara pernikahan gadis yang merupakan putri dosennya itu. Malang, calon suami Taani meninggal dalam kecelakaan saat hendak menuju rumah Taani. Karena syok, ayah Taani terkena serangan jantung. Sebelum meninggal, beliau khawatir Taani akan hidup sendirian, oleh karena itu beliau meminta Suri menikahi Taani walau gadis itu tengah berduka.
Pernikahan mendadak itu tentu saja tidak siap dijalani Taani. Ia pun dingin pada Suri. Taani mengatakan ia akan menjadi istri berbakti tetapi tidak bisa mencintai Suri.
Suatu hari Taani ingin mengikuti latihan kontes tari. Karena melihat Taani bersemangat, maka Suri pun mengijinkannya. Suri ingin melihat istrinya menari, ia kemudian menyamar menjadi sosok yang tampan dan trendy dan diam – diam mengamati istrinya. Namun pelatih tari mengira ia juga kontestan sehingga diikutkan menari dan tanpa sengaja berpasangan dengan Taani. Merasa lebih dekat dengan Taani setelah berpenampilan trendy, Suri memutuskan untuk menyamar sebagai Raj yang banyak omong, suka merayu, dan menjengkelkan. Tapi hal itu justru membuat Taani jatuh cinta hingga ia ingin pergi bersama Raj meninggalkan Suri.




Suri merasa terpukul mengetahui istrinya lebih menyukai dirinya sebagai orang lain. Cinta memang butuh pengorbanan, ia rela membawa Taani pergi sebagai Raj dan menjalani kehidupan palsu. Raj kemudian merencanakan kepergiannya bersama Taani setelah kontes final Lomba Tari. Sebelum hari H tiba, ia sebagai Suri mengajak Taani pergi ke tempat ibadah untuk berdoa sebelum melakukan sesuatu yang besar. Ketulusan hatinya membuat Taani sadar di saat ia benar – benar terpuruk, yang ada di sisinya adalah Suri dan bukanlah Raj yang bukan siapa – siapa. Taani membatalkan kepergiannya bersama Raj, hal ini membuat Suri terenyuh.
Ia hadir di final kontes tari sebagai dirinya sendiri dan menari bersama Taani. Semula Taani tidak yakin Suri bisa menari, tetapi gerakan – gerakan tari Suri sangat fasih dan sama persis dengan Raj. Akhirnya ia tersadar akan ketulusan cinta suaminya yang sampai rela menyamar menjadi orang lain untuk menunjukkan besar cintanya pada sang istri. Suri menemani dan menjaga Taani setiap hari walaupun sebagai orang lain sekalipun. Ken suka saat Taani bilang pada Suri, “Betapa mudahnya kamu balikkan
semua kesedihanku jadi kegembiraan. Semua air mataku jadi tawa. Aku tidak memberimu setetes cinta dan kau terus menghujaniku dengan cintamu”.

 
Film ini romantis banget dan menghanyutkan. Pesan moralnya, Ketampanan tidak bisa membeli Cinta Murni. Hanya cinta tulus dari hatilah yang dapat membuat kita bahagia. Hanya dengan melihat orang yang kita cintai tersenyum, bahkan nyawa pun rela kita korbankan demi dirinya.

 Buat pecinta lagu - lagu Hindi, ada link sountrack film ini. Bagus - bagus lho!





Kamis, 10 Mei 2012

Romantic Song: Beautiful Girl by Jose Mari Chan

Diposting oleh Ken Mercedez di 23.52.00 2 komentar
Ada satu lagu yang menurutku romantis banget... Cekidot!

Beautiful girl, 
wherever you are 
I knew when I saw you, 
you had opened the door 
I knew that I'd love again
after a long, long while
I'd love again.  
You said "hello" and I turned to go  
But something in your eyes left my heart beating so 
I just knew that I'd love again after a long, long while I'd love again.  

Refrain : 
It was destiny's game 
For when love finally came on  
I rushed in line only to find
That you were gone.  
Whenever you are, 
I fear that I might  
Have lost you forever like a song in the night  
Now that I've loved again after a long, long while I've loved again. 
*Repeat Refrain 
Beautiful girl, I'll search on for you  
'Til all of your loveliness in my arms come true  
You've made me love again after a long, long while In love again  
And I'm glad that it's you  
Hmm, beautiful girl.

Sabtu, 05 Mei 2012

Kidung untuk Mbok Par I

Diposting oleh Ken Mercedez di 08.43.00 4 komentar
Di tengah malam, hujan turun begitu lebat. Suara air alam yang berjatuhan membuat malam tak lagi sepi. Di sebuah rumah, perjuangan menanti sebuah kelahiran tengah berlangsung. Seorang ibu tengah bertarung dengan maut demi melahirkan seorang putra.
“Ayo Nyah, kurang sedikit lagi,” seru seorang wanita paruh baya memegang erat tangan wanita yang sedang bertarung dengan maut itu.
Wanita itu berusaha sepenuh tenaga, keringat mengucur dengan deras di dahi, leher, bahkan tangannya pun basah oleh keringat hingga kemudian senyuman mengakhiri ketegangan malam itu.
“Nyah, selamat atas kelahiran putri pertama Nyonyah,” wanita paruh baya itu bersemangat, ia sangat gembira sembari mengelap peluh di tubuh majikannya. Bidan pun tengah membersihkan tubuh si bayi yang baru saja lahir.
“Putri? Hah... hah... hah...” tanya wanita cantik itu sambil terengah – engah. “Ku pikir laki – laki. Hah... hah... hah...”
“Tapi putri Nyonya akan tumbuh menjadi wanita secantik Nyonyah,” hibur si wanita paruh baya.
“Masa bodoh... hah.. hah...” kata majikannya acuh. “Setelah ini Mbok Par saja yang urus bayi itu, waktu saya sudah banyak terbuang karna bayi itu,”
Wanita yang disapa Mbok Par itu terdiam. Ia menyimpan kekecewaan pada majikannya sekaligus iba pada bayi perempuan yang baru saja lahir itu. Dalam hati ia bertekad tidak akan pernah membuat bayi itu sedih, ia sendiri yang akan selalu mencurahkan kASIh sayangnya sedalam lautan pada bayi malang itu.
*
“Namanya Kinanti. Sudah, cepat bawa pergi. Tangisannya bisa buat telinga saya pecah,” kata Miranda, sang Nyonya besar yang sangat cantik dan elegan.
“Tapi bayi itu, maksud saya Kinanti belum minum ASI Nyah,” ujar Mbok Par sambil menggendong bayi yang tengah menangis.
“Saya kan sudah beli susu formula, Mbok,” Miranda menahan geram sambil menaburkan bedak di pipinya yang lembut. Ia tengah bersiap – siap untuk menghadiri sebuah acara yang diperuntukkan bagi orang – orang kelas jetset. “Dengar ya, mulai sekarang saya tidak mau dengar keluhan apapun tentang Kinanti. Saya sangat sibuk, kamu kan sudah saya kASIh kepercayaan untuk mengurusnya,” lanjutnya.
Mbok Par terdiam. Ia undur diri sambil terus menina-bobokan Kinanti si bayi mungil yang tengah menangis. Ia terus berjalan melewati taman yang dipenuhi hiasan – hiasan bunga indah. Mbok Par pernah melihat di acara televisi kalau bayi baru lahir lebih baik menerima ASI daripada susu formula. Terbesit dalam hatinya untuk memberikan ASI kepada Kinanti. Ia sendiri baru saja melahirkan seorang bayi perempuan satu bulan yang lalu. Namun malang anak semata wayangnya itu meninggal karena terserang panas berkepanjangan. Di awal usia 40 tahunnya itu, sang adik menawarinya bekerja di sebuah keluarga kaya tempatnya sekarang berada. Mbok Par yang hidup sendirian di desa akhinya menerima tawaran tersebut untuk mengusir sepi dan kesedihan yang mewarnai hidupnya.
“Kalau Nyonyah tidak mau memberikan kasih sayang, bahkan ASI pada anak ini, maka aku saja yang menggantikannya. Mungkin Gusti Allah memberiku ganti atas kematian Sari. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan dari Gusti Kuasa,” batin Mbok Par.
Mulai hari itu Mbok Par memberikan ASI eksklusif pada Kinanti kecil secara sembunyi – sembunyi. Ia merawat Kinanti dengan penuh kasih sayang, bahkan ia tak pernah mengeluhkan apapun lagi majikannya yang super sibuk dengan dunia kerja.
Berbeda dengan Miranda, Antoni yang merupakan ayah kandung Kinanti ketika pulang dari luar negeri sebulan sekali selalu menanyakan kabar putri semata wayangnya itu. Ia belajar menggendong putrinya dan selalu mengirimkan mainan – mainan baru. Kamar Kinanti juga dihias dengan begitu cantik sesuai keinginan sang ayah.
“Apa Miranda pernah menggendong Kinanti?” tanya Antoni suatu hari pada Mbok Par.
“Belum pernah, Tuan,” jawab Mbok Par pelan.
“Sayang sekali,” pria bertubuh tegap berumur 30 tahunan itu murung. “Seharusnya ia sebagai ibu memperhatikan anaknya. Aku akan membujuknya lagi. Mbok Par tolong rawat bayi saya. Saya sangat bersyukur ada Mbok Par disini,”
“Tentu saja, Tuan. Saya akan selalu merawat Non Kinanti,” jawab Mbok Par senang. Setidaknya di keluarga ini masih ada yang menyayangi bayi mungil itu.
Mbok Par selalu mengingat kata – kata Antoni untuk merawat putrinya. Hingga Kinanti beranjak besar pun ia selalu mendekatkan Kinanti dengan figur sang ayah, sedangkan ia tidak berani mengusik banyak hal tentang Miranda.
*
Seorang gadis kecil  berusia 5 tahun turun dari mobil Honda Jazz hitam. Ia segera berlari menuju dapur rumahnya sambil menangis.
“Ibuuuuuuukkkkk,” serunya sambil memeluk tubuh besar Mbok Par.
“Ibu siapa Non?” Mbok Par terkejut.
“Ibu kenapa gak dateng ke sekolah? Cuma Kinan yang gak didampingi ibu waktu mewarnai tadi. Huhuhu,” Kinanti menangis dan memukul – mukul Mbok Par.
Mbok Par terkejut, rupanya Kinanti mengartikan dirinya sebagai ibunya. Baru kali ini Kinanti memanggilnya ibu, padahal sehari – hari selalu memanggilnya ‘Mbok Par’. Sesungguhnya hati kecil wanita paruh baya ini begitu bahagia, tapi apa jadinya nanti bila Kinanti selalu memanggilnya Ibu? Lalu bagaimana dengan perasaan majikan perempuannya?
“Non Kinan, Mbok Par kan sudah bilang, ibu Non Kinan itu Nyonyah Miranda. Mbok Par cuma pengasuh Non aja. Mbok sudah bilang sama Nyonyah kalau Non hari ini ada kegiatan lomba mewarnai. Tapi Nyonyah tadi terjebak macet,” terang Mbok Par. Sebenarnya ia memang sudah mengatakan pada Miranda tentang Lomba Mewarnai di TK. Padu tempat Kinanti bersekolah, tapi Miranda berkilah ia banyak urusan kantor yang belum terselesaikan.
“Mbok Par jahat! Aku gak peduli sama Mama, aku pengennya Mbok Par yang dateng ke sekolah,” Kinanti terus memukuli Mbok Par sambil menangis.
“Iya Non, nanti Mbok Par dateng deh kalo Non ada acara lagi. Sekarang Non jangan nangis terus,” hibur Mbok Par.
“Janji ya harus dateng lain kali?” tanya Kinanti sambil sesengukan.
“Janji Non,” kata Mbok Par.
“Ya udah aku percaya. Awas lho ya!” Kinanti mengusap matanya kemudian pergi ke kamarnya.
Di ruang tengah Kinanti berpapasan dengan Miranda yang sedang sibuk memasukkan dokumen – dokumen ke dalam tas kantor, karena terburu – buru salah satu dokumennya jatuh terselip di bawah meja tanpa sepengetahuannya. Kinanti segera mengambil dokumen itu.
“Mama, bukunya ketinggalan,” Kinanti berlari menghadang langkah ibunya.
“Oh iya. Makasih ya,” Miranda mengambil dokumen itu dari Kinanti. Kemudian ia menghentikan langkahnya sejenak lalu mengamati wajah putrinya. “Kalau sudah besar, kamu harus seperti Mama. Pakai baju kantor seperti ini, bawa buku – buku seperti ini ya,” ia kemudian mengusap kepala anaknya lalu pergi.
Kinanti hanya terdiam. Ia berpikir, apa enaknya jadi orang yang serba terburu – buru? Ia sama sekali tidak tertarik menjadi seperti ibunya.
*
11 tahun kemudian...
“Mbok Par, Mbok... Dasiku dimana?” Kinanti mencari Mbok Par di dapur. Ia melihat Mbok Par terbatuk – batuk sambil memukul – mukul dadanya. “Mbok masih belum sembuh ya?”
Mbok Par hanya menggeleng – gelengkan kepala sambil terus memukuli dadanya.
“Ayo kita ke dokter,” Kinanti memapah tubuh renta Mbok Par.
“Non sekolah aja. Katanya sekarang pemilihan Ketua OSIS,”
“Nggak, kita sekarang ke dokter,” Kinanti bersikeras.
“Aduh Non, Mbok gak apa-apa. Nanti bisa ke dokter dianterin supir. Non sekolah aja. Mbok dukung Non jadi ketua OSIS. Jangan kecewain Mbok ya,” kata Mbok Par.
“Nggak, kita ke dokter,” jawab Kinanti kukuh. “Pak Aji, ayo kita bawa Mbok Par ke dokter,” kata Kinanti. Pak Aji yang lagi asik menonton bola pun turun untuk membantu Kinanti membopong Mbok Par.
“Adudududuh, Mbok gak kenapa – kenapa Non. Ayolah Non, jangan buat Mbok kecewa. Non sekolah aja ya?” Mbok Par memohon.
“Kesehatan Mbok yang paling utama. Jadi kita ke dokter aja,”
“Non ke sekolah aja, kan ada saya Non,” kata Pak Aji menimpali.
“Ke sekolah aja ya Nak, jangan kecewakan Mbok Par,” bujuk Mbok Par lagi.
Mendengar Mbok Par memanggilnya ‘Nak’, hati Kinanti terenyuh. Ia selalu ingin mendengar Mbok Par memanggilnya demikian. Matanya berkaca – kaca.
“Ya sudah, aku sekolah Mbok. Ini, Mbok bawa hapeku. Nanti kalau aku telpon harus Mbok angkat ya,” Kinanti menyerahkan ponselnya pada Mbok Par.
“Aduh, ini hape apa sih Non? Mbok gak ngerti pake Beri-beri,” keluh Mbok Par.
“Oh iya lupa. Ini, bawa yang ini aja,” Kinanti menyerahkan ponselnya yang merupakan keluaran lama.
“Kalo ini Mbok lumayan ngerti. Ya sudah, Non berangkat aja ke sekolah bawa mobil yang putih itu,”
“Kinan naik bus aja. Ini kan masih pagi juga Mbok,” Kinanti lalu berpamitan dan mencium tangan Mbok Par serta Pak Aji.
Melihat gadis cantik berambut panjang itu pergi, Mbok Par dan Pak Aji hanya tersenyum.
“Dia itu beda ya sama anak orang kaya lainnya,” ujar Pak Aji.
“Iya. Semoga aku masih bisa mendampinginya sampai dia menikah,” timpal Mbok Par.
“Ngomong apa sih kamu, Par. Dia itu gak bisa hidup tanpa kamu, cuma kamu yang dia sayangi setulus hati,” kata Pak Aji.
Mendengar perkataan Pak Aji, Mbok Par semakin senang. Semoga ia bisa terus mendampingi Nona Mudanya itu hingga tua nanti.
(Bersambung)


Jumat, 04 Mei 2012

LOMBA FTS NARSIS UNLIMITED: NARSIS ANTI GALAU BIKIN HIDUP HAPPY TANPA ENDING

Diposting oleh Ken Mercedez di 16.26.00 0 komentar
DL: 15 JULI 2012

Tema: "NARSIS UNLIMITED: Narsis Anti Galau Bikin Hidup Happy Tanpa Ending"

GRATIS untuk umum dan anggota Writing Revolution.

  • 30 Nominasi FTS Narsis Unlimited dibukukan, cetak nasional (masuk Gramedia) dan masing-masing mendapat 1 buku tanda terbit. (Tanpa membayar sepersen pun malahan mendapatkan royalti 10% dari harga jual buku).
  • Total hadiah lomba Rp 1 juta (bisa bertambah jika mendapat sponsor tambahan).

Syarat dan Ketentuan:
  1. Terbuka untuk Umum dan anggota Writing Revolution, GRATIS.
  2. Tulisan diangkat dari kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulis, atau kisah orang lain (seperti teman, sahabat, saudara, kenalan dan lain-lain). Ditulis dengan gaya bercerita yang mengalir dan bisa mengundang tawa dengan gaya bahasa populer yang mudah dipahami.
  3. Setiap peserta hanya boleh mengikutkan 1 tulisan terbaiknya, yang belum pernah dipublikasi di media online (seperti situs, FB, atau Blog) atau tidak diikutkan dalam lomba lainnya dan ditulis pada masa lomba (27 April-15 Juli 2012).
  4. Panjang tulisan 2-3 halaman, spasi 1,5, kertas A4, jenis huruf TNR ukuran 12, margin 3 cm atau 1,18 inci semua sisi. Tulis biodata narasi di bagian akhir FTS-nya, panjang maksimal 100 kata.
  5. Tulisan dikirim dalam LAMPIRKAN FILE (Attach File) ke email: Antologi_WR@yahoo.co.id
  6.  Tulis di judul email: FTS NARSIS UNLIMITED: JUDUL TULISAN-Nama Penulis.
  7.  Sebarkan informasi ini di note FB minimal tag 20 teman dan bisa diposting di Blog kamu.
  8. Peserta diharapkan menampilkan gambar cover buku "Narsis Unlimited" sebagai profile picture FB-nya minimal selama satu minggu, sebagai tanda keikutsertaannya dalam event ini. Kemudian tag pada foto tersebut koordinator lomba FB: Rurin Kurniati dan Lomba-Narsis WR. Untuk mendapatkan gambar cover buku "Narsis Unlimited" klik di sini: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=288739517881784&set=a.117487305007007.30735.100002372143255&type=1&theater          (kemudian gambar diklik kanan lalu pilih "Simpang Gambar sebagai..." lalu pindahkan ke leptop atau komputer kamu). 
  9.  Jika ada pertanyaan silakan hubungi koordinator lomba: Rurin Kurniati.


Hadiah:
  • Juara I: Uang tunai Rp 500.000,- (ditambah 3 buku bukti terbit + e-sertifikat).
  • Juara II: Uang tunai Rp 300.000,- (ditambah 3 buku bukti terbit + e-sertifikat).
  • Juara III: Uang tunai Rp 200.000,- (ditambah 3 buku bukti terbit + e-sertifikat).
  • 3 Juara Harapan mendapat beasiswa Sekolah Menulis Cerpen Online (SMCO) Writing Revolution (ditambah 2 buku bukti terbit + e-sertifikat).

*Hadiah bisa bertambah jika ada tambahan sponsor lainnya.

Sebagai contoh penulisan FTS Narsis yang renyah dan bisa bikin ketawa silakan baca buku "Narsis Unlimited" yang sudah bisa dibeli Gramedia dan toko buku kesayangan Anda (pertengahan Mei sudah beredar di seluruh Gramedia).
Atau, bisa membeli langsung kepada kami, harga order: Rp 35 ribu (tebal vii+155 hlm) sudah termasuk ongkos kirim seluruh Indonesia. Order melalui sms: 085763208009.

Catatan:
*Update peserta, pengumuman nominator dan pemenang di Grup Zona Narsis Unlimited, atau klik: https://www.facebook.com/groups/narsisunlimited/

Sponsor:
  • Penerbit Writing Revolution.
  • Sekolah Menulis Cerpen Online (SMCO), info lebih lengkap silakan klik: http://writing-revolution.blogspot.com/

Jumat, 27 April 2012

Pendidikan Karakter Bangsa Sebagai Penunjang Perilaku Birokrat yang Berorientasi Kesejahteraan Sosial

Diposting oleh Ken Mercedez di 18.54.00 0 komentar

Karakter bangsa dalam antropologi (khususnya masa lampau) dipandang sebagai tata nilai budaya dan keyakinan yang mengejawantah dalam kebudayaan suatu masyarakat dan memancarkan ciri-ciri khas keluar sehingga dapat ditanggapi orang luar sebagai kepribadian masyarakat tersebut(Ade Armando, 2008 : 8).
Bangsa yang memiliki karakter baik diwujudkan dengan kebiasaan masyarakatnya yang senantiasa melakukan hal-hal yang baik. Karakter merupakan hal yang sangat penting bagi suatu bangsa karena karakter merupakan kombinasi dari kualitas-kualitas khusus masyarakatnya yang akan membuat bangsa tersebut berbeda dari bangsa-bangsa yang ada di dunia ini. Seseorang dapat dikatakan berkarakter apabila bertingkah laku sesuai dengan kaidah moral.
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai – nilai kesopanan, sehingga dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah. Selain itu bangsa Indonesia merupakan bangsa yang selalu bergotong royong, sehingga dapat dikatakan solidaritasnya kuat. Tidak semua bangsa di dunia memiliki karakter ini, tetapi bangsa Indonesia memilikinya sejak dulu.
Ketika Indonesia terdiri dari bermacam – macam kerajaan, disana telah terbentuk budaya – budaya yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. hal ini dibuktikan dengan penanaman budaya gotong royong membangun desa, menanam padi bersama, berburu bersama – sama, hingga menumbuk padi bersama. Ada suatu solidaritas yang tinggi di masyarakat Indonesia pada masa itu.
Di sisi lain, masyarakat Indonesia memiliki tingkatan bahasa. Dalam suku Jawa, dikenal tingkatan bahasa yang disebut ngoko, krama, dan krama inggil. Tingkatan bahasa ini digunakan untuk membedakan seseorang dari golongan usia. Tujuannya, agar seseorang yang lebih muda dapat menghormati orang yang lebih tua dan orang yang lebih tua dapat mengayomi orang yang lebih muda. Tingkatan bahasa ini sebenarnya tidak hanya berlaku di suku Jawa, karena pada realitanya suku – suku lainnya seperti suku Madura dan Sunda juga menerapkan hal yang sama. Hingga saat ini di masyarakat pedalaman juga menggunakan tingkatan bahasa yang hampir serupa. Untuk menghormati orang lain pun dilakukan dengan membungkukkan badan ketika lewat di depan orang lain, juga mengucapkan salam. Hal ini membuktikan bahwa sejak jaman dulu masyarakat Indonesia telah memiliki karakter yang baik.
Kemudian pada masa penjajahan Belanda, masyarakat Indonesia bersatu padu melawan penjajah dengan bersenjatakan bambu runcing saja. Kesederhanaan ini didasari dengan semangat juang tinggi sehingga mampu mengusir penjajah yang menggunakan senjata canggih pada masa itu.
Karakter bangsa Indonesia sudah sepatutnya dilestarikan. Pada masa pemerintahan Soekarno, dilakukan upaya pembangunan karakter atau National Building, dan pada masa Presiden Soeharto juga dilakukan P4 dengan tujuan melestarikan  karakter bangsa Indonesia pada generasi penerus bangsa.
Hingga saat ini pun pendidikan karakter ini juga dilestarikan dengan adanya pendidikan Pancasila. Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia yang merupakan pedoman hidup bangsa. Disini karakter bangsa Indonesia dirangkum menjadi lima sila yang harus melekat pada setiap pribadi bangsa Indonesia.
Pada sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa diajarkan bahwa dalam kehidupan ada Tuhan yang selalu mengawasi perilaku kita. Oleh karena itu kita diharuskan untuk selalu mematuhi perintah Tuhan dan menjauhi larangan – larangan-Nya.
Pada sila kedua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab memiliki pengertian bahwa manusia memiliki adab atau perilaku yang baik dan adil. Oleh karena itu untuk menjadi manusia yang baik diharuskan bersikap adil dan baik terhadap sesama. Selain itu disini juga dijunjung Hak Asasi Manusia (HAM).
Pada sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia menyatakan bahwa bangsa Indonesia harus selalu bersatu dan tidak bercerai berai. Persatuan harus selalu dijaga agar Indonesia menjadi negara yang kokoh.
Sila keempat yang berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan Pancasila”, memiliki arti bahwa rakyat dipimpin oleh pemimpin yang bijaksana. Disana rakyat diwajibkan untuk patuh, dan pemimpin yang berkuasa tidak boleh lupa pada rakyatnya. Hal ini dikarenakan untuk mengambil suatu keputusan, pemimpin harus selalu bermusyawarah dengan rakyat. Tujuannya agar rakyat sepakat dan mendukung pembangunan dengan semangat gotong royong. Sehingga kesepakatan yang diambil tidak merugikan rakyat dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Sedangkan pada sila kelima, Keadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia bertujuan untuk menciptakan keadilan yang tidak memihak dan tidak tidak berat sebelah. Negara Indonesia sebagai negara hukum harus bersikap adil dan mengayomi rakyatnya.
Apabila birokrat di Indonesia memahami nilai – nilai yang terkandung dalam Pancasila ini maka Indonesia akan menjadi negara yang makmur dengan rakyat yang kesejahteraannya terjamin. Pembangunan selalu didukung oleh semangat gotong royong rakyatnya.
Sayangnya di Indonesia saat ini, masyarakat mulai kehilangan jadi diri bangsa. Hal ini terjadi karena masuknya pengaruh asing yang menyebar cepat melalui perkembangan teknologi. Saat ini begitu mudahnya mempelajari budaya asing dengan menggunakan teknologi sehingga membuat masyarakat terbuai dan meninggalkan jati dirinya yang sesungguhnya.
Dimulai dari tunas – tunas bangsa, dari anak – anak hingga orang dewasa. Kini masyarakat semakin meninggalkan warisan nenek moyang kita. Anak – anak lebih suka mendengarkan lagu bernuansa percintaan daripada mendengarkan lagu daerah atau lagu – lagu nasional. Hal ini dapat menyebabkan anak – anak berpikir dewasa sebelum waktunya. Pada masa remaja mereka kemudian mencoba berbagai hal yang dianggap tabu. Mulai dari pergaulan bebas, mencoba budaya – budaya asing yang terangkum dalam gemerlap dunia malam. Disana mereka belajar mengenal budaya hedonisme yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. penyalahgunaan narkoba merajalela, tunas – tunas bangsa teracuni oleh hal – hal tidak berguna yang berujung pada kematian. Inspirasi – inspirasi kaum muda yang seharusnya dapat memajukan bangsa terputus oleh tali hitam dunia malam. Tak hanya tunas – tunas bangsa yang mulai terpengaruh budaya asing, orang – orang dewasa pun mengalami hal yang sama. Mereka kini disibukkan dengan suap menyuap dalam birokrasi, serta korupsi. Nilai – nilai kebersamaan digantikan oleh individualitas yang ingin menguntungkan diri sendiri dan tidak peduli pada nasib orang lain.
Contoh lain dapat kita temui di masyarakat perkotaan. Masyarakat di daerah perkotaan kini tidak saling mengenal dengan tetangga sendiri. Mereka yang hidup di perkotaan menjunjung tinggi privasi sehingga untuk sekedar menanyakan sesuatu dianggap melampaui privasi orang lain. Nilai – nilai gotong royong pun memudar, digantikan dengan individualitas. Selain itu, kepentingan – kepentingan sesaat yang ada pada pikiran orang dewasa membuat mereka lupa untuk mengajarkan budaya sopan santun pada anak – anak mereka. Hal ini menyebabkan kaum muda Indonesia menjadi kaum yang tidak memiliki toleransi dan sopan santun yang tinggi. Citra Indonesia sebagai bangsa yang ramah dapat tergantikan menjadi bangsa yang acuh.
Bangsa Indonesia sulit maju dengan kondisi masyarakat yang demikian. Nilai – nilai yang ditanamkan dari dulu semakin tergantikan dengan arus baru yang tidak sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia. Keadaan semacam ini tidak dapat dibiarkan begitu saja. Masyakarat harus disadarkan pada nilai – nilai Pancasila yang merupakan rangkuman budaya dan falsafah bangsa Indonesia. Pancasila yang merupakan pendidikan karakter sangat perlu diberikan kepada bangsa Indonesia sejak dini. Pendidikan ini dapat membentuk suatu paradigma dan karekteristik agar menjadi bangsa yang maju didukung dengan moral yang baik. Pembentukan karakteristik yang baik bagi bangsa akan membentuk suatu negara yang memiliki sumber daya manusia yang lebih baik dan bermartabat ditinjau dari nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam suatu negara.
Pendidikan karakter  pancasila ini dapat diberikan sedari dini di bangku sekolah. Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.
Pada hakekatnya, hanya pendidikan karakter Pancasila inilah yang dapat membentengi diri bangsa Indonesia dari pengaruh budaya asing. Pancasila dapat menjadi filter untuk memilah budaya asing mana yang dapat diserap dan mana yang harus dihindari. Pancasila sendiri merupakan ideologi yang terbuka, sehingga tidak selalu menuntut hal yang tidak pernah berubah. Pancasila mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.
Dengan adanya teknologi yang canggih saat ini, pendidikan Pancasila tidak hanya dapat diberikan di sekolah, tetapi juga melalui internet, televisi, dan radio. Pancasila diajarkan melalui hal – hal menarik dalam kemasan teknologi canggih, seperti yang termuat dalam kandungan film – film produksi negeri yang mendidik. Pancasila dalam wujud filter menyaring budaya asing dalam teknologi modern, seperti misalnya Lembaga Sensor Indonesia yang bertujuan untuk memutus transfer budaya asing yang tidak mendidik generasi bangsa. Sehingga tunas – tunas bangsa dapat terhindar dari pengajaran yang salah.
Dengan adanya pendidikan karakter ini diharapkan bangsa Indonesia dapat mengenali identitasnya sebagai bangsa yang berbudi luhur, gotong royong, sopan santun. Dalam birokrasi pun para birokrat harus disadarkan pada tugasnya sebagai pelayan masyarakat. Mereka tidak boleh lupa bahwa untuk mengambil sebuah keputusan harus didasarkan pada hasil musyawarah bersama. Sehingga rakyat tidak disengsarakan. Dengan demikian maka rakyat akan mendukung keputusan pemerintah dan bersatu padu membangun bangsa yang besar dan sejahtera.

Senin, 02 April 2012

Analogi Kehidupan dengan Bermotor di Jalanan

Diposting oleh Ken Mercedez di 20.57.00 0 komentar
Suatu sore saat hujan grimis, aku mengendarai motorku dari Bondowoso ke Jember. Di tengah perjalanan pikiranku melayang kemana - mana, kemudian aku menemukan sebuah filosofi ala diriku sendiri seperti berikut ini.

Hidup itu dapat dianalogikan seperti saat kita mengendarai motor di jalanan. Kita punya modal yaitu motor, dan keahlian untuk berkendara, sama seperti hidup, kita punya modal dan kemampuan untuk mencapai tujuan kita.
Jalan mempunyai dua sisi, yaitu sisi dimana kita melaluinya dan sisi yang berlawanan dengan kita. Di sisi jalan yang berlawanan dengan kita, orang - orang yang melaluinya jelas memiliki tujuan yang berbeda dan bersebrangan dengan kita. Tapi di sisi kita, ada orang - orang lain yang punya jalur sama dengan kita. Kadang kita saling mendahului, tegantung pada kecepatan kita mengendarai motor. Ini sama dengan hidup, kadang kita mendahului atau didahului tergantung seberapa cekatan diri kita.
Terkadang proses mendahului ini menimbulkan gesekan sehingga ada pihak yang jatuh bahkan terluka. Itu namanya persaingan tidak sehat. Sebenarnya kita punya 2 kaca spion untuk berhati - hati. Kaca spion ini adalah mata dan nurani kita. kalau kita mau melihat pada spion, kita dapat mengatur strategi agar seminimal mungkin tidak bergesekan dengan orang lain.
Di kanan kiri jalan banyak sekali panorama yang mungkin membuat kita terkesan. Kalau kita terlalu terkesima, kita bisa lupa jalan dan tujuan kita di depan dan bisa jadi kita menabrak sesuatu, terjatuh, bahkan tidak sampai pada tujuan kita. Itulah godaan duniawi.
Hm... begitulah renungan yang kudapatkan di jalan. Aku pengen share ini agar kita semua bisa memetik sesuatu dari renungan ini. Take care, Guys. :D

Sabtu, 31 Maret 2012

New Photos of Pochil, My Lovely Cat

Diposting oleh Ken Mercedez di 09.18.00 0 komentar
Hi Guys, kucingku suka banget bersantai di depan rumah. Ini foto waktu dia lagi mengamati sesuatu...


Ternyata sesuatu itu adalah kumbang di pohon. Waktu dia menyadari keberadaan si kumbang itu, jadilah dia seperti ini:

 

"Ugh, kumbangnya kok gak turun ya... Nungguinnya sampe capek nih," keluh kucingku.



Lamaaaa banget nungguin si kumbang turun, sampe capek nih. xixixi


Setelah kesal menunggu dan lapar menyerang, kucingku memutuskan untuk pulang saja. Sambil jalan dia mencari - cari kumbang yang mungkin aja tergeletak di tanah.


 

Semangat Pochil! Ganbatte ne!




 

Ken Mercedez Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting