Jumat, 01 Juni 2012

Enide, Merindukan Kehidupan

Diposting oleh Ken Mercedez di 13.11.00 6 komentar
 Jika tidak ada yang dapat kulakukan lagi, lebih baik aku mati. Ada dan tiadanya diriku takkan berpengaruh pada siapapun...


“Saya sarankan Anda untuk melakukan kemoteraphy. Kanker anda sudah menyebar dan akan semakin sulit ditangani nantinya,”
“Tidak, Dok. Biarkan saja,” jawabku lunglai.
“Anda harus optimis, jangan menyerah dulu. Kami akan melakukan semampu kami untuk menyelamatkan Anda,” Dokter Ana menyemangatiku walau sebenarnya itu tak ada gunanya. Ini yang kuinginkan, segera enyah dari muka bumi ini.
“Permisi Dok, saya teringat suatu urusan yang penting,” aku berusaha tersenyum walau kaku. Lalu aku berbalik dan membuka kenop pintu.

Aku berjalan keluar dari rumah sakit. Sungguh, aku benci tempat ini. Aku tidak akan datang kemari lagi. Aku terus menyusuri jalan, hingga aku menyadari semakin jauh aku berjalan menjauhi Rumah Sakit Bougenvil. Sekarang kakiku membawaku ke sisi kanan jembatan besar. Orang – orang mengagumi jembatan indah yang dibawahnya berbaring sungai Seine yang indah.

Mademoiselle, apakah kau mau bunuh diri disini?” seorang pria mengagetkanku. Ia tiba – tiba sudah berdiri di belakangku dengan tangannya menarik lenganku.
Quoi?” tanyaku terkejut.
Pardon moi, saya kira Anda hendak melompat dari jembatan ini,” kata pria itu lagi.
“Tidak, aku hanya ingin melihat sungai Seine saja,” jawabku datar.
“Oh, maafkan aku. Aku sungguh bodoh. Mana mungkin gadis semuda dan secantik Anda bisa bunuh diri,” pria itu garuk – garuk kepala.
Sayang sekali dia tidak tahu, aku sudah mencoba banyak cara untuk mengakhiri hidupku. Aku pernah mengiris ulu nadiku, minum obat berlebihan, melompat ke sungai pun pernah. Namun semuanya tidak ada yang berhasil. Akhirnya aku menyerah, dan Tuhan mulai mendengar doaku. Ia memberiku penyakit Leukimia dan sebentar lagi aku akan menghilang dari dunia ini dengan sendirinya.
“Boleh ku tahu siapa namamu?” tanya pemuda itu memecah lamunanku.
“Enide,” jawabku singkat.
“Nama yang bagus sekali,” puji pemuda itu. “Namaku Francoeur,”
“Hati yang jujur,” gumamku.
Pardon?”
“Namamu, Francoeur Hati yang jujur,” jelasku.
“Kau mau kemana, Mademoisell? Biar aku mengantarmu,”
Just call me, Enide,” kataku. “Aku tidak tahu, mungkin aku akan pulang ke rumah,”
“Sayang sekali pagi seperti ini kau habiskan hanya untuk minum teh di rumah. Bagaimana kalau kita berkeliling saja, Enide?” Francoeur menawariku tumpangan di vespanya. Ia menyodorkan helm kuning padaku.
“Tidak, Mercy. Aku pulang saja,” aku tersenyum tipis.
“Ayolah, hari ini indah sekali. Aku ingin berjalan – jalan tapi tidak menemukan kawan. Mungkin kau bisa menemaniku,” Francoeur tersenyum riang. “Apa aku terlihat seperti penculik wanita?”
“Tidak,” jawabku. Oh Tuhan, hari ini aku banyak tersenyum karena pemuda asing ini. Biasanya aku menghabiskan hariku dengan merenung dan meratapi nasib. Jarang sekali aku tersenyum.
“Ayolah. Ini helm-mu. Cepat pakai atau kutinggal,” ia memasangkan helm itu ke kepala, sungguh tidak sopan. Tidak hanya itu, ia menarikku dan mendudukkanku di jok belakang vespanya. “Pegangan, kita akan ngebut di jalanan,”
“Ngebut? Dengan motor vespa?” tanyaku. Francoeur tidak menggubrisku. Ia malah mengegas motornya dan aku terpaksa memeluknya.
Pemuda ini mengingatkanku pada Papa. Punggungnya begitu hangat. Aku sering bersepeda dengan Papa saat berumur 13 tahun. Kami berkeliling kota Paris, lalu berhenti di sebuah taman. Mama menungguku dan Papa sambil mengoleskan selai stroberi pada roti. Ketika aku datang, beliau melambaikan tangan. Kami makan bersama sambil memandangi menara Eiffel dari kejauhan. Oh, aku hampir lupa saat terindah dalam hidupku, ketika Papa dan Mama masih hidup dan menemaniku.
“Kau menangis?” tanya Francoeur setengah berteriak. Suaranya terdengar samar diantara angin dan derum kendaraan di jalanan.
Oui. Bagaimana kau tahu?”
“Aku tahu, airmatamu membasahi punggungku,” katanya setengah berteriak lagi.
Aku segera meregangkan tubuh. Kupandangi kaos yang menempel di punggung Francoeur basah karena airmataku.
“Maafkan aku. Nanti akan kucuci,” aku mengusap - usap punggung pemuda jangkung itu.
“Tidak usah, aku baik – baik saja,” Francoeur membelokkan vespanya ke sebuah taman yang bernama Marigny Square. Ia memarkir motor dan membantuku melepas helm.
“Sepertinya kita bisa bersahabat,” Francoeur memandang wajahku, membuatku malu.
“Ehm, itu kalau kita bisa bertemu lagi,” gumamku. Aku tidak tahu mengapa tiba – tiba aku berkata demikian, pasti ia bertanya – tanya apa maksudku.
“Tentu saja bisa. Tiap hari aku akan menemuimu,” jawab Francoeur, membuatku terkejut. Apa lelaki ini sudah gila? Kenapa ia terlihat begitu tertarik padaku, atau aku hanya ke-GR-an saja?
“Enide, aku selalu kesepian. Aku hidup sebatang kara. Tapi begitu melihatmu tadi, rasanya aku ingin selalu bersamamu. Aku bahkan tidak tahu kenapa. Rasanya sangat damai,”
“Bagaimana kau bisa merasa damai bersamaku? Sedangkan aku tidak punya hasrat untuk hidup,” kataku sambil menatapnya. Ia lebih tinggi dariku. Matanya yang berwarna biru dan rambutnya yang berwarna kecoklatan membuatku tak bosan menatapnya.
“Kau tahu arti dibalik namamu?” Francoeur malah mengalihkan pembicaraan.
Aku hanya diam. Nama ini pemberian orang tuaku, tapi aku belum sempat bertanya apa artinya saat mereka masih ada di sisiku.
“Enide berarti jiwa. Jadi rasanya aneh kalau kau tidak punya semangat hidup,” Francoeur mengernyitkan dahi seolah berpikir. “Mungkin kau jiwa yang kosong,” ia mencoba bercanda, tapi itu tidak lucu.
“Francoeur, aku juga hidup seorang diri sejak orang tuaku meninggal akibat kecelakaan pesawat,” ujarku.
“Lalu sejak saat itu kau tidak ingin hidup?” tebaknya.
“Ya,”
“Kau berpikiran sempit, Enide. Lihatlah, dunia ini masih menerimamu. Kau masih bisa menikmati hembusan angin, memandang dedaunan yang hijau, sungai Seine yang indah, Marigny Square dan Eiffel,” Francoeur berputar – putar sambil merentangkan tangan. “Kau berada di surga. Bayangkan begitu banyak orang yang ingin datang kemari, dan kau beruntung terlahir disini,”
Dia benar. Aku bahkan tak pernah menyadari itu.
“Ajari aku mengenal kehidupan ini, Francoeur,” kataku. Senyumku merekah, aku telah menemukannya, penyelamatku dari jurang keputusasaan.

Selesai
*mohon kritik dan saran Kawand^^

Jumat, 25 Mei 2012

Try to Make Danbo

Diposting oleh Ken Mercedez di 22.40.00 0 komentar
Hai hai...

Rasa keingintahuan membuatku semangat bikin Danbo. Tutorialnya pake bahasa inggris, gambarnya juga ribet. Males banget mau ngikutin berdasarkan step-nya. Akhirnya bikin dengan ngawur - ngawuran deh. Hehehe

Hasilnya? Seperti ini:






Harap maklum ya, masih pemula jadi masih gak terlalu apik. :p

Jumat, 18 Mei 2012

My Kitties

Diposting oleh Ken Mercedez di 23.25.00 2 komentar
Kucingku yang super Unyu, hehe... Pochil kini sudah punya anak, jadi aku sering panggil dengan sebutan "Mama Pochil". Awalnya Mama Pochil punya anak 7!!! Tapi perlahan mati satu per satu dan menyisakan 4 ekor anak. Kasihan. Tapi maklum, Mama Pochil kawinnya sama beda ras, Pochil si Kucing Persia menjalin hubungan terlarang dengan kucing kampung milik tetanggaku. Walhasil anaknya ada yang cantik, setengah cantik, sampai jelek. xixixi

Dari ke-4 anak kucing itu, hanya 2 yang ku rawat. Namanya Boni-Chil dan Mochil. Boni kucing jantan, sedangkan Mochil kucing betina. Tapi Boni penakut banget, digendong teriak - teriak dan suka nyakar! Tanganku udah banyak jadi korban, sampai seperti orang stres menyayat tangan sendiri, padahal aku hanyalah 'korban'.

Beda dengan Boni, Mochil lebih berani dan pendiam, tapi gesit banget! Mochil jarang nyakar. Tapi kalo Boni ngompor - ngomporin, akhirnya aku dicakar juga deh.... u.u

Trus, yang 2 kemana? Yang 2 diambil orang. Hahaks. 1 diambil temanku, satunya lagi diambil tanteku. Tapi Mama Pochil santai aja tuh anaknya ilang 1 per 1. Malah Mama Pochil sibuk menggemukkan badannya yang kembali kurus pasca melahirkan. Tapi pola makannya berubah. Sekarang dia pengennya makan apa yang dimakan manusia. Roti, Sosis, ikan, santan, kelapa parut, apa aja dehhh.... Tapi kalo buah2an yang seger - seger dia gak suka.

Mau intip fotonya? Ini dia. Tadaaaa!!!!!



Mama Pochil


Boni, Teroris Kecil


Boni waktu main bajuku



Boni umur 1 bulan


  Waktu masih bersama, umur 1 bulan

Sementara itu dulu deh fotonya. Tunggu koleksi berikutnya ya! :p

Anyyeong! ^^

Rabu, 16 Mei 2012

Me Too, Flower (16 Episode)

Diposting oleh Ken Mercedez di 12.09.00 0 komentar

Ini drama Korea yang Ken suka, nontonnya pun dengan penuh antusias tanpa dicepet – cepetin. Hahaks...


Cha Bong Sun (Lee Ji Ah) adalah seorang Polwan yang galak. Ia hidup seorang diri dan kesepian. Suatu hari ia bertemu seorang pemuda bernama Seo Jae Hee (Yoon Shi Yoon) dan bertengkar kecil dengannya. Tidak disangka pemuda itu bekerja sebagai tukang parkir di sebuah butik besar bernama Perche yang lokasinya berdekatan dengan kantor polisi tempat Cha Bong Sun bertugas. Kontan keduanya sering bertemu dan bertengkar tentunya.


Benci dan cinta itu bedanya tipis. Mereka akhirnya jatuh cinta. Tetapi Park Hwa Young atau Nyonya Park (Han Go Eun) adalah sosok wanita yang rapuh dan membutuhkan sosok Jae Hee dalam hidupnya. Ia berusaha menghalangi  Jae Hee dan Petugas Cha bersatu. Oleh karena itu, ia membongkar penyamaran Jae Hee yang ternyata bukan sekedar tukang parkir, melainkan pendiri Butik Perche! Ia juga menyogok Kim Dal (Seo Hyo Rim) yang merupakan adik tiri Petugas Cha untuk menghancurkan hubungan mereka berdua.
Kim Dal yang terobsesi menjadi wanita kaya menerima tawaran Nyonya Park. Namun setelah tahu Jae Hee kekasih sang kakak, ia merasa bersalah dan membongkar rahasia Nyonya Park pada Jae Hee.




Drama korea ini romantis banget, mengharukan, tapi juga lucu abis. Gak nyesel deh nonton dramanya. Sangat direkomendasikan oleh Ken Mercedez! :D






 

Lakshya लक्ष्य (Tujuan)

Diposting oleh Ken Mercedez di 11.51.00 0 komentar

Kenapa Ken review film India? Karena Ken suka film India (tapi kalo yang main pemain2 muda jaman sekarang gak suka ah, terlalu kebarat - baratan dari segi busana hingga jalan ceritanya). So, Ken mau bagi resensi film tahun 2004 ini (lumayan jadul). Judulnya Lakshya. Cekidot!

Karan (Hritikh Roshan) adalah pemuda yang tidak pernah memikirkan masa depan karena ia tidak punya tujuan yang pasti. Ia memiliki kekasih Romi (Preety Shinta) yang merupakan aktivis kampus dan terobsesi menjadi seorang Reporter. Orang tua Karan selalu membandingkannya dengan sang kakak yang berbakti dan bermasa depan cerah.
Suatu hari teman Karan ingin menjadi tentara. Bingung menentukan tujuan, Karan ikut – ikutan masuk tentara padahal temannya yang menjadi panutan tidak jadi masuk tentara karena dilarang orang tuanya. Karan menjadi goyah, tetapi Romi selalu memberinya semangat. Hingga di akademi tentara, Karan tidak serius menjalani kewajibannya dan selalu dikenai hukuman. Merasa tidak betah, Karan kabur di tengah malam. Tindakannya ini menuai kemarahan orang tuanya dan kekecawaan Romi. Gadis itu memutuskan hubungan mereka karena tidak ingin memiliki kekasih seorang pecundang. Dari sinilah Karan merenung dan memutuskan untuk serius menjalani kewajibannya, ia selalu ingat perkataan Romi yang menyebutnya pecundang. Karan ingin membuktikan pada Romi bahwa ia bisa menjadi yang terbaik. Karan kembali ke akademi dengan penuh keseriusan dan berani menanggung konsekuensi karena pernah kabur. Ia menjalani semua hukumannya dengan tegar. Setelah lulus dan menjadi tentara, Karan hendak menemui Romi. Sayang, gadis itu telah bertunangan dengan orang lain. Karan pun patah hati dan berniat melupakan Romi.
Beberapa tahun kemudian, Karan ditugaskan di daerah perbatasan India yang sedang rawan. Ia bertemu Romi yang bertugas sebagai reporter disana. Semula Karan menjauhi Romi karena gadis itu telah memiliki tunangan, padahal Romi memutuskan tunangannya karena terlalu banyak diatur. Selalu bertemu membuat cinta lama mereka bersemi kembali. Karan dan Romi bersatu kembali, tetapi ia harus menunaikan tugasnya membela tanah air. Karan meninggalkan Romi untuk berperang melawan musuh. Ia membawa kemenangan untuk negaranya dan kebanggaan untuk dipersembahkan bagi Romi dan kedua orang tua Karan.
Film ini bagus sekali. Sangat menggugah rasa, tentang menentukan pilihan, jati diri, dan kecintaan pada tanah air. Menontonnya akan membuat kita merasa semakin hanyut karena film ini berdurasi 3 jam! Wow! Selamat menonton. :D

Selasa, 15 Mei 2012

Rab Ne Bana Di Jodi (Jodoh dari Tuhan)

Diposting oleh Ken Mercedez di 16.32.00 5 komentar
Ken suka banget film India yang 1 ini.


Surinder Sahni (Sharukh Khan) adalah seorang pria pendiam, pemalu, tetapi pintar. Gayanya kebapakan banget. Awal nonton, Ken sempat gak nyangka dia Sharukh Khan soalnya culun banget. Surinder atau dipanggil Suri merupakan mahasiswa kesayangan dosennya. Ia jatuh cinta saat pertama kali bertemu dengan Taani (Anuskha Sharma) di acara pernikahan gadis yang merupakan putri dosennya itu. Malang, calon suami Taani meninggal dalam kecelakaan saat hendak menuju rumah Taani. Karena syok, ayah Taani terkena serangan jantung. Sebelum meninggal, beliau khawatir Taani akan hidup sendirian, oleh karena itu beliau meminta Suri menikahi Taani walau gadis itu tengah berduka.
Pernikahan mendadak itu tentu saja tidak siap dijalani Taani. Ia pun dingin pada Suri. Taani mengatakan ia akan menjadi istri berbakti tetapi tidak bisa mencintai Suri.
Suatu hari Taani ingin mengikuti latihan kontes tari. Karena melihat Taani bersemangat, maka Suri pun mengijinkannya. Suri ingin melihat istrinya menari, ia kemudian menyamar menjadi sosok yang tampan dan trendy dan diam – diam mengamati istrinya. Namun pelatih tari mengira ia juga kontestan sehingga diikutkan menari dan tanpa sengaja berpasangan dengan Taani. Merasa lebih dekat dengan Taani setelah berpenampilan trendy, Suri memutuskan untuk menyamar sebagai Raj yang banyak omong, suka merayu, dan menjengkelkan. Tapi hal itu justru membuat Taani jatuh cinta hingga ia ingin pergi bersama Raj meninggalkan Suri.




Suri merasa terpukul mengetahui istrinya lebih menyukai dirinya sebagai orang lain. Cinta memang butuh pengorbanan, ia rela membawa Taani pergi sebagai Raj dan menjalani kehidupan palsu. Raj kemudian merencanakan kepergiannya bersama Taani setelah kontes final Lomba Tari. Sebelum hari H tiba, ia sebagai Suri mengajak Taani pergi ke tempat ibadah untuk berdoa sebelum melakukan sesuatu yang besar. Ketulusan hatinya membuat Taani sadar di saat ia benar – benar terpuruk, yang ada di sisinya adalah Suri dan bukanlah Raj yang bukan siapa – siapa. Taani membatalkan kepergiannya bersama Raj, hal ini membuat Suri terenyuh.
Ia hadir di final kontes tari sebagai dirinya sendiri dan menari bersama Taani. Semula Taani tidak yakin Suri bisa menari, tetapi gerakan – gerakan tari Suri sangat fasih dan sama persis dengan Raj. Akhirnya ia tersadar akan ketulusan cinta suaminya yang sampai rela menyamar menjadi orang lain untuk menunjukkan besar cintanya pada sang istri. Suri menemani dan menjaga Taani setiap hari walaupun sebagai orang lain sekalipun. Ken suka saat Taani bilang pada Suri, “Betapa mudahnya kamu balikkan
semua kesedihanku jadi kegembiraan. Semua air mataku jadi tawa. Aku tidak memberimu setetes cinta dan kau terus menghujaniku dengan cintamu”.

 
Film ini romantis banget dan menghanyutkan. Pesan moralnya, Ketampanan tidak bisa membeli Cinta Murni. Hanya cinta tulus dari hatilah yang dapat membuat kita bahagia. Hanya dengan melihat orang yang kita cintai tersenyum, bahkan nyawa pun rela kita korbankan demi dirinya.

 Buat pecinta lagu - lagu Hindi, ada link sountrack film ini. Bagus - bagus lho!





Kamis, 10 Mei 2012

Romantic Song: Beautiful Girl by Jose Mari Chan

Diposting oleh Ken Mercedez di 23.52.00 2 komentar
Ada satu lagu yang menurutku romantis banget... Cekidot!

Beautiful girl, 
wherever you are 
I knew when I saw you, 
you had opened the door 
I knew that I'd love again
after a long, long while
I'd love again.  
You said "hello" and I turned to go  
But something in your eyes left my heart beating so 
I just knew that I'd love again after a long, long while I'd love again.  

Refrain : 
It was destiny's game 
For when love finally came on  
I rushed in line only to find
That you were gone.  
Whenever you are, 
I fear that I might  
Have lost you forever like a song in the night  
Now that I've loved again after a long, long while I've loved again. 
*Repeat Refrain 
Beautiful girl, I'll search on for you  
'Til all of your loveliness in my arms come true  
You've made me love again after a long, long while In love again  
And I'm glad that it's you  
Hmm, beautiful girl.

Sabtu, 05 Mei 2012

Kidung untuk Mbok Par I

Diposting oleh Ken Mercedez di 08.43.00 4 komentar
Di tengah malam, hujan turun begitu lebat. Suara air alam yang berjatuhan membuat malam tak lagi sepi. Di sebuah rumah, perjuangan menanti sebuah kelahiran tengah berlangsung. Seorang ibu tengah bertarung dengan maut demi melahirkan seorang putra.
“Ayo Nyah, kurang sedikit lagi,” seru seorang wanita paruh baya memegang erat tangan wanita yang sedang bertarung dengan maut itu.
Wanita itu berusaha sepenuh tenaga, keringat mengucur dengan deras di dahi, leher, bahkan tangannya pun basah oleh keringat hingga kemudian senyuman mengakhiri ketegangan malam itu.
“Nyah, selamat atas kelahiran putri pertama Nyonyah,” wanita paruh baya itu bersemangat, ia sangat gembira sembari mengelap peluh di tubuh majikannya. Bidan pun tengah membersihkan tubuh si bayi yang baru saja lahir.
“Putri? Hah... hah... hah...” tanya wanita cantik itu sambil terengah – engah. “Ku pikir laki – laki. Hah... hah... hah...”
“Tapi putri Nyonya akan tumbuh menjadi wanita secantik Nyonyah,” hibur si wanita paruh baya.
“Masa bodoh... hah.. hah...” kata majikannya acuh. “Setelah ini Mbok Par saja yang urus bayi itu, waktu saya sudah banyak terbuang karna bayi itu,”
Wanita yang disapa Mbok Par itu terdiam. Ia menyimpan kekecewaan pada majikannya sekaligus iba pada bayi perempuan yang baru saja lahir itu. Dalam hati ia bertekad tidak akan pernah membuat bayi itu sedih, ia sendiri yang akan selalu mencurahkan kASIh sayangnya sedalam lautan pada bayi malang itu.
*
“Namanya Kinanti. Sudah, cepat bawa pergi. Tangisannya bisa buat telinga saya pecah,” kata Miranda, sang Nyonya besar yang sangat cantik dan elegan.
“Tapi bayi itu, maksud saya Kinanti belum minum ASI Nyah,” ujar Mbok Par sambil menggendong bayi yang tengah menangis.
“Saya kan sudah beli susu formula, Mbok,” Miranda menahan geram sambil menaburkan bedak di pipinya yang lembut. Ia tengah bersiap – siap untuk menghadiri sebuah acara yang diperuntukkan bagi orang – orang kelas jetset. “Dengar ya, mulai sekarang saya tidak mau dengar keluhan apapun tentang Kinanti. Saya sangat sibuk, kamu kan sudah saya kASIh kepercayaan untuk mengurusnya,” lanjutnya.
Mbok Par terdiam. Ia undur diri sambil terus menina-bobokan Kinanti si bayi mungil yang tengah menangis. Ia terus berjalan melewati taman yang dipenuhi hiasan – hiasan bunga indah. Mbok Par pernah melihat di acara televisi kalau bayi baru lahir lebih baik menerima ASI daripada susu formula. Terbesit dalam hatinya untuk memberikan ASI kepada Kinanti. Ia sendiri baru saja melahirkan seorang bayi perempuan satu bulan yang lalu. Namun malang anak semata wayangnya itu meninggal karena terserang panas berkepanjangan. Di awal usia 40 tahunnya itu, sang adik menawarinya bekerja di sebuah keluarga kaya tempatnya sekarang berada. Mbok Par yang hidup sendirian di desa akhinya menerima tawaran tersebut untuk mengusir sepi dan kesedihan yang mewarnai hidupnya.
“Kalau Nyonyah tidak mau memberikan kasih sayang, bahkan ASI pada anak ini, maka aku saja yang menggantikannya. Mungkin Gusti Allah memberiku ganti atas kematian Sari. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan dari Gusti Kuasa,” batin Mbok Par.
Mulai hari itu Mbok Par memberikan ASI eksklusif pada Kinanti kecil secara sembunyi – sembunyi. Ia merawat Kinanti dengan penuh kasih sayang, bahkan ia tak pernah mengeluhkan apapun lagi majikannya yang super sibuk dengan dunia kerja.
Berbeda dengan Miranda, Antoni yang merupakan ayah kandung Kinanti ketika pulang dari luar negeri sebulan sekali selalu menanyakan kabar putri semata wayangnya itu. Ia belajar menggendong putrinya dan selalu mengirimkan mainan – mainan baru. Kamar Kinanti juga dihias dengan begitu cantik sesuai keinginan sang ayah.
“Apa Miranda pernah menggendong Kinanti?” tanya Antoni suatu hari pada Mbok Par.
“Belum pernah, Tuan,” jawab Mbok Par pelan.
“Sayang sekali,” pria bertubuh tegap berumur 30 tahunan itu murung. “Seharusnya ia sebagai ibu memperhatikan anaknya. Aku akan membujuknya lagi. Mbok Par tolong rawat bayi saya. Saya sangat bersyukur ada Mbok Par disini,”
“Tentu saja, Tuan. Saya akan selalu merawat Non Kinanti,” jawab Mbok Par senang. Setidaknya di keluarga ini masih ada yang menyayangi bayi mungil itu.
Mbok Par selalu mengingat kata – kata Antoni untuk merawat putrinya. Hingga Kinanti beranjak besar pun ia selalu mendekatkan Kinanti dengan figur sang ayah, sedangkan ia tidak berani mengusik banyak hal tentang Miranda.
*
Seorang gadis kecil  berusia 5 tahun turun dari mobil Honda Jazz hitam. Ia segera berlari menuju dapur rumahnya sambil menangis.
“Ibuuuuuuukkkkk,” serunya sambil memeluk tubuh besar Mbok Par.
“Ibu siapa Non?” Mbok Par terkejut.
“Ibu kenapa gak dateng ke sekolah? Cuma Kinan yang gak didampingi ibu waktu mewarnai tadi. Huhuhu,” Kinanti menangis dan memukul – mukul Mbok Par.
Mbok Par terkejut, rupanya Kinanti mengartikan dirinya sebagai ibunya. Baru kali ini Kinanti memanggilnya ibu, padahal sehari – hari selalu memanggilnya ‘Mbok Par’. Sesungguhnya hati kecil wanita paruh baya ini begitu bahagia, tapi apa jadinya nanti bila Kinanti selalu memanggilnya Ibu? Lalu bagaimana dengan perasaan majikan perempuannya?
“Non Kinan, Mbok Par kan sudah bilang, ibu Non Kinan itu Nyonyah Miranda. Mbok Par cuma pengasuh Non aja. Mbok sudah bilang sama Nyonyah kalau Non hari ini ada kegiatan lomba mewarnai. Tapi Nyonyah tadi terjebak macet,” terang Mbok Par. Sebenarnya ia memang sudah mengatakan pada Miranda tentang Lomba Mewarnai di TK. Padu tempat Kinanti bersekolah, tapi Miranda berkilah ia banyak urusan kantor yang belum terselesaikan.
“Mbok Par jahat! Aku gak peduli sama Mama, aku pengennya Mbok Par yang dateng ke sekolah,” Kinanti terus memukuli Mbok Par sambil menangis.
“Iya Non, nanti Mbok Par dateng deh kalo Non ada acara lagi. Sekarang Non jangan nangis terus,” hibur Mbok Par.
“Janji ya harus dateng lain kali?” tanya Kinanti sambil sesengukan.
“Janji Non,” kata Mbok Par.
“Ya udah aku percaya. Awas lho ya!” Kinanti mengusap matanya kemudian pergi ke kamarnya.
Di ruang tengah Kinanti berpapasan dengan Miranda yang sedang sibuk memasukkan dokumen – dokumen ke dalam tas kantor, karena terburu – buru salah satu dokumennya jatuh terselip di bawah meja tanpa sepengetahuannya. Kinanti segera mengambil dokumen itu.
“Mama, bukunya ketinggalan,” Kinanti berlari menghadang langkah ibunya.
“Oh iya. Makasih ya,” Miranda mengambil dokumen itu dari Kinanti. Kemudian ia menghentikan langkahnya sejenak lalu mengamati wajah putrinya. “Kalau sudah besar, kamu harus seperti Mama. Pakai baju kantor seperti ini, bawa buku – buku seperti ini ya,” ia kemudian mengusap kepala anaknya lalu pergi.
Kinanti hanya terdiam. Ia berpikir, apa enaknya jadi orang yang serba terburu – buru? Ia sama sekali tidak tertarik menjadi seperti ibunya.
*
11 tahun kemudian...
“Mbok Par, Mbok... Dasiku dimana?” Kinanti mencari Mbok Par di dapur. Ia melihat Mbok Par terbatuk – batuk sambil memukul – mukul dadanya. “Mbok masih belum sembuh ya?”
Mbok Par hanya menggeleng – gelengkan kepala sambil terus memukuli dadanya.
“Ayo kita ke dokter,” Kinanti memapah tubuh renta Mbok Par.
“Non sekolah aja. Katanya sekarang pemilihan Ketua OSIS,”
“Nggak, kita sekarang ke dokter,” Kinanti bersikeras.
“Aduh Non, Mbok gak apa-apa. Nanti bisa ke dokter dianterin supir. Non sekolah aja. Mbok dukung Non jadi ketua OSIS. Jangan kecewain Mbok ya,” kata Mbok Par.
“Nggak, kita ke dokter,” jawab Kinanti kukuh. “Pak Aji, ayo kita bawa Mbok Par ke dokter,” kata Kinanti. Pak Aji yang lagi asik menonton bola pun turun untuk membantu Kinanti membopong Mbok Par.
“Adudududuh, Mbok gak kenapa – kenapa Non. Ayolah Non, jangan buat Mbok kecewa. Non sekolah aja ya?” Mbok Par memohon.
“Kesehatan Mbok yang paling utama. Jadi kita ke dokter aja,”
“Non ke sekolah aja, kan ada saya Non,” kata Pak Aji menimpali.
“Ke sekolah aja ya Nak, jangan kecewakan Mbok Par,” bujuk Mbok Par lagi.
Mendengar Mbok Par memanggilnya ‘Nak’, hati Kinanti terenyuh. Ia selalu ingin mendengar Mbok Par memanggilnya demikian. Matanya berkaca – kaca.
“Ya sudah, aku sekolah Mbok. Ini, Mbok bawa hapeku. Nanti kalau aku telpon harus Mbok angkat ya,” Kinanti menyerahkan ponselnya pada Mbok Par.
“Aduh, ini hape apa sih Non? Mbok gak ngerti pake Beri-beri,” keluh Mbok Par.
“Oh iya lupa. Ini, bawa yang ini aja,” Kinanti menyerahkan ponselnya yang merupakan keluaran lama.
“Kalo ini Mbok lumayan ngerti. Ya sudah, Non berangkat aja ke sekolah bawa mobil yang putih itu,”
“Kinan naik bus aja. Ini kan masih pagi juga Mbok,” Kinanti lalu berpamitan dan mencium tangan Mbok Par serta Pak Aji.
Melihat gadis cantik berambut panjang itu pergi, Mbok Par dan Pak Aji hanya tersenyum.
“Dia itu beda ya sama anak orang kaya lainnya,” ujar Pak Aji.
“Iya. Semoga aku masih bisa mendampinginya sampai dia menikah,” timpal Mbok Par.
“Ngomong apa sih kamu, Par. Dia itu gak bisa hidup tanpa kamu, cuma kamu yang dia sayangi setulus hati,” kata Pak Aji.
Mendengar perkataan Pak Aji, Mbok Par semakin senang. Semoga ia bisa terus mendampingi Nona Mudanya itu hingga tua nanti.
(Bersambung)


Jumat, 04 Mei 2012

LOMBA FTS NARSIS UNLIMITED: NARSIS ANTI GALAU BIKIN HIDUP HAPPY TANPA ENDING

Diposting oleh Ken Mercedez di 16.26.00 0 komentar
DL: 15 JULI 2012

Tema: "NARSIS UNLIMITED: Narsis Anti Galau Bikin Hidup Happy Tanpa Ending"

GRATIS untuk umum dan anggota Writing Revolution.

  • 30 Nominasi FTS Narsis Unlimited dibukukan, cetak nasional (masuk Gramedia) dan masing-masing mendapat 1 buku tanda terbit. (Tanpa membayar sepersen pun malahan mendapatkan royalti 10% dari harga jual buku).
  • Total hadiah lomba Rp 1 juta (bisa bertambah jika mendapat sponsor tambahan).

Syarat dan Ketentuan:
  1. Terbuka untuk Umum dan anggota Writing Revolution, GRATIS.
  2. Tulisan diangkat dari kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulis, atau kisah orang lain (seperti teman, sahabat, saudara, kenalan dan lain-lain). Ditulis dengan gaya bercerita yang mengalir dan bisa mengundang tawa dengan gaya bahasa populer yang mudah dipahami.
  3. Setiap peserta hanya boleh mengikutkan 1 tulisan terbaiknya, yang belum pernah dipublikasi di media online (seperti situs, FB, atau Blog) atau tidak diikutkan dalam lomba lainnya dan ditulis pada masa lomba (27 April-15 Juli 2012).
  4. Panjang tulisan 2-3 halaman, spasi 1,5, kertas A4, jenis huruf TNR ukuran 12, margin 3 cm atau 1,18 inci semua sisi. Tulis biodata narasi di bagian akhir FTS-nya, panjang maksimal 100 kata.
  5. Tulisan dikirim dalam LAMPIRKAN FILE (Attach File) ke email: Antologi_WR@yahoo.co.id
  6.  Tulis di judul email: FTS NARSIS UNLIMITED: JUDUL TULISAN-Nama Penulis.
  7.  Sebarkan informasi ini di note FB minimal tag 20 teman dan bisa diposting di Blog kamu.
  8. Peserta diharapkan menampilkan gambar cover buku "Narsis Unlimited" sebagai profile picture FB-nya minimal selama satu minggu, sebagai tanda keikutsertaannya dalam event ini. Kemudian tag pada foto tersebut koordinator lomba FB: Rurin Kurniati dan Lomba-Narsis WR. Untuk mendapatkan gambar cover buku "Narsis Unlimited" klik di sini: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=288739517881784&set=a.117487305007007.30735.100002372143255&type=1&theater          (kemudian gambar diklik kanan lalu pilih "Simpang Gambar sebagai..." lalu pindahkan ke leptop atau komputer kamu). 
  9.  Jika ada pertanyaan silakan hubungi koordinator lomba: Rurin Kurniati.


Hadiah:
  • Juara I: Uang tunai Rp 500.000,- (ditambah 3 buku bukti terbit + e-sertifikat).
  • Juara II: Uang tunai Rp 300.000,- (ditambah 3 buku bukti terbit + e-sertifikat).
  • Juara III: Uang tunai Rp 200.000,- (ditambah 3 buku bukti terbit + e-sertifikat).
  • 3 Juara Harapan mendapat beasiswa Sekolah Menulis Cerpen Online (SMCO) Writing Revolution (ditambah 2 buku bukti terbit + e-sertifikat).

*Hadiah bisa bertambah jika ada tambahan sponsor lainnya.

Sebagai contoh penulisan FTS Narsis yang renyah dan bisa bikin ketawa silakan baca buku "Narsis Unlimited" yang sudah bisa dibeli Gramedia dan toko buku kesayangan Anda (pertengahan Mei sudah beredar di seluruh Gramedia).
Atau, bisa membeli langsung kepada kami, harga order: Rp 35 ribu (tebal vii+155 hlm) sudah termasuk ongkos kirim seluruh Indonesia. Order melalui sms: 085763208009.

Catatan:
*Update peserta, pengumuman nominator dan pemenang di Grup Zona Narsis Unlimited, atau klik: https://www.facebook.com/groups/narsisunlimited/

Sponsor:
  • Penerbit Writing Revolution.
  • Sekolah Menulis Cerpen Online (SMCO), info lebih lengkap silakan klik: http://writing-revolution.blogspot.com/

Jumat, 27 April 2012

Pendidikan Karakter Bangsa Sebagai Penunjang Perilaku Birokrat yang Berorientasi Kesejahteraan Sosial

Diposting oleh Ken Mercedez di 18.54.00 0 komentar

Karakter bangsa dalam antropologi (khususnya masa lampau) dipandang sebagai tata nilai budaya dan keyakinan yang mengejawantah dalam kebudayaan suatu masyarakat dan memancarkan ciri-ciri khas keluar sehingga dapat ditanggapi orang luar sebagai kepribadian masyarakat tersebut(Ade Armando, 2008 : 8).
Bangsa yang memiliki karakter baik diwujudkan dengan kebiasaan masyarakatnya yang senantiasa melakukan hal-hal yang baik. Karakter merupakan hal yang sangat penting bagi suatu bangsa karena karakter merupakan kombinasi dari kualitas-kualitas khusus masyarakatnya yang akan membuat bangsa tersebut berbeda dari bangsa-bangsa yang ada di dunia ini. Seseorang dapat dikatakan berkarakter apabila bertingkah laku sesuai dengan kaidah moral.
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai – nilai kesopanan, sehingga dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah. Selain itu bangsa Indonesia merupakan bangsa yang selalu bergotong royong, sehingga dapat dikatakan solidaritasnya kuat. Tidak semua bangsa di dunia memiliki karakter ini, tetapi bangsa Indonesia memilikinya sejak dulu.
Ketika Indonesia terdiri dari bermacam – macam kerajaan, disana telah terbentuk budaya – budaya yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. hal ini dibuktikan dengan penanaman budaya gotong royong membangun desa, menanam padi bersama, berburu bersama – sama, hingga menumbuk padi bersama. Ada suatu solidaritas yang tinggi di masyarakat Indonesia pada masa itu.
Di sisi lain, masyarakat Indonesia memiliki tingkatan bahasa. Dalam suku Jawa, dikenal tingkatan bahasa yang disebut ngoko, krama, dan krama inggil. Tingkatan bahasa ini digunakan untuk membedakan seseorang dari golongan usia. Tujuannya, agar seseorang yang lebih muda dapat menghormati orang yang lebih tua dan orang yang lebih tua dapat mengayomi orang yang lebih muda. Tingkatan bahasa ini sebenarnya tidak hanya berlaku di suku Jawa, karena pada realitanya suku – suku lainnya seperti suku Madura dan Sunda juga menerapkan hal yang sama. Hingga saat ini di masyarakat pedalaman juga menggunakan tingkatan bahasa yang hampir serupa. Untuk menghormati orang lain pun dilakukan dengan membungkukkan badan ketika lewat di depan orang lain, juga mengucapkan salam. Hal ini membuktikan bahwa sejak jaman dulu masyarakat Indonesia telah memiliki karakter yang baik.
Kemudian pada masa penjajahan Belanda, masyarakat Indonesia bersatu padu melawan penjajah dengan bersenjatakan bambu runcing saja. Kesederhanaan ini didasari dengan semangat juang tinggi sehingga mampu mengusir penjajah yang menggunakan senjata canggih pada masa itu.
Karakter bangsa Indonesia sudah sepatutnya dilestarikan. Pada masa pemerintahan Soekarno, dilakukan upaya pembangunan karakter atau National Building, dan pada masa Presiden Soeharto juga dilakukan P4 dengan tujuan melestarikan  karakter bangsa Indonesia pada generasi penerus bangsa.
Hingga saat ini pun pendidikan karakter ini juga dilestarikan dengan adanya pendidikan Pancasila. Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia yang merupakan pedoman hidup bangsa. Disini karakter bangsa Indonesia dirangkum menjadi lima sila yang harus melekat pada setiap pribadi bangsa Indonesia.
Pada sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa diajarkan bahwa dalam kehidupan ada Tuhan yang selalu mengawasi perilaku kita. Oleh karena itu kita diharuskan untuk selalu mematuhi perintah Tuhan dan menjauhi larangan – larangan-Nya.
Pada sila kedua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab memiliki pengertian bahwa manusia memiliki adab atau perilaku yang baik dan adil. Oleh karena itu untuk menjadi manusia yang baik diharuskan bersikap adil dan baik terhadap sesama. Selain itu disini juga dijunjung Hak Asasi Manusia (HAM).
Pada sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia menyatakan bahwa bangsa Indonesia harus selalu bersatu dan tidak bercerai berai. Persatuan harus selalu dijaga agar Indonesia menjadi negara yang kokoh.
Sila keempat yang berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan Pancasila”, memiliki arti bahwa rakyat dipimpin oleh pemimpin yang bijaksana. Disana rakyat diwajibkan untuk patuh, dan pemimpin yang berkuasa tidak boleh lupa pada rakyatnya. Hal ini dikarenakan untuk mengambil suatu keputusan, pemimpin harus selalu bermusyawarah dengan rakyat. Tujuannya agar rakyat sepakat dan mendukung pembangunan dengan semangat gotong royong. Sehingga kesepakatan yang diambil tidak merugikan rakyat dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Sedangkan pada sila kelima, Keadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia bertujuan untuk menciptakan keadilan yang tidak memihak dan tidak tidak berat sebelah. Negara Indonesia sebagai negara hukum harus bersikap adil dan mengayomi rakyatnya.
Apabila birokrat di Indonesia memahami nilai – nilai yang terkandung dalam Pancasila ini maka Indonesia akan menjadi negara yang makmur dengan rakyat yang kesejahteraannya terjamin. Pembangunan selalu didukung oleh semangat gotong royong rakyatnya.
Sayangnya di Indonesia saat ini, masyarakat mulai kehilangan jadi diri bangsa. Hal ini terjadi karena masuknya pengaruh asing yang menyebar cepat melalui perkembangan teknologi. Saat ini begitu mudahnya mempelajari budaya asing dengan menggunakan teknologi sehingga membuat masyarakat terbuai dan meninggalkan jati dirinya yang sesungguhnya.
Dimulai dari tunas – tunas bangsa, dari anak – anak hingga orang dewasa. Kini masyarakat semakin meninggalkan warisan nenek moyang kita. Anak – anak lebih suka mendengarkan lagu bernuansa percintaan daripada mendengarkan lagu daerah atau lagu – lagu nasional. Hal ini dapat menyebabkan anak – anak berpikir dewasa sebelum waktunya. Pada masa remaja mereka kemudian mencoba berbagai hal yang dianggap tabu. Mulai dari pergaulan bebas, mencoba budaya – budaya asing yang terangkum dalam gemerlap dunia malam. Disana mereka belajar mengenal budaya hedonisme yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. penyalahgunaan narkoba merajalela, tunas – tunas bangsa teracuni oleh hal – hal tidak berguna yang berujung pada kematian. Inspirasi – inspirasi kaum muda yang seharusnya dapat memajukan bangsa terputus oleh tali hitam dunia malam. Tak hanya tunas – tunas bangsa yang mulai terpengaruh budaya asing, orang – orang dewasa pun mengalami hal yang sama. Mereka kini disibukkan dengan suap menyuap dalam birokrasi, serta korupsi. Nilai – nilai kebersamaan digantikan oleh individualitas yang ingin menguntungkan diri sendiri dan tidak peduli pada nasib orang lain.
Contoh lain dapat kita temui di masyarakat perkotaan. Masyarakat di daerah perkotaan kini tidak saling mengenal dengan tetangga sendiri. Mereka yang hidup di perkotaan menjunjung tinggi privasi sehingga untuk sekedar menanyakan sesuatu dianggap melampaui privasi orang lain. Nilai – nilai gotong royong pun memudar, digantikan dengan individualitas. Selain itu, kepentingan – kepentingan sesaat yang ada pada pikiran orang dewasa membuat mereka lupa untuk mengajarkan budaya sopan santun pada anak – anak mereka. Hal ini menyebabkan kaum muda Indonesia menjadi kaum yang tidak memiliki toleransi dan sopan santun yang tinggi. Citra Indonesia sebagai bangsa yang ramah dapat tergantikan menjadi bangsa yang acuh.
Bangsa Indonesia sulit maju dengan kondisi masyarakat yang demikian. Nilai – nilai yang ditanamkan dari dulu semakin tergantikan dengan arus baru yang tidak sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia. Keadaan semacam ini tidak dapat dibiarkan begitu saja. Masyakarat harus disadarkan pada nilai – nilai Pancasila yang merupakan rangkuman budaya dan falsafah bangsa Indonesia. Pancasila yang merupakan pendidikan karakter sangat perlu diberikan kepada bangsa Indonesia sejak dini. Pendidikan ini dapat membentuk suatu paradigma dan karekteristik agar menjadi bangsa yang maju didukung dengan moral yang baik. Pembentukan karakteristik yang baik bagi bangsa akan membentuk suatu negara yang memiliki sumber daya manusia yang lebih baik dan bermartabat ditinjau dari nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam suatu negara.
Pendidikan karakter  pancasila ini dapat diberikan sedari dini di bangku sekolah. Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.
Pada hakekatnya, hanya pendidikan karakter Pancasila inilah yang dapat membentengi diri bangsa Indonesia dari pengaruh budaya asing. Pancasila dapat menjadi filter untuk memilah budaya asing mana yang dapat diserap dan mana yang harus dihindari. Pancasila sendiri merupakan ideologi yang terbuka, sehingga tidak selalu menuntut hal yang tidak pernah berubah. Pancasila mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.
Dengan adanya teknologi yang canggih saat ini, pendidikan Pancasila tidak hanya dapat diberikan di sekolah, tetapi juga melalui internet, televisi, dan radio. Pancasila diajarkan melalui hal – hal menarik dalam kemasan teknologi canggih, seperti yang termuat dalam kandungan film – film produksi negeri yang mendidik. Pancasila dalam wujud filter menyaring budaya asing dalam teknologi modern, seperti misalnya Lembaga Sensor Indonesia yang bertujuan untuk memutus transfer budaya asing yang tidak mendidik generasi bangsa. Sehingga tunas – tunas bangsa dapat terhindar dari pengajaran yang salah.
Dengan adanya pendidikan karakter ini diharapkan bangsa Indonesia dapat mengenali identitasnya sebagai bangsa yang berbudi luhur, gotong royong, sopan santun. Dalam birokrasi pun para birokrat harus disadarkan pada tugasnya sebagai pelayan masyarakat. Mereka tidak boleh lupa bahwa untuk mengambil sebuah keputusan harus didasarkan pada hasil musyawarah bersama. Sehingga rakyat tidak disengsarakan. Dengan demikian maka rakyat akan mendukung keputusan pemerintah dan bersatu padu membangun bangsa yang besar dan sejahtera.

Senin, 02 April 2012

Analogi Kehidupan dengan Bermotor di Jalanan

Diposting oleh Ken Mercedez di 20.57.00 0 komentar
Suatu sore saat hujan grimis, aku mengendarai motorku dari Bondowoso ke Jember. Di tengah perjalanan pikiranku melayang kemana - mana, kemudian aku menemukan sebuah filosofi ala diriku sendiri seperti berikut ini.

Hidup itu dapat dianalogikan seperti saat kita mengendarai motor di jalanan. Kita punya modal yaitu motor, dan keahlian untuk berkendara, sama seperti hidup, kita punya modal dan kemampuan untuk mencapai tujuan kita.
Jalan mempunyai dua sisi, yaitu sisi dimana kita melaluinya dan sisi yang berlawanan dengan kita. Di sisi jalan yang berlawanan dengan kita, orang - orang yang melaluinya jelas memiliki tujuan yang berbeda dan bersebrangan dengan kita. Tapi di sisi kita, ada orang - orang lain yang punya jalur sama dengan kita. Kadang kita saling mendahului, tegantung pada kecepatan kita mengendarai motor. Ini sama dengan hidup, kadang kita mendahului atau didahului tergantung seberapa cekatan diri kita.
Terkadang proses mendahului ini menimbulkan gesekan sehingga ada pihak yang jatuh bahkan terluka. Itu namanya persaingan tidak sehat. Sebenarnya kita punya 2 kaca spion untuk berhati - hati. Kaca spion ini adalah mata dan nurani kita. kalau kita mau melihat pada spion, kita dapat mengatur strategi agar seminimal mungkin tidak bergesekan dengan orang lain.
Di kanan kiri jalan banyak sekali panorama yang mungkin membuat kita terkesan. Kalau kita terlalu terkesima, kita bisa lupa jalan dan tujuan kita di depan dan bisa jadi kita menabrak sesuatu, terjatuh, bahkan tidak sampai pada tujuan kita. Itulah godaan duniawi.
Hm... begitulah renungan yang kudapatkan di jalan. Aku pengen share ini agar kita semua bisa memetik sesuatu dari renungan ini. Take care, Guys. :D

Sabtu, 31 Maret 2012

New Photos of Pochil, My Lovely Cat

Diposting oleh Ken Mercedez di 09.18.00 0 komentar
Hi Guys, kucingku suka banget bersantai di depan rumah. Ini foto waktu dia lagi mengamati sesuatu...


Ternyata sesuatu itu adalah kumbang di pohon. Waktu dia menyadari keberadaan si kumbang itu, jadilah dia seperti ini:

 

"Ugh, kumbangnya kok gak turun ya... Nungguinnya sampe capek nih," keluh kucingku.



Lamaaaa banget nungguin si kumbang turun, sampe capek nih. xixixi


Setelah kesal menunggu dan lapar menyerang, kucingku memutuskan untuk pulang saja. Sambil jalan dia mencari - cari kumbang yang mungkin aja tergeletak di tanah.


 

Semangat Pochil! Ganbatte ne!




Senin, 26 Maret 2012

Loe Target Gue Part 2

Diposting oleh Ken Mercedez di 10.25.00 0 komentar

Gak kerasa sebulan tlah berlalu. Sekarang perkembangan persahabatan Thata, Lalia dan Mahesa semakin erat. Namun hubungan persahabatan Thata dan Yogi sekarang semakin merenggang. Yogi udah terlalu sibuk dengan Shasha. Tiap kali Thata mencari Yogi dirumahnya, cowok berkacamata itu gak pernah ada. Yang ada Cuma mbok Par. Prestasi Yogi mulai menurun karna ia sering pulang malam bersama Shasha. Sebenernya apa sih yang dilakuin mereka berdua sampe pulang malem2 gitu?...

            “Coba loe cari tau deh,Li… Sebenernya apa sih yang terjadi sama Yogi? Loe kan punya indera keenam…” pinta Thata disuatu siang.
            “Ehm… Tunggu ya,coba gue pikir dulu…” kata Lalia. Lalu cewek ini duduk bersila dan memejamkan kedua matanya. Sementara Thata meraih bantal dan menggigitnya karna gak sabar menunggu hasil penerawangan Lalia. Sah2 aja donk Thata mau gigit bantal, secara mereka lagi ada dikamar pribadi Thata.
            7menit kemudian Lalia membuka matanya. Dahinya berkeringat.
            “Gimana?” Tanya Thata gak sabar. Dia melepas bantal yang basah karna liurnya itu. Hiiy… Thata jorok juga ya…
            “Gawat! Yogi lagi dalam bahaya,Tha… Shasha itu bukan cewek baek2. Dia tiap malem ngajak Yogi clubbing, balapan mobil di jalan Tol,dan…” Lalia menghentikan ucapannya.
            “Dan apa,Lil?” Tanya Thata tambah penasaran.
            “Yogi sekarang jadi pemabuk gara2 Shasha… Besok loe pasti kaget lihat penampilan baru Yogi…” ujar Lalia yakin.
            “Astaga… Apa yang terjadi…” Thata tak kuasa menahan tangis.
            “Tabah ya, Tha… Gue tahu perasaan loe pasti hancur…” Lalu cewek yang mengenakan kerudung cokelat itu merangkul sahabatnya.
            “Gue prihatin,Li… Sapa juga cewek yang seneng liat cowok yang dia sukai hancur kayak gitu hanya karna seorang cewek gak bermoral?” Thata menangis tersedu-sedu dalam pelukan sahabatnya.
            “Sebaiknya sekarang loe pergi kerumah Yogi… Mumpung dia sekarang lagi ada dirumahnya… Sapa tau setelah loe ngomong baek2 sama dia,perasaannya jadi luluh,Tha…” saran Lalia.
            “Kalo gitu sekarang gue kerumah Yogi dulu ya,Li…” lalu Thata segera bergegas kerumah Yogi.
            Karna keburu-buru,Thata gak nyadar kalo disebelah pintu kamarnya ada Mahesa yang mendengar semua omongan Thata dan Lalia tadi.
            “Kak Mahesa… Udah berapa lama kakak berdiri disitu?” Tanya Lalia kaget.
            “Dari tadi…”jawab Mahesa lesu.
            “Jadi kakak denger omongan gue sama Thata?” Tanya Lalia.
            “Iya… Maaf,gue gak sengaja…” ucap Mahesa. Lalu dia beranjak pulang dengan membawa sebuket mawar merah yang dari tadi dia rangkul.
            “Tunggu,Kak… Lia ikut dengan kakak…” kata Lalia. Lalu dia keluar bersama Mahesa.


            “Jadi Thata sayang sama Yogi?” Tanya Mahesa ketika mereka berada di mobilnya.
            “Iya,Kak…” jawab Lalia. “Kakak gak kenapa2?” Tanya Lalia khawatir.
            “Jangan khawatir gitu,Li… Gue emang sayang sama Thata. Tapi gue gak akan nyerah ngedapetin cintanya.” Ujar Mahesa.
            “Tapi kakak gak berniat maen2in dia sepeti cewek2 yang lainnya kan,Kak?” Tanya lalia lagi.
            Mahesa tersenyum. Walau hatinya menangis.
            “Loe jangan khawatir,Li… Di dunia ini gue memang benci semua perempuan karna gue dendam dengan nyokap gue yang tega ninggalin gue sama bokap gue sendirian hanya demi seorang om2 konglomerat. Yang ngakibatin bokap gue sakit jiwa dan harus dirawat di Lawang…” Mahesa menghela napas sejenak. “Tapi didunia ini hanya ada dua cewek yang gue sayang,yaitu loe dan Thata. Gue udah anggap loe adik kandung gue sendiri, tapi kalo Thata… Gue sayang sama dia karna gue cinta sama dia…” ujar Mahesa lemah.
            “Makasih,Kak… Dari dulu Lia juga udah anggep kak Mahesa sebagai kakak kandung Lia sendiri. Lia akan selalu ada untuk nemenin kakak… Tapi Lia gak bisa maksain Thata. Kalo Thata suka sama Yogi,Lia gak bisa nyomblangin kakak…”
            “Iya,gue tau. Loe emang sahabat yang baik. Gue gak papa,kok. Seandainya Thata lebih milih Yogi ketimbang gue… Gue akan terima. Loe jangan berenti dukung Thata ya? Saat ini dia sedang butuh banget dukungan loe…” pesan Mahesa.
            “Thata juga butuh sosok seperti kak Mahesa…” tambah Lalia.
            “Ya… Gue akan selalu ada disisinya. Gue akan tunggu sampe Thata bisa buka hatinya buat gue…” kata Mahesa. “Oh ya, loe kan pinter ngeramal,coba loe ramalin gimana masa depan gue. Apa akhirnya gue bisa dapetin Thata?”
            “Maaf kak… Tapi coba kakak pikir. Kalo setiap orang di dunia ini tahu masa depannya nanti gimana, dia gak akan bekerja keras untuk masa depannya karna dia akan pasrah nrima hidupnya yang baik,atau juga buruk… Jadi lebih baik kakak gak tahu apa rahasia Tuhan dulu… Jangan mendahului kehendak-Nya. Yang penting kakak usaha dan tawakal aja dulu…” terang Lalia.
            “Apa yang loe bilang bener juga ya,Li… Iya,gue akan ikutin kata2 loe. Loe harus jadi penasehat gue ya?” ujar Mahesa sambil mengedipkan sebelah matanya.
            “Ih,genit deh… Iya kak,tenang aja…” kata Lalia.

                                                            ***
            “Hei,Gi…” sapa Thata setelah menunggu 10 menit diruang tamu cowok itu.
            “Oh,elo Tha… Gue pikir Shasha…” Yogi mengucek matanya. Cowok itu baru aja bangun dari tidur siangnya.
            “Ehm… Gue ganggu loe tidur siang ya?” Tanya Thata. Dia jadi ngerasa gak enak hati. Tapi kan tadi yang nyaranin Thata supaya kerumah Yogi kan Lalia…
            “Gak juga… Ada perlu apa,Tha?” Tanya Yogi. Lalu dia duduk di sebelah Thata.
            “Gue Cuma pengen ngobrol aja sama loe. Udah 1bulan kita jauhan… Loe sering gak masuk skolah. Kalo masuk juga sering tidur di kelas. Loe sibuk ya?”
            “Ya gak sibuk2 amat sih…”jawab Yogi asal2an.
            “Gi,loe masih anggap gue sahabat loe,kan?” Tanya Thata ragu.
            “Yeah…Masih…” Yogi menggaruk kepalanya.
            “Gimana kabar loe?” Tanya Thata lagi.
            “Baek…” jawab Yogi sekenanya.
            “Sebenernya gue kesini pengen ngomong sesuatu sama loe…” ujar Thata pelan.
            “Ngomong apa?” Tanya Yogi.
            “Gue mau ngomong kalo loe sekarang mulai berubah,Gi… Loe bukan Yogi yang gue kenal dulu. Yogi yang dulu adalah cowok yang rajin, ramah, ngegemesin, lelet… Tapi sekarang loe udah gak kayak gitu lagi. Apa loe ngerasain perubahan dalam diri loe?”
            “Yaah… Mungkin sekarang gue berubah jadi lebih percaya diri dan banyak temen…” kata Yogi sambil menerawang jauh.
            “Loe seneng dengan perubahan diri loe?” Tanya Thata lagi.
            “Ya seneng donk… Kata Shasha gue banyak perkembangan baik…”
            “Nggak,Shasha salah. Sekarang loe tambah ancur. Yogi,coba loe ingat. Dulu loe murid yang rajin,mesti semangat untuk datang ke sekolah. Tapi sekarang loe sepertinya ogah2an masuk skul. Loe bilang walaupun loe jauh sama ortu,loe tetep sayang sama mereka dan pengen dapet juara terus supaya mereka senang,apa sekarang loe udah lupa?”
            “Gue udah gak mikirin itu lagi. Shasha bilang,jalani hidup ini dengan sebahagia mungkin selama kita masih muda. Life must be enjoy, karna hidup cuma satu kali…” terang Yogi.
            “Tapi apa yang Shasha bilang itu kurang bener… Hidup memang harus dinikmati,tapi secara wajar… Agar masa depan kita indah dan juga bahagia…” ralat Thata.
            “Loe tuh kenapa sih? Dari tadi nyalahin Shasha melulu…” Yogi mulai berang.
            “Karna Shasha memang salah… Loe cowok yang pinter,coba loe pikir2 lagi kalo omongan gue ini emang bener…” yakin Thata.
            “Alaah… Apa peduli loe sama gue? Yang penting kan gue sebagai orang yang ngalamin sendiri ngerasa seneng, jadi kenapa mesti loe yang repot?” bentak Yogi. Dia berdiri dari kursi tempatnya duduk.
            “Tentu aja gue repot mikirin cowok yang gue cintai jadi ancur kayak gini hanya karna seorang cewek yang tiba2 aja datang untuk ngancurin hidupnya…” Thata juga beranjak dari tempat duduknya dan berhadapan dengan Yogi.
            Yogi benar2 terkejut mendengar omongan Thata.
            “Apa loe bilang???” Tanya Yogi.
            “Gue sayang sama loe… Gue cinta sama loe,Yogi…”  ujar Thata.
            “Tapi gue gak cinta sama loe! Yang gue cintai itu Shasha!!!” bentak Yogi. “Jadi mulai sekarang loe gak usah sok perhatian lagi sama gue… Gue udah ilfil sama loe karna loe udah nyatain hal2 konyol kayak tadi…” Yogi menuding-nuding Thata.
            “Loe bilang apa yang gue ungkapin tadi konyol,Gi? Kalo gitu loe juga konyol jatuh cinta sama cewek gak bener kayak Shasha!!!”
            “Pergi loe dari rumah gue! Mulai sekarang gue akan nganggep loe musuh gue!!!” Yogi mendorong paksa Thata untuk keluar dari rumahnya. Saat itu hujan sangat deras. Tapi Yogi gak peduli. Setelah dia mendorong Thata keluar dari rumahnya, ia segera mengunci pintu dan gak mau tahu dengan nasib Thata yang basah kuyub terkena hujan.
            Thata berjalan di jalan kompleks rumah Yogi untuk pulang. Airmatanya mengalir dan dadanya terasa sesak sekali. Dia bener2 gak nyangka Yogi sejahat itu. Tiba2 kepalanya terasa pusing dan hidungnya berdarah.
            “Lagi-lagi mimisan…” ujar Thata. Tapi kepalanya semakin pening. Ia tak mampu melihat jalan dengan jelas. Semuanya terasa remang2… Ada seorang cowok yang menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. Tapi Thata tidak mampu mengenali cowok itu. Dan dia jatuh… Setelahnya,ia tak tahu apa2 lagi…

                                                            ***
            “Thata…” isak seorang cewek berkerudung pink disebelah ranjang sahabatnya yang tergeletak lemah dengan selang infuse di tangannya itu.
            “Kenapa bisa kayak gini sih,Ngga?” Tanya Mahesa pada Angga.
            “Gue gak tahu… Tadi gue nyari Thata karna hujan sangat deras tapi dia gak ada dirumah. Gue ngeliat dia gak kuat jalan di aspalan tadi,dia sibuk bersihin darah dihidungnya. Ketika gue lari nyamperin dia, dianya udah keburu pingsan. Lalu karna gue panik,gue langsung bawa dia ke rumah sakit ini…” terang Angga.
            “Terus dokter bilang apa?” Tanya Mahesa khawatir.
            “Tadi dokter meriksa dia dan ngambil sample darahnya, tapi hasilnya gue belum tahu…” ujar Angga lemah. Dia sangat sedih dengan kondisi adiknya yang masih belum sadarkan diri itu.
           
Tiba2 dokter datang bersama seorang perawat yang hendak memeriksa selang infuse Thata.
            “Kerabatnya saudari Mirtha disini siapa?” Tanya Dokter.
            “Saya kakaknya,Dok…” Angga maju menemui dokter.
            “Mari ikut keruangan saya sebentar…” ajak Dokter. Angga mengangguk setuju.
                                                            ***
            “Jadi adik saya kenapa,Dok?” Tanya Angga cemas.
            “Sudah sejak kapan adik Anda mimisan? Kenapa tidak ada yang membawanya check-up ke dokter?” Tanya Dokter itu.
            “Saya tidak tahu apa2,Dok… Adik saya tidak pernah mengeluh soal kesehatannya. Dan saya baru tahu adik saya mimisan baru tadi…” jawab Angga.
            “Perlu Anda ketahui bahwa adik Anda menderita kanker otak.Tapi ini masih stadium1. Jadi lebih baik segera di operasi sebelum terlambat…” saran dokter.
            “Kanker otak,Dok???” Angga membelalak tak percaya.
            “Ya… Sebaiknya cepat ditangani sebelum terlambat…” kata dokter.
            “Baiklah,Dok… Saya akan memberitahu ayah saya di Surabaya agar adik saya cepat ditangani…” kata Angga mantap.

                                                            ***
            Yogi terdiam. Bayang2 Thata masih lekat dibenaknya. Dia tak pernah tahu perasaan gadis itu hingga siang tadi. Dan kenapa dengan bodohnya dia mendorong gadis itu dengan kasar? Konyolkah jika Thata mengungkapkan perasaannya pada diri Yogi?

            “Hei,Gi... Kenalin ini temen gue,namanya Windy…” kata Shasha.
            “Oh,hai…” sapa Yogi. Tapi tiba2 hidung Yogi berdarah. Astaga… Alergi cewek-Yogi kambuh…
            “Ih, temen loe kenapa,Sha? Kok mimisan gitu?” Tanya Windy dengan tatapan jijik.
            “Dia alergi cewek…” kata Shasha bingung.
            “Kok loe mau sih temenan sama orang aneh kayak dia? Alergi kok sama cewek…” ujar Windy.
            “Sha,cepet ambilin gua tisu…” pinta Yogi. Dia tidak menghiraukan ucapan Windy karena hidungnya mengeluarkan banyak darah. “Dan suruh temen loe jauhin gue karna hidung gue tambah banyak darahnya kalo dia tetep ada disini…” kata Yogi. Dia panik mencari tisu.
            “Eh,Sha… Seumur hidup gue baru nih cowok yang berani ngusir gue… Sekarang loe pilih pergi sama gue apa si aneh ini?” Tanya Windy.
            Shasha kebingungan. Sebenernya dia juga malu berat melihat Yogi berdarah disebelahnya.
            “Sha,cepet cariin gue tisu…!” desak Yogi.
            “Ogah!!! Loe cari sendiri aja! Gue mau pergi sama Windy… Muak gue liat loe berdarah melulu setiap gue kenalin sama temen cewek gue…” ujar Shasha. Lalu dia pergi bersama Windy meninggalkan Yogi di tempat clubbing itu.
            “Shasha…” panggil Yogi. Tapi Shasha gak peduli. Kini Yogi mulai menyesal… Shasha ternyata gak sebaik yang dia kira. Tidak seperti Thata yang selalu setia menemaninya dan gak pernah keberatan bantuin Yogi ngusap darah dihidungnya setiap Yogi ketemu cewek lain… Tiba2 Yogi merasa sangat kangen pada senyum Thata. Ekspresi Thata yang selalu cemberut menunggunya bila mereka hendak pergi bersama. Rangkulan Thata, cubitan Thata, lemparan tas Thata,dan semua tentang Mirtha Dwi Wardhani…
            Yogi segera membersihkan hidungnya dan pergi dari tempat clubbing untuk segera menemui Thata dan meminta maaf pada gadis itu.
                                                            ***
            “Thata ada,Kak?” Tanya Yogi sesampainya dirumah Thata. Dia melihat Angga sedang sibuk memasukkan barang2 kedalam bagasi mobilnya. Karna tas yang dibawa Angga udah gak muat,tiba2 ada sebuah T-shirt yang jatuh dari tas itu. Yogi masih ingat bahwa T-shirt berwarna pink itu adalah T-shirt yang dipilihkannya untuk Thata ketika di mall. Dan hari itu juga merupakan hari pertemuannya dengan Shasha.
            Yogi hendak mengambil T-shirt yang jatuh itu,tapi Angga terlebih dulu menyabetnya.
            “Jangan sentuh barang2 adik gue!” kata Angga dengan kasar.
            “Memangnya kenapa,Kak? Untuk apa kakak bawa barang2 Thata?” Tanya Yogi bingung.
            “Gak usah banyak tanya deh,Loe! Ini semua gara2 loe sampe adik gue masuk rumah sakit! Dan ini buat ganti baju adik gue yang basah kuyub kena hujan tadi siang!” ujar Angga ketus. Ia bergegas masuk ke dalam mobil Mercedesnya.
            “Thata masuk rumah sakit??? Gue ikut kesana ya,Kak?” pinta Yogi.
            “Lepasin tangan gue! Udah deh,gak usah sok peduli sama adik gue. Bukannya dia udah jadi musuh loe?!!!” hardik Angga. Lalu cowok tinggi itu memasuki mobilnya dan meniggalkan Yogi tanpa babibu.
            Tinggallah Yogi yang terpukul dengan kondisi Thata saat ini. Dia kembali kerumahnya dengan perasaan galau.
***
            Yogi membuat sebuah surat untuk Thata. Setelah Angga pergi meninggalkannya tadi malam, dia menelpon rumah Thata. Kebetulan yang angkat teleponnya saat itu adalah pembantu Thata. Tante Narsih,pembantu Thata itu memberi tahukan alamat rumah sakit tempat Thata dirawat.
            Dan pagi ini, Yogi sudah tak sabar untuk segera membesuk Thata. Tante Narsih bilang hari ini Thata akan dioperasi, maka Yogi bermaksud memberi semangat pada Thata. Dia segera masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya dengan kencang.
            Jalan Merak pagi ini sangat ramai. Tapi Yogi gak peduli. Dia tetap mengendarai mobilnya dengan kencang. Sampai di perempatan jalan,lampu lalu lintas yang menyala adalah kuning. Sebentar lagi berganti merah. Yogi tidak mau menunggu lama lagi, di segera menerobos. Tanpa disadarinya sebuah truk melintas dengan kencang dari arah samping kanan.Dibelakang truk itu melintas sebuah bis dan sebuat taxi. Yogi terlambat menghindar sehingga sebuah tabrakan beruntun terjadi…
                                                            ***
            “Astagfirullah…” ujar Lalia tiba-tiba di depan ruang operasi.
            “Ada apa, Li?” Tanya Mahesa dan Angga bersamaan. Sementara itu ayah Thata yang ikutan panik berdiri dari kursi ruang tunggu.
            “Yogi… Dia kecelakaan di jalan Merak,Kak… Dan sekarang dia ada di depan rumah sakit ini…” terang Lalia pada Mahesa dan Angga. Dua cowok itu percaya,karna mereka tahu Lalia memiliki kelebihan dan tak pernah berbohong pada mereka.
            “Ayo kita segera ke depan!” Ajak Mahesa. Lalu ketiga remaja itu segera berlari ke depan rumah sakit.
            Benar ternyata, Yogi sedang dibawa dengan kereta dorong ke dalam ruang operasi.
            “Yogi…” ucap Lalia panik.
            “Lia… Gue mohon,kalo ada sesuatu sama gue… Tolong kasih surat ini sama Thata…” Yogi memberikan sebuah surat yang amplopnya ternoda oleh darah Yogi.
            Lalia segera mengambilnya.
            “Loe jangan ngomong macem2,Gi!!!” seru Angga. Dia ikut berlari mengejar kereta dorong yang membawa Yogi.
            “Gue gak kuat lagi…” erang Yogi ketika mereka telah sampai di depan ruang operasi.
            Karna pegawai rumah sakit melarang ketiga remaja itu untuk ikutan masuk,maka mereka hanya menunggu terpaku di luar dengan deraian tangis.

Satu jam kemudian operasi yang dijalani Thata berjalan dengan sukses. Tapi operasi yang dijalani Yogi gagal. Yogi menghembuskan nafas terakhir di ruang operasi…
Ayah dan ibu Yogi datang untuk mengambil jenazah putra tunggalnya. Tapi Shasha sama sekali tak terlihat batang hidungnya… Mahesa,Angga,dan Lalia ikut mengantar jenazah Yogi ke rumah duka.
                                                                        ***     
Keesokan harinya di rumah sakit Melati...
            “Halo Lalia,Kak Angga,Kak Mahesa,dan papa juga...” ujar Thata riang. Dia memeluk semuanya. “Wah,kalian semua datang menjengukku... Sayangnya Yogi tidak ada disini...” sesal Thata.
            “Tha... Sebenarnya ada yang mau kita omongin... Gue harap loe bisa tabah...” ujar Lalia sedih.
            “Apa?...” tanya Thata bingung.
            “Yogi... Sssudah... Dipanggil Tuhan kemarin...” kata Mahesa.
            “Hah? Gak mungkin!!!” elak Thata.
            “Kemarin dia meninggal dalam sebuah tabrakan beruntun ketika hendak menjengukmu disini... Dan dia nitipin surat ini buat kamu...” lanjut Lalia. Gadis itu menyerahkan sebuah surat dari Yogi.
            “Yogi...!” seru Thata. Dia menangis tersedu-sedu.
            “Tabah ya,Tha... Semua yang ada didunia ini gak ada yang abadi. Mungkin sudah saatnya Yogi pergi. Kita harus merelakannya agar dia bisa tenang di alam barzah...” hibur Angga.
            Thata masih menangis tersedu-sedu. Suasana menjadi haru biru karena tangisan Thata. Kini Yogi telah pergi untuk selamanya dan gak akan pernah kembali lagi.

Setelah Thata dapat menenangkan diri,ia membuka surat dari Yogi. Isinya:

Dear Thata,

            Gue sangat menyesal udah jahat sama loe... Gue gak mau dengerin kata2 loe yang ternyata adalah benar. Dan yang lebih gue sesali kenapa gue harus ngusir loe dan bilang bahwa loe udah jadi musuh gue. Gue udah dibutakan oleh cinta. Gue sangat mencintai Shasha. Tapi dia gak penah tahu apa yang gue rasain sama dia. Perasaan ini udah lama terpendam sejak gue kecil. Maaf ya,Tha... Gue gak bisa balas cinta loe sama gue. Karna selama ini yang gue cintai hanyalah Shasha. Cinta memang gak harus memiliki..Sama seperti gue yang gak bisa loe miliki, dan Shasha yang juga gak pernah bisa gue miliki... Tapi kehilangan seorang sahabat seperti loe sangat menyiksa batin gue... Gue udah kehilangan sahabat yang selalu ada untuk dampingin gue dan mendengar semua keluh kesah gue. Loe sangat berharga dalam hidup gue. Karna loe adalah satu2nya sahabat yang ngertiin gue. Hari ini gue dateng jenguk loe untuk kasih support buat loe yang akan ngejalanin operasi... Karna setelah ini gue akan pergi ninggalin loe... Gue gak tahu,Tha... Tapi hati gue resah..Gue ngerasa akan ada sesuatu yang nyebabin gue pergi. Maaf ya,gara2 gue loe harus masuk rumah sakit... Gue rela kehilangan nyawa gue hanya untuk kesembuhan loe... Gue harap loe mau maafin gue dan gak akan nglupain gue selamanya... Oh ya,gue punya puisi buat loe...
                                                            Sahabat

Ketika senja telah tiba
Sang surya pergi entah kemana...
Tinggallah diriku seorang diri
Terpuruk dalam keheningan yang hampa
Terdiam aku disudut malam
Menanti seberkas cahaya menembus sunyi
Dan bila kau berkenan hadir
Maka berilah aku secercah cahayamu
Tuk terangi aku dalam pekat malam yang menyiksa
Wahai sahabat....
            Sahabatmu,

                                                                                                Antonio Ghiransyah


Kini tanpa terasa setahun telah berlalu sejak kematian Yogi. Selama setahun ini pula Thata masih belum dapat melupakan Antonio Giransyah,atau yang sering disebut Yogi. Cowok itu sangat berarti dalam hidup Thata. Namun Thata gak sendiri,ada Mahesa dan Lalia yang selalu nemenin dia. Yang selalu menghibur dan mengajak Thata bercanda untuk melepaskan kesedihannya.
            Mahesa setiap hari datang kerumah Thata. Alasannya selalu ada. Yang mau nyamperin Angga kek, mau minjem kaset CD, mau ngajakin nonton, atau mengantarkan Lalia kerumah Thata. Tapi buntutnya dia nyamerin Thata… Cowok ini memang punya semangat tinggi untuk menemui sang pujaan hati.
Seperti juga saat sore ini…

“Hai,Tha…” sapa Mahesa dan Lalia berbarengan.
“Hei,prends… Ada apa ne kalian kerumah sore2 gini?” Tanya Thata.
“Cuma pengen ngajak loe jalan2 ke taman bunga. Mau nggak? Angga juga ikutan…” ujar Mahesa.
“Ehm… Daripada gue bengong disini… Kayaknya boleh juga pergi sama kalian…” kata Thata. Lalu dia bangkit dari kursi ruang tamu untuk menyambut 2 sahabatnya itu.
“Yuk,berangkat!” kata Angga yang tiba2 muncul dari dalam.
Lalu keempat remaja itu pergi bersama-sama ke taman bunga.
                                                            ***
Sesampainya di taman bunga, Mahesa ngajak Thata jalan berduaan, jadi Lalia cuma jalan sama Angga…
            “Gue deg-degan,Tha… Besok kan pengumuman kelulusan…” kata Mahesa sembari memegang dadanya.
            “Tenang aja lagi! Thata yakin banget kak Mahesa pasti lulus dengan nilai yang tinggi. Harus optimis donk!” kata Thata. Dia menyikut lengan Mahesa.
            “Makasih ya… Semoga aja apa yang loe bilang jadi kenyataan…” ujar Mahesa.
            “Amien… Ehm,kalo kak Mahesa udah lulus pengen ngelanjutin kemana?” Tanya Thata penasaran.
            “Gue pengen ngelanjutin ke Universitas Kedokteran. Pengennya jadi dokter spesialis jantung.” Jawab Mahesa.
            “Kenapa?” tanya Thata lagi.
            “Ya pengen aja... Itu udah jadi cita2 gue dari SD.” Jawab Mahesa.
            “Kuliahnya di kota apa?”
            “Ada dech... pokoknya ini surprise buat kamu...” kata Mahesa.
            “Cielah... Pake’ surprise segala... Bisa aja loe...” Thata menyikut lengan Mahesa sekali lagi.
            “Hehehe...” Mahesa cuma nyengir. “Eh, ada pedagang es Walls tuh! Beli yuk!” ajak Mahesa. Lalu dia menarik lengan Thata.

***

            Sementara itu,di sebuah Mack Donald...
            “Kriteria cowok yang loe idam2kan kayak apa,Li?” tanya Angga.
            “Uhuk...uhuk...” Lalia terbatuk mendengar pertanyaan Angga.
            “Lia... Kamu kenapa? Nih diminum dulu...” Angga bangkit dari kursinya dan menepuk-nepuk punggung cewek berkerudung putih itu sembari memberinya minum.
            “Ehm... Makasih ya,Kak...” ucap Lalia setelah meneguk segelas air putih pemberian Angga.
            “Sama2... Sekarang jawab donk,kriteria cowok yang loe mau kayak gimana?” ulang Angga sekali lagi.
            “Cowok yang gue pengen itu yang sholeh,rajin beribadah,pinter,mau bekerja keras,setia,penyayang,dan perhatian sama ceweknya...” jawab Lalia,kemudian dia mengambil sebuah donat dipiringnya.
            “Kalo gue,masuk dalam kriteria cowok pilihan loe nggak?” tanya Angga.
            “Uhuk...Uhuk...” Lalia kembali batuk.
            “Lia... Hati2 donk kalo makan...” Angga memberikan segelas air. Kali ini dia mengambil sebuah tisu untuk mengelap pipi Lalia yang belepotan donat.
            “Ehm... Gimana ya...” Ujar Lalia bingung. “Kalo menurut kakak gimana?” Lalia balik tanya.
            “Jujur aja,ya... Menurut gue, gue sangat cocok dengan kriteria cowok loe... Kriteria cowok yang loe sebutin tadi adalah ciri2 gue...” kata Angga penuh percaya diri. Lalia hanya termangu. Sejak kapan Angga jadi Narsis berat kayak gini? Pikir Lalia.
            “Jadi loe tunggu apa lagi? Loe jadian sama gue aja! Cowok tipe gue gini jarang ada di dunia. Pasokannya mulai menipis!” ujar Angga lagi.
            “Kakak cuma bercanda aja,Kan?” tanya Lalia.
            “Gue serius 100%! Loe mau kan jadi cewek gue?” tanya Angga.
Lalia ternganga... Baru sekali ini ada cowok yang nembak dia. Karna salama ini cowok2 yang Lia kenal gak ada yang tipe ceweknya berkerudung sepertinya.
            “Bumm... Daripada lalat yang masuk,mendingan donat yang masuk ke mulut cewek cakep ini...”  Angga mencomotkan sebuah donat ke mulut Lalia. Hah??? Mencomotkan sebuah donat ke dalam mulut cewek??? Angga gak sopan banget ya...
            “Jadi gimana,Li? Loe mau kan?” harap Angga.
            “Gggguuuueeee.... gak bisa... nolak harapan loe...” jawab Lalia terbata-bata.
            “Jadi... Loe nerima pernyataan cinta gue???” tanya Angga tak percaya.
            “Iya...” jawab Lalia tersipu malu.
            “Yahuuu... Makasih Lalia... Gue gak akan ngecewain loe...” ujar Angga kegirangan. Sampai2 semua pengunjung Mack Donald memandang aneh pada mereka berdua.
            “Ssst... Kan malu kak,jangan keras2 donk!” bisik Lalia. Wajahnya jadi merah merona.
            Kemudian seorang MC berteriak,”Hei cowok yang disana... Mau memersembahkan sebuah lagu untuk ceweknya,nggak?”
            “Tentu saja!” lalu Angga menghampiri MC itu.
            “Loe mau nyanyi apa?” tanya si MC.
            “Gue mau mempersembahkan sebuah lagu berjudul Sempurna buat cewek disana yang pake kerudung putih. Hari ini adalah hari istimewa gue,karna hari ini cewek yang gue taksir selama ini berhasil gue miliki...” kata Angga. Lalu dia mulai bernyanyi...
“Kau begitu sempurna...
Dimataku kau begitu indah...
Kau membuat diriku akan selalu memujamu
Disetiap langkahku,
Ku kan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu...
Janganlah kau tinggalkan diriku...
Takkan mampu menghadapi semua
 Hanya bersamamu ku akan bisa...
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu sempurna
Sempurna...
Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku”

Kebayang,kan betapa senangnya hati Lalia saat ini... Duuh... So sweetnya...

***


            “Thata...!” seru Angga. Lalu dia menghampiri adiknya itu dan memeluknya.
            “Ih,apaan sih meluk2?” kata Thata dengan kasarnya.
            “Loe harus say Congratulation buat gue... Hari ini gue berhasil jadian sama Lalia...” kata Angga dengan bangga.
            “Whats? Gue gak nyangka loe berhasil dapetin cewek sesempurna Lalia... Selamat ya?” kata Thata. Lalu dia memberikan sebuah ciuman di pipi kakaknya itu.
            “Thanks ya,dedekku yang manizzz...” ujar Angga.
            “Eh,jangan seneng2 dulu... Pajak jadiannya mana?” tanya Thata.
            “Iya deh... Berhubung hari ini gue lagi hepi berat,gue akan teraktir loe es krim...” kata Angga.
            “Wah... Tadi gue udah kenyang makan es krim sama Mahesa... Yang lain aja deh...” bujuk Thata.
            “Ya udah... Kalo gitu ntar malem kita pergi ke Kerajaan Cokelat ya?” tawar Angga.
            “Oce dech...”
            “Tapi ngomong2 nih... Hubungan loe dengan Mahesa gimana? Masa’ setahun tlah berlalu tetep gak ada perkembangan? Contohlah gue,Dek... Setahun tlah berlalu akhirnya gue jadian juga kan sama Lalia...” kata Angga.
            “Narsis banget,Loe!” ejek Thata.
            “Boleh2 aja kan gue narsis sama loe... Jadi,gimana perasaan loe sama Mahesa?” tanya Angga.
            “Gue gak tahu,Kak... Setiap kali gue deket sama Mahesa,gue ngerasa tentrem. Kalo gue gak ketemu dia sehari,rasanya ada yang kurang...” kata Thata. “Tapi... terkadang gue inget Yogi...”
            “Loe cuma inget Yogi karna loe kangen sama dia... Itu wajar. But life must go on. Kalo elo ngerasa jatuh cinta lagi sama seseorang,elo harus berjuang supaya loe gak kehilangan orang yang loe cintai kayak dulu...” nasehat Angga.
            “Duh,gue gak tahu deh... Puyeng gue mikirin itu... Biarlah... Gue ngikut arus aja...” kata Thata. Lalu dia ngelonyor pergi ninggalin kakaknya yang geleng2 kepala ngeliat sikap dedeknya itu.
                                                           
***
            “Horrre.... Akhirnya gue lulus!!!!” seru Mahesa dengan senangnya.
            “Gue juga lulus,Coy... Sini spidolnya, gue bakal tanda tangan di boxer loe... Hahaha...” timpal Angga.
            “Enak aja,loe! Ngomong sama tangan! Gue mau nyari Thata di kelasnya dulu... Dia harus jadi orang pertama yang tanda tangan di seragam gue...” kata Mahesa. Lalu dia pergi tanpa babibu pada Angga.
            “Eh,ngajak2 gue dong! Gue juga mau nyamperin yayang Lia...” ujar Angga.
            “Yayang,yayang... Kepalalu peyang?” celetuk Mahesa.
            “Ye... ngiri ya sama gue?” selidik Angga.
            “Ngapain gue ngiri sama cowok narsis tingkat stadium akhir kayak loe...” bantah Mahesa.
            Dan kedua cowok ini bersama-sama menghampiri gadis pujaannya.
                                                            ***

            “Halo... Mahesanya ada?” tanya Thata ketika dia menelpon kerumah Mahesa.
            “Den Mahesa gak ada,Non... Udah berangkat ke Airport dari tadi...” ujar pembantu Mahesa yang menerima telepon dari Thata.
            “Airport???? Ya udah,Bi... Makasih ya...” lalu Thata menutup telepon.
            “Kenapa,Tha?” tanya Angga heran melihat kepanikan adiknya itu.
            “Kak... Kenapa tiba2 kak Mahesa ke airport ya? Hpnya dari tadi gak bisa di hubungin. Kenapa ya,Kak?” tanya Thata panik.
            “Loh,emangnya Mahesa gak bilang sama loe kalo dia mau berangkat ke Airport siang ini?” tanya Angga.
            “Nggak... Jangan2 dia mau ninggalin Thata tanpa ngomong apa2 ya kak... Tau2 pergi ninggalin sepucuk surat kayak Yogi...”
            “Gue gak tahu... Mungkin dia mau kuliah di luar kota...” kata Angga dengan ragu.
            “Terus gimana ini,kak?” tanya Thata panik.
            “Loe tunggu apa lagi? Cepetan susul dia di airport!!!!” seru Angga.
            Tanpa pikir panjang,Thata segera pergi menyambar kunci mobil yang tergeletak manis di meja ruang keluarga.

                                                            ***
            Jalanan lagi macet di siang bolong karena bertepatan dengan jam pulang kerja. Ditambah lagi ban mobil Thata bocor. Untung di sebelahnya berdiri sebuah bengkel, Thata segera menyervis mobilnya disana. Tapi untuk menunggu hingga ban mobilnya diganti terlalu lama,karna antrean panjang. Naek kendaraan lain juga percuma,jalanan lagi macet total.... Thata memutuskan untuk berlari ke airport. Yaah... cinta memang sanggup membuat seorang insan rela melakukan apa saja demi sang pujaan hati. Thata rela berpanas-panasan dibawah terik matahari demi mengejar Mahesa. Tapi tiba2... Sandal Thata copot... Waduh... Gimana ini? Akh... Masa bodoh... Thata melepas sandalnya dan berlari menuju airport. 50 meter lagi Thata akan sampai. Panasnya jalan beraspal gak dihiraukan lagi oleh Thata. Dia terus berlari. Hingga sampailah dia di airport. Segera dia celingukan mencari sosok Mahesa. Dilihatnya seorang cowok yang berjalan di ruang tunggu. Dia adalah Mahesa...
            “Kak Mahesa!!!!” teriak Thata.
            “Hei,Tha... Ada apa?” segera Mahesa menghampiri Thata.
            “Kakak tega mau ninggalin Thata tanpa bilang satu kata pun...” Thata memukul dada Mahesa yang bidang.
            “Maksud loe apa?” tanya Mahesa bingung.
            “Maksud loe apa?!!! Maksud gue,kenapa loe tega mau ninggalin gue pergi gak bilang2!!!” seru Thata disertai isak tangis.
            “Cup...cup... Gue gak akan ninggalin loe,kok... Udah donk,jangan nangis...” Mahesa menghapus airmata Thata dan memeluknya dengan lembut.
            “Janji ya? Thata gak mau kehilangan untuk kedua kalinya...” ujar Thata sambil terisak dalam pelukan Mahesa.
            “Iya... Gue janji...” kata Mahesa lembut.
            “Terus kenapa kakak pergi ke airport? Berarti kan kakak mau  pergi ninggalin Thata?” tanya Thata bingung.
            “Idih... siapa yang mau pergi? Gue kan kesini untuk jemput bokap gue dari Lawang...” jawab Mahesa disertai tawa.
            “Hah?... Wah,rugi donk gue sampe bertelanjang kaki lari panas2an di siang bolong ngejar loe...” kata Thata.
            “Salah loe sendiri parno kayak gitu...” celetuk Mahesa.
Thata tertunduk malu.
            “Tapi loe gak rugi juga sih,Tha... Karna gue ke airport ini juga buat ngambil barang pesenan gue sama om gue yang di Lampung...” kata Mahesa.
            “Hah??? Emangnya apa kaitannya?” tanya Thata.
            “Coba loe liat di belakang loe...” kata Mahesa. Thata menurut.
            “Ya ampun...” Thata terperanjat. Dibelakangnya terdapat sebuah patung berukuran 3meter berbentuk Cupid yang memegang panah asmara. Ditengahnya terdapat tulisan “Wo Ai Ni” yang berarti Aku Cinta Kamu....
            “Gue cinta sama loe... Patung ini buat loe... Loe mau gak jadi cewek gue?” tanya Mahesa.
            “Gue juga cinta sama loe... Gue mau jadi cewek loe...” kata Thata. Lalu mereka berpelukan disertai tepuk tangan meriah semua orang yang ada di bandara.

                                                            TAMAT
Catatan Penulis.
Cerita ini buatanku waktu masih SMA kelas X. Waktu itu aku taruh di komputerku tapi gara2 virus merajalela karya ini udah hangus ditelan virus. Untungnya Oppa masih nyimpen karyaku ini, untuk mengenang karya yang masih amatir banget tapi banyak kenangannya ini daku mempostingnya di blog. So guys, harap maklum ya kalo ada salah2 kata ato jalan ceritanya masih amatiran. xixixi
 

Ken Mercedez Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting