Selasa, 17 Januari 2012

Kisah Seorang playboy

Diposting oleh Ken Mercedez di 11.51.00 1 komentar
Alkisah ada seorang cowo playboy yang suka maenin cewe.Anehnya,semua cewe yang dia maenin ada embel-embel  "ita"nya. Kyk Margarita,Thalita,Lanita,dll. Begitu cowo ini bosen, dia langsung cari mangsa baru. Dan ada 1 target baru bernama Juwita.Tapi buat dapetin Juwita susah banget.Cowo ini merasa tertantang menakhlukan hati Juwita.Cewe ini punya syarat,dia pengen punya cowo yang serba Lebih. Maka cowo ini membuat smuanya jadi lebih. Lebih pinter,lebih rajin,sampe lebih berat badan.Walhasil dia jadi gendut, gak ada lagi cewe yang ngefans.Hanya Juwita yang mau nerima cowo ini.Akhirx cowo itu sadar.Dia gak mau nyia2in Juwita,karna mendapatkan seorang Juwita sangat sulit & banyak pengorbanannya.
Selesai

Kemana ku cari Pangeranku?

Diposting oleh Ken Mercedez di 11.42.00 2 komentar
Hujan turun bgtu deras.Mmbuatq trjebak dlm cafe kecil dkt kampusq.Suasana ini mengingatknq pda masa kcilq yg tak trllu bhagia.Atau mgkn q tak prnh bhagia..Hujan tlh mmbwa ia pergi dr hdupq.Satu2x kwan bgiku.Bgaimana keadaanx saat ini?
'hei..' se2org mnepuk pundakq.Q menengadah,mlihat si pmilik tangn yg dg seenakx menepukq.Mmbuatq trkejut sj.
'apa?'jwbq gontai.
'hm..gk brubh y..tiap kali q sapa jwbx pzti gt..' sungutx.Q hny diam,mlas mmblas kta2x.
'Rani,plg yuk?aq anter deh..hri ni aq bwa thunder lho..'cwo ddpnq ini ttp sj mmksa.
'prcuma..thunder itu jg bkn pux km.aq g sk naek mtor pnjamn,' q sgera bangkit dr kursi.
'tunggu Ran,aq bhong.Q bwa vespaq kok.Bkn thunder..Q sngja bhongn km..'
'Alen..Alen..Npa sih km ska bhongn q?Km kn tau q temenan ma km g peduli mtor km apa,' ktaq lelah.
'justru itu yg q suka dr km..Km lain dg cwe2 kmpus ini.Tp knpa sih dr dl qt hny brteman?Pdhl uda 5x q nembak km,' Alen mlai mengeluh.
'q msh g pgen pcrn,' jwbn ini uda 5x jg q ucpkn pd cwo brnama Alen dhadpnq ini.
'smpe kpn sih km mw cri pangernmu itu?Aduh,itu kn udah dlu,Syg.Wkt jaman baheula..' gerutu cwo jangkung ini.
'km gk tau,Len..Dia sgt brarti bwt q.Tnpa dia,q g akn pux smgat hdup.Mgkn q uda mati ptus asa,'
'andai q Pangeranmu,Rani..' kta2 Alen mmbuatq terenyuh.
'oke..Oke..Trserh km sj lah!' sahutq.
'mksud km?'Alen kbingungn.
'kalo km bsa ambil hati ayahq,q turutin kmauan km' jwbq.
'mksudx km mw jd ceweq?'mata Alen brbinar2.Q hnya mengangguk pasrah.Y sdhlah..Lgipula sdh 14thn q mncri Pangeranq dan q tak prnh menemuknx.
'makasih,Rani.Q janji km gk akn prnh nyesel jd cewekq..'Alen mengecup punggung tanganq.Q trkejut,brani skali dy brbuat sperti itu?
'Tp km hrz temui ayhq dl!'ktaq.
'y,pzti.Nanti mlm,'jwb Alen mantap.Dlm hti q brdebar2,smga ayh tdk mrestui hbungn kami..
Pukul 7 malam.Q glisah dlm kmr.Benarkh Alen akn dtg sperti janjix td siang?Q tkut ayh akn marh pdaq.
Piip..Piip.. Hpq brdering.Dg gusar kuraih hp yg trgeletak di kasur.
'Aq didepan rumahmu' ujar Alen sblm q smpat mxapany.Ia mmatikn tlpn sblm q mnjwbx pula.Kni q bnr2 tkut,aq hrz bgaimana?
'Rani!' trdengar suara menggelegar ayh.Htiq brdebar tak karuan.Q sgera brlari ke ruang tamu.Tmpak ayh dan Alen du2k brhdapn.kduax tmpak tegang.
'Sy Alen.Tman kuliah Maharani.Kedatangn sy utk meminta restu bpak.Sy ingin menjadi pacar putri bpk,'ucap Alen fasih,tnpa ragu sdkitpun.
Ayah tmpak trkejut skali.trlebih aq.Alen bgitu nekad..kalau ayh marh,bs hbis dy dpukuli ayh.
Ayh diam bbrapa saat.lalu.. 'Knpa km trtarik dg ank sy?krna wjahx?hartax?bodyx?kpintarnx?' tanya ayh.
'krna putri bpk menakhlukkn hati sy sjak prtma kali brtmu.sy mncintaix,tdk ad niat buruk dlm cinta sy' jwb Alen.
Ayh mengangguk&tmpak sdg brfikir.
'Sy beri km ksempatn mnjadi shbt Maharani.Buktikn keseriusn km pd putri sy.Baru sy mengijinkn km,bhkn mmperistrix jg sy ijinkn,'kta ayh.
Apa td ayh blg?Istri???Astaga..Ayh,q tdk pux prasaan khusus pd Alen..Slahq jg sdh menantang Alen mnemui ayh..Alen tmpk yakin skrg.Ia pun brhasil mmbuka pintu restu ayh.Matilh q..Skrg ap mgkn q pux ksempatn mncari pangern masa kecilq?
**
Alen benar-benar menunjukkan keseriusannya padaku. Setiap hari ia datang ke rumah untuk mengantar jemputku kuliah. Ia membantuku mengerjakan tugas2 kuliah yang menumpuk. Datang untuk mengobrol santai dengan ayah dan ibu. Ia juga tak pernah memaksakan kehendaknya padaku. Seringkali kudengar ibu memujinya dan ayah hanya tersenyum. Jadi Alen berhasil merebut hati orang tuaku.
Hingga suatu pagi, saat aku benar-benar jenuh mendengar namannya, apalgi melihat sosoknya, ia malah nongol di depan mataku saat aku membuka pintu.
"Pagi," sapanya ramah.
"Siang," jawabku asal.
Alen hanya tertawa. "Kamu humoris banget!" ujar Alen. Padahal aku yakin ia tahu aku jenuh padanya.
"Ada acara hari ini?" tanya Alen masih dengan rona ceria.
"Nggak ada," jawabku singkat. Malas.
"Ikut aku yuk? Ada seminar sastra nih," ajak Alen.
Aku berpikir sejenak. "Boleh deh," akhirnya aku menurut juga. lagipula capek hari minggu hanya berdiam diri di rumah.
"Tega ya dari tadi aku gak disuruh duduk," Alen mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh iya, lupa. Duduk yuk di dalam," kataku.
Lalu aku masuk ke dalam untuk merapikan diri. 15 menit kemudian aku kembali dengan penampilan yang lebih baik dan siap untuk hang out. Rambutku yang hitam lurus sebahu kubiarkan tergerai. Aku mengenakan kaos hitam dan jaket, aku juga merasa nyaman memakai celana jeans panjangku.
"Yuk berangkat," ujar Alen. Lalu kami pergi ke seminar dengan vespa abu-abu Alen, seperti biasanya.
***
Acara seminar dimulai 20 menit setelah aku dan Alen duduk di kursi deretan ketiga dari depan. Acara demi acara kulewati hanya dengan diam, aku sungguh tak tertarik dan menyesal datang kemari. Tapi Alen kelihatan antusias dengan seminar ini. Maklum saja, dia kan anak sastra,lain denganku yang berkecimpung di bidang perikanan.
"Sambutan berikutnya pleh pengarang novel terkenal kita yang baru saja menyelesaikan studinya di Inggris," kata si pembawa acara. "Kepada saudara Yudha Winata dipersilahkan,"
Aku terkejut. Mataku terbelalak, Pria yang disebutkan tadi bernama Yudha Winata. Benarkah? Ya ampun, benar. Senyumnya, cara berjalannya...Ia terlihat seperti Pangeran masa kecilku.
Pria berkemeja putih itu memberi sambutan hangat dan sesekali memberi humor agar suasana tidak kaku. Aku tak salah lagi, ia YudhaSang Pangeranku. Kini aku bertemu lagi dengannya.
"Saya rasa cukup sekian sambutan dari saya, saya harap seminar ini dapat memberi semangat pada saudara2ku untuk berkarya lebih banyak lagi," Yudah emngakhiri sambutannya.Ia segera menuruni podium. Dan aku seperti tertarik oleh magnet. Spontan aku berdiri hendak mengejarnya. Tapi seseorang mencengkram lenganku begitu kuat.
"Tetap disini,Rani," ujar Alen. Iamemandangku dengan sorot mata tajam.Lain dari biasanya yang selalu memancarkan keteduhan dibalik sorot matanya.
"Lepaskan!" aku menghentakkan lenganku. Dan berlari menyusul Yudha. Dalam hati aku sangat ragu, apakah dia masih mengenaliku?
**
Aku mengejar Yudha yang hendak menuju mobilnya.
“Yudha!” teriakku. Pria bertubuh tinggi itu menoleh.
“Siapa ya?” tanyanya. Ia mentapku seakan aku asing untuknya. Aku berjalan mendekat. Mengamati wajahnya yang tampan. Apakah ia masih mengingatku?
“Aku Maharani. Teman SD-mu,” ujarku dengan perasaan berdebar – debar.
Yudha mengernyitkan kening. Seperti sedang mengingat – ingat.
“Oh, iya aku ingat. Apa kabar, Rani?” kata Yudha beberapa saat kemudian.
Aku benar-benar bahagia ia masih mengingatku.
“Baik. Aku sudah lama mencarimu,”.
“Maaf ya, Rani. Aku pergi tanpa pamit. Aku harus pergi karna ayahku pindah tugas,” jelas Yudha.
“Ya, tak apa. yang penting sekarang aku sudah menemukanmu lagi,” sahutku.
“Rani, aku ada acara. Aku harus pergi sekarang,”lanjut Yudha. “Tapi nanti malam kamu bisa datang kan di acara pertunanganku?”
Apa? Pertunangannya? Kenapa setelah sekian lama aku mencarinya, kini ia hadir tapi sudah ada yang memiliki…
“Rani?” Yudha menatapku yang mendadak termenung mendengar kata-kata yang ia ucapkan barusan.
“A… aku datang,” jawabku tergagap.
“Terima kasih ya. Ini kartu namaku, acara nanti malam di alamat ini ya,” Yudha mengangsurkan sebuah kartu nama kecil padaku.
“Kau tahu, nama tunanganku juga Maharani, sama sepertimu,” ujar Yudha sambil trsenyum.
Aku hanya tersenyum pahit. Setidaknya Maharani yang bersama Yudha saat ini lebih beruntung dariku.
“Sampai jumpa, Rani!” Yudha memasuki mobil sportnya dan meninggalkanku yang terpaku.
Sampai beberapa saat aku diam mematung. Tak terasa airmata mengalir di pipiku. Bila ku ingat kenangan kecilku. Saat ia selalu datang menghiburku dengan kekonyolannya. Aku benar-benar tertawa lepas dengannya. Walau hidup dalam tekanan kedisiplinan ayah yang berlebihan, aku masih bisa tertawa karena pangeranku. Tapi kini, pangeranku membuatku mengangis…
“Sudahlah,” seseorang menepuk pundakku. Aku hafal suaranya, sudah pasti dia adalah Alen. Ia memperhatikan kartu nama yang kugenggam di tanganku.
“Aku mendengar dia akan bertunangan nanti malam. Karna itu aku aku mencegahmu tadi,” lanjut Alen.
Aku menoleh dan memeluk Alen. “Aku mencintainya,” kataku di sela-sela tangisanku.
“Apa kamu tega mengambil kebahagiaan gadis yang juga mencintainya?” tanya Alen sendu. Aku hanya diam, aku sendiri bingung harus menjawab apa.
“Aku mengenalmu,Rani. Kau bukan orang egois. Relakan saja,” Alen mengusap kepalaku lembut. “Aku mengatakan ini bukan karna aku ingin memilikimu,”
“Apa aku harus datang nanti malam? aku tidak akan sanggup, Alen,” rajukku.
“Kamu sudah berjanji?” Alen balas bertanya. Aku hanya mengangguk.
“Kalau begitu kamu harus datang,” katanya bijak.
***
Malam itu aku datang bersama Alen. Kebetulan Alen tergabung dalam suatu grup yang berkoordinasi dengan Yudha. Ku lihat Yudha tengah bersalaman dengan para tamu. Disebelahnya berdiri seorang gadis berambut panjang lurus mengenakan gaun ungu yang sangat anggun.
“Ayo, tunjukkan ketegaranmu,” Alen menyemangatiku.
Aku mengangguk. Kupasang senyum termanis yang ku punya dan aku berjalan seringan mungkin menghampirinya.
“Hai, selamat ya,” kataku sambil menyalami Yudha.
“Hai juga. Terima kasih ya sudah datang. Oh iya, ini tunanganku, Maharani,” ia memperkenalkan seorang gadis yang namanya sama denganku.
Gadis itu menyalamiku begitu hangat. Aku dapat merasakan ia gadis yang baik. Semakin tak tega aku merusak kebahagiaan dalam sorot matanya.
Alen juga bersalaman dengan Yudha. Lalu ia membawaku menjauhi Yudha. Mungkin ia takut aku tak dapat menahan perasaanku. Kami melewati malam ini lebih cepat. Aku tak mau berlama-lama disini. Saat jam menunjukkan pukul 9 malam, kami pulang. Kali ini Alen membawa mobilnya. Ya, sebenarnya ia mampu membeli apapun yang ia inginkan, tapi ia tidak suka berfoya-foya dengan harta yang diwariskan oleh orang tuanya. Baleno yang ia pakai malam ini hanya ia pakai untuk acara-acara resmi.
Kami saling diam dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba dari kejauhan melintas sebuah truk. Truk itu semakin mendekati mobil Alen.
“Len, jangan dekat-dekat truk itu!” seruku panik.
“Gak bisa. Sebelah kiri kita sungai!” Alen tak kalah panik.
Tiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnn!!!!!!!!!!!
Truk yang hilang kendali itu semakin mendekat. Aku merasa tubuhku bergoyang, remuk, dan… aku tak tahu lagi…
**
“Dia sudah siuman!” suara itu… aku mengenalinya, itu suara ibu. Kubuka pelan – pelan mataku. Ayah dan ibu mengelilingiku. Dan ruangan ini serba putih. Mungkin aku sedang di rumah sakit…
“Ibu,” kataku lemah. Aku mengingat-ingat. Tadi malam, mobil kami menabrak truk. Dan… bagaimana dengan Alen?
“Alen dimana Bu?” tanyaku panik.
“Sabar nak, kamu sudah 3 hari koma,” Ayah menjawab pertanyaanku. “Alen sudah pulang,”.
“Jangan membohongi anak kita, Yah!” ibu menyela.
“Sudahlah, lebih baik dia gak tau!” kata Ayah. Aku semakin bingung.
“Aku harus tahu. Ada apa?” tanyaku tak sabar.
“Alen belum sadar, Nak. Kakinya habis diamputasi,” jawab ibu lemah.
Apa? Alen… mengapa ia yang begitu baik hati mengalami keadaan seburuk ini? Aku menangis hebat. Merasakan penyesalan dan sakit yang begitu mendalam. Kenapa tidak aku saja? Aku rela mengganti kakinya dengan kakiku bila aku bisa.
“Sudahlah, Nak… Ini namanya musibah,” Ayah menenangkanku.
“Aku mau liat keadaannya, Yah,” kataku lemah. Ayah mengangguk Ia menuntunku ke kamar ICU tempat Alen dirawat. Aku melihatnya masih tak sadarkan diri dengan penuh balutan perban di sekujur tubuhnya. Melihatnya begini membuatku hatiku miris.
***
Tiga hari kemudian Alen siuman. Tapi ia selalu murung dan irit bicara. Padahal setiap hari aku datang menemaninya.
“Kamu kenapa Len? Kamu berubah sejak kita kecelakaan,” tanyaku.
“Aku malu, Ran. Kamu lihat kan, sekarang aku cacat,” jawab Alen lemah.
“Aku tahu. Tapi kenapa harus malu. Kamu tetap sahabatku kok,”
“Aku gak pantas lagi, Ran. Kamu cantik, setiap kamu pergi kemana pun banyak cowok yang ngelirik. Dulu aku sempat bangga di sampingmu. Aku selalu menghayal kalau aku ini pacarmu,” tutur Alen. “Tapi nanti, kalau aku sembuh dan kita bersama-sama lagi, aku hanya akan mempermalukanmu dengan keadaanku yang kayak gini,”
“Kok kamu gitu,Len?” aku menangis. Aku semakin merasa bersalah. Walau aku tak tahu dimana letak kesalahanku. Saat ia terbaring koma setiap hari aku cemas. Aku tidak mau kehilangan dia. Rasanya lebih sakit daripada perasaanku saat mengetahui Yudha sudah punya tunangan. Dan menunggu Alen siuman lebih tersiksa daripada menunggu saat aku bertemu lagi dengan Yudha. Aku menunggu Pangeranku selama 14 tahun. Dan menunggu Alen siuman selama 3 hari. Tapi rasanya tak sebanding.
“Tinggalkan saja aku, Rani. Anggap saja aku sudah mati,” kata Alen. Ia memalingkan wajahnya dariku.
“Nggak,” aku mengelak. “Sekarang aku tahu arti kamu buat aku, Len,”
“Sudahlah. Aku tidak mau dikasihani,” ujar Alen dingin.
“Bukan. Bukan gitu! Kalau cuma kasihan, aku gak akan sampai kurus begini mikirin kamu,” kataku.
Pelan Alen memandangku lagi. Ia mengamati perubahanku. Mungkin ia setuju aku semakin kurus. Berat badanku turun beberapa kilo.
“Terus?” tanya Alen.
“Aku sudah mikir masak – masak. Aku gak mau kehilangan kamu lagi.” kataku. “Jadi, setelah kamu keluar dari RS, kita menikah,”
“Kamu jangan bercanda, Ran! Ini keterlaluan!” Alen marah.
“Nggak. Aku serius. Aku sudah bilang kok sama orang tuaku. Mereka menyerahkan semuanya sama aku,” kataku. “Aku mau buktiin sama kamu kalo aku serius,”
“Tapi aku cacat! Kamu sudah mikirin itu? aku gak sempurna. Masih banyak cowok yang lebih pantes buat kamu,” Alen menatapku serius. “Jangan rusak masa depanmu dengan menikahi cowok seperti aku,”
“Kamu gak punya kuasa bilang masa depanku bakalan rusak dengan nikahin kamu. Kamu mencintai aku. Aku juga mencintai kamu, dan aku sudah berkomitmen untuk sama kamu,” jelasku.
Alen hanya diam. Ia memejamkan mata dan airmata mengalir di pipinya. Dengan sayang ku hapus airmata itu.
“Kenapa kamu nangis, Len?” tanyaku.
“Aku gak percaya ini. Tapi aku sangat bahagia. Walaupun aku gak sempurna, tapi aku akan berusaha bahagiain kamu,” katanya penuh haru. Airmataku tak tertahankan lagi. Aku menangis dan mengecup tangan Alen yang begitu hangat.
***
Kami benar – benar menikah. Dan tak terasa sudah 2 tahun berlalu. Aku tak pernah menyesal menikah dengan Alen. Karna hidupku begitu bahagia. Alen benar-benar tahu cara membahagiakan aku.
Pagi yang cerah ini aku bersama suamiku pergi ke sebuah supermarket untuk membeli keperluan dapur.
“Aku mau lihat parfum dulu ya?” kata Alen.
“Ayo,” jawabku. Aku segera mendorong kursi roda Alen.
“Aku mau liat-liat sendiri. Kamu kan mau beli buah,” kata Alen.
Aku mengangguk. “Hati-hati ya,” ujarku sambil tersenyum. Alen balas terseyum. Ia berlalu dengan kursi rodanya. Aku segera menuju tempat buah-buahan.
“Rani,” seseorang memanggilku.
Aku menoleh ke arah sumber suara. Aku terkejut, pria yang berdiri disampingku ini adalah Yudha.
“Hai,” sapaku hangat. “Dengan siapa?” tanyaku kemudian.
“Sendiri. Kamu?” ia balas tanya.
“Dengan suamiku. Tapi dia masih ke bagian parfum,” jawabku.
“Oh…” Yudha mengangguk. Ia mengamatiku. “Kamu tetap cantik,” pujinya.
“Kamu tambah ganteng,” balasku.
Yudha tertawa. “Kamu tahu, Rani. Aku tertarik sama kamu dari dulu. Tapi kita harus berpisah saat itu,” kata Yudha. “Dan aku mencari pengganti yang mirip denganmu,”
“Dan namanya juga Maharaani,” sambungku. Aku jadi ikutan tertawa. Ternyata dulu kami punya perasaan yang sama.
“Apa kamu bahagia, Rani?” tanya Yudha.
“Ya, aku sangat bahagia,” kataku tulus. Sekarang aku sudah tak mengharapkan apapun dari Yudha. “Sudah ya, aku takut suamiku bingung nyari aku,”
“Oke lah. Seneng bisa ketemu kamu lagi,” kata Yudha. Aku terseyum dan melenggang pergi. Mungkin saja suamiku membutuhkanku untuk memilihkannya parfum.

Selesai

Mengejar Cinta Riski

Diposting oleh Ken Mercedez di 11.37.00 0 komentar
Nita terbangun saat Riski mengirim sebuah pesan singkat melalui handphone pagi ini. 15 detik saja sudah sangup membuat Nita gila. Dia tersenyum kegirangan. Riski benar-benar membuat jantungnya serasa mau copot. Cowok itu membangunkannya dengan manis dan segar. Oh... betapa senangnya hati Nita. Nita tidak peduli lagi pada Andi. Biar saja cowoknya itu tidak lagi aktif sms padanya. Yang terpenting sekarang Riski gak ikut-ikutan mogok sms seperti Andi.
Nita sebenarnya bukan Play Girl. Dia sudah dua kali memutuskan Andi. Tapi Andi tetep aja keukeuh minta balikan. Tapi sifatnya tetep gak bisa berubah. Tetep aja suka manas-manasin Nita dengan banyak nongkrong sama cewek-cewek di kelasnya. Mungkin Andi sudah sinting. Tapi Nita gak ambil pusing. Sejak ia memutuskan untuk menjadi Secret Admirer Riski yang sebelumnya adalah teman
satu organisasinya, suasana hatinya selalu tentram walau Andi yang gila gak berenti nyakitin hatinya.
Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Nita segera bergegas menyiapkan keperluan sekolahnya. Pukul 06.30 WIB, Nita sudah siap. Ia segera menstater motornya. “Riski, I’m coming...” itu yang selalu muncul dibenaknya. Nita menoleh pada kaca spion. Good! Penampilannya udah oke. Jilbabnya udah rapi. Salah satu tujuan Nita pergi ke sekolah selain menuntut ilmu adalah untuk bertemu Riski. Oh... Honey-nya itu selalu membuatnya mabuk kepayang.
Pagi itu Nita melihat Andi yang lagi-lagi asik ngerumpi berdua dengan Lala, salah satu temannya. Sakit memang rasanya, tapi biarkan saja. Riski jauh lebih penting.
Nita segera menuju kelasnya. Sudah ada Love Genk yang menantinya dikelas. Love Genk adalah kelompok Nita. Mereka bener-bener kompak soal ‘Amore’. Love Genk mendesak Nita mengakui jati dirinya pada Riski. Daripada terus-terusan menjadi Cinta-nama samarannya- yang cuma bisa dicintai lewat sms. Nita juga dituntut cepet mutusin Andi. Kalo’ enggak, Andi bisa jadi tembok besar
penghalang kedekatannya dengan Riski.
Lama-lama Nita terengaruh. Ia ikuti desakan Love Genk. Tanpa basa-basi
Nita memutuskan Andi via sms. Soalnya, Nita muak liat tampang tuh cowok. Siangnya Nita segera memberi tahu fakta siapa Cinta sebenarnya. Riski terkejut dan marah. Nita jadi menyesal. Tapi ini sudah keputusan yang diambilnya, dan ia harus siap menanggung resikonya. Nita terus-menerus meminta maaf pada Riski. Cowok yang disayanginya itu akhirnya mau memaafkannya. Nita kembali dekat dengan Riski. Walau Riski tak lagi memanggilnya Cinta. Dan Nita tak berani memanggil Riski dengan sebutan Honey lagi seperti dulu. Riski tak kunjung merengkuh cinta Nita. Ia hanya menganggap Nita sahabat karibnya. Dan lagi peraturan organisasi yang melarang sesama anggota organisasinya berpacaran menjadi duri dalam cinta Nita. Tapi Nita gak mau nyerah. Nita tetap mengejar cinta Riski. Love Genk meyakinkan Nita bahwa nanti Riski pasti akan tercebur dalam luapan cinta Nita jua, dan Nita berharap itu benar-benar terjadi.

Selesai

16 Agustus 2008
(Kisah nyata dengan perubahan seperlunya)

Ayah untuk Aya

Diposting oleh Ken Mercedez di 11.20.00 2 komentar
“Aya, kamu mau kan punya Ayah?” tanya ibu padaku. Aku tidak mengerti maksud kata-kata ibu. Maklum saja, umurku baru 6 tahun waktu itu.
“Maksud Ibu apa?” tanyaku polos.
“Ibu ingin menikah lagi. Jadi, Aya akan punya Ayah seperti teman-teman Aya di sekolah,” jelas Ibu.
“Tapi Aya kan sudah punya Ayah, Bu?” bantahku. Tapi Ibu kali ini tidak menjawab, malah memalingkan wajah. Aku juga tidak ingin mencari tahu lebih banyak. Aku hanya diam di kursi ruang baca. Aku tidak tahu pasti apa arti kata dari ‘Perceraian”. Ibu pernah bilang, Ayah nakal. Jadi mereka meilih untuk bercerai. Mungkin bercerai itu berpisah. Tapi untuk berapa lama? Aku tidak tahu. Yang kuketahui, aku masih memiliki Ayah. Dan dia baik padaku. Tapi bagaimana dengan Ayah baru? Apa dia akan menyayangiku seperti Ayah kandungku?

Satu bulan kemudian Ibu membawaku ke sebuah Restaurant malam itu. Aku tidak tahu kenapa, Ibu bilang kejutan. Ibu mendandaniku dari satu jam yang lalu. Rambut ikalku dikuncir dua dengan pita berwarna Pink yang cantik. Baju yang kukenakan adalah baju terbaik yang dibelikan Ibu. Bagian lengannya pendek dan mengembung lucu. Renda-renda putih di pinggiran lengan dan ujung rokku semakin mempermanis penampilanku. Sedangkan Ibu mengenakan gaun malam berwarna hitam yang indah dan elegant. Rambutnya disanggul sehingga terlihat anggun dan lebih muda.
“Aya, duduk yang sopan. Sebentar lagi Ibu kenalkan Aya dengan seseorang,” kata Ibu ketika mendudukkanku di bangku restaurant. Aku hanya mengangguk patuh.
10 mwnit kemudian seorang pria bertubuh tegap dengan kumis tipis menghampiri meja kami. Ia menjabat tangan Ibu lalu melihatku yang sedang menatap wajahnya.
“Ini Cahaya, putriku. Tapi Mas panggil saja Aya,” kata Ibu pada pria itu.
Pria itu membungkuk dan menatapku lekat. Lalu ia tersenyum dan berkata, “Halo Aya! Namaku Arya. Kamu cantik sekali, mirip seperti Ibumu,”
Aku hanya memandangnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Aya Sayang, Paman Arya akan menjadi Ayah barumu,” jelas Ibu. Tapi aku hanya diam.
Aku ingat Ayah kandungku pernah memintaku agar tidak pernah bicara pada orang yang menikahi Ibu kelak. Ayah juga bilang, penggantinya nanti hanyalah benalu yang akan melepas semua kenangan tentang Ayah di hati Ibu. Tidak ada yang menyayangiku seperti Ayahku menyangangi diriku. Oleh karena itu, mulai malam ini dan seterusnya, aku tak pernah berbicara lagi pad siapapun.
Hingga 2 tahun kemudian saat Ibu terkapar tak berdaya setelah keguguran dan mengalami pendarahan hebat di Rumah Sakit...
“Berjanjilah Aya, gantikan posisi Ibu untuk Ayah Arya. Jadilah anak yang berbakti dan menyayanginya. Seperti Ibu menyayangimu dan Ayah Arya. Rawatlah dia Aya, cintai dia seperti kau mencintai Ayahmu sendiri...”
Blaaarrrr!!!! Tubuhku bagai disambar petir. Selama ini aku membenci Paman Arya. Aku bahkan tidak mau memanggilnya dengan sebutan ‘Ayah’. Tapi di saat kritis, Ibu memintaku menyayangi Paman Arya. Aku melepas tangan Ibu yang menggenggam tanganku erat. Aku menangis tanpa berucap. Ibu memandangku dengan penuh linangan airmata. Beliau begitu berharap padaku. Tak kuasa aku memandangnya yang berwajah pucat, dengan berat hati kuiyakan permintaan terakhir Ibu.
Ibu memandangku lega dan tersenyum. Ia mengucapkan terimakasih dengan begitu tulus. Setelah itu Ibu memejamkan mata karena kelelahan, dan kelelahan itu membawa Ibu jauh dariku, selamanya...

8 tahun kemudian...
“Aya... Ayah pulang! Akhirnya Ayah bertemu lagi denganmu Nak! Lihat! Ayah bawa oleh-oleh banyak sekali dari Bali! Lain kali kamu harus ikut Ayah kesana,” ujar Paman Arya panjang lebar. Sementara aku hanya diam mendengar kata-katanya sambil membawa semua barang-barang bawaannya yang tergeletak di depan pintu Apartement.
Setelah Ibu meninggal, kami pindah ke sebuah Apartement di Bandung. Paman Arya adalah seorang pemborong yang sukses. Ia sering bepergian untuk urusan bisnis keluar kota. Dan perjalanannya yang terakhir adalah Bali. Apartement tempat kami tinggal cukup luas. Disini semua fasilitas yang kubutuhkan sudah disediakan Paman Arya. Dari lemari penuh buku, Televisi 21 Inch di kamarku, Video Game, perlengkapan make up, komputer, sampai alat fitness sudah tersedia.paman Arya begitu peduli padaku. Walau aku tak pernah mau berbicara dengannya.
“Aya, besok kamu harus mendaftar di SMA. Kamu sudah lulus SMP kan? Sekolah mana yang kamu mau?” tanya Paman Arya setelah kami duduk di ruang keluarga.
Aku segera mengeluarkan selembar kertas dari saku celana jeansku. Lalu keserahkan pada Paman Arya. Kertas itu adalah selebaran dari SMA Negeri Cempaka Bandung. Aku ingin sekolah disana, karena semua sahabat SMPku akan melanjutkan kesana. Dan tentu saja mereka tidak berpura-pura bisu seperti aku.
“Baiklah, besok kita akan mendaftar disana, Aya!” ujar Paman Arya bersemangat. Ia mengelus rambutku lalu pergi ke dapur untuk memuat segelas jahe hangat kesukaannya. Sedangkan aku memilih kembali ke tempat tidurku . malam ini aku akan memimpikan sekolah baruku kelak.

Keesokan harinya Paman Arya membawaku mendaftar di SMA cempaka. Kami menemui Kepala Sekolah langsung. Tapi hanya kekecewaan yang kami dapat. Kepala sekolah tidak mau menerimaku. Karena ia mengira aku benar-benar bisu. Sekeras apapun Paman Arya mencoba meluluhkan hati Kepala Sekolah, beliau tetap tidak mau menerimaku. Dengan putus asa kami mendaftar di sekolah-sekolah lainnya, tidak ada yang bersedia menerima siswi tuna wicara sepertiku. Aku tidak mengerti mengapa SMA tidak sama seperti SMP. Dulu SMPku mau menampung tuna wicara sepertiku.
“Aya, sudah tidak ada SMA lain selain SMALB,” kata Paman Arya. “Ayah tidak yakin kamu benar-benar tidak bisa bicara. Katakan Aya, apa keinginanmu. Ayolah...Ayah akan berusaha menurut keinginanmu,” lanjutnya setiba kami di rumah.
Aku diam. Ada satu keinginan yang tidak dapat kubendung lagi. Setelah kupikirkan, maka aku putuskan untuk mengatakannya.
“Baiklah. Aku... ingin tinggal bersama Ayah kandungku, Paman.”
Paman Arya terkejut. Wajahnya berubah murung. Ia mengendurkan tubuhnya di sofa. Untuk beberapa saat kami saling diam.
“Ya sudah. Akan kuturuti keinginanmu. Walaupun sebenarnya aku tidak tidak ingin kamu pergi,” kata paman Arya lemah. “Siapkan barang-barangmu, kita pergi besok.”
‘Blam!!!’ pintu kamar Paman Arya tertutup. Samar kudengar ia terisak. Dadaku mendadak sesak. Kupandang semua yang ada di sekelilingku. Aquarium ikan yang Paman belikan di hari ulang tahunku, tumpukan buku fiksi remaja, dan semua alat fitness yang Paman beli untukku. Semuanya untukku... lalu apa salah aku ingin tinggal bersama Ayah kandungku? Apa salahku juga yang telah membuat Paman Arya menangis?

Kami tiba di sebuah rumah mewah di perumah Depok. Pagarnya tinggi dan berukir naga. Dari luar pagar aku bisa melihat betapa megahnya rumah Ayah. Mungkin Ayah tinggal sendiri disini. Kupikir mana mungkin Ayah menikah lagi? Ia pasti tidak bisa melupakan Ibu. Tapi Ayah tidak perlu khawatir, karena aku akan menemani ayah disini.
“Ayo masuk, Aya” ajak Paman Arya. Wajahnya tidak bersemangat seperti biasanya. Ia dingin padaku.
Petugas Satpam membukakan gerbang. Selanjutnya pelayan rumah itu membawa kami memasuki ruang tamu. Ruang tamu itu cukup luas. Ada banyak guci-guci impor di sudut ruangan. Lampu yang menghiasinya juga besar dan mewah. Aku sangat takjub. Tapi kemudian rasa kagum itu sirna saat mataku tertumbuk pada sebuah foto keluarga. Foto yang terdiri dari Ayah, seorang wanita setengah baya berwajah lonjong, seorang anak gadis seusiaku, dan anak laki-laki berusia sekitar 6 tahun. Aku terbangun dari kenyataan. Apalagi setelah keluarga itu menyambutku dengan sangat dingin. Mereka menunjukkan betapa aku tidak diharapkan dirumah itu. Rasanya ingin tenggelam saja aku ke dalam bumi.
“Baiklah,” kata Paman Arya setelah lama berbasa-basi. “Tugasku sudah selesai, aku akan pulang. Tolong jaga Aya. Selamat tinggal Nak,” lanjutnya. Ia membelai rambutku dengan penuh kasih sayang.
Aku memandang kepergian Paman Arya. Hati ini rasanya sesak. Aku tak kuat lagi, tanpa mengucapkan kata-kata perpisahan, kutinggal rumah indah itu dan mengejar Paman Arya.
Aku mencari Paman Arya di jalanan yang ramai. Kupikir dia sudah pergi, ternyata masih menunggu bus di halte dekat persimpangan jalan dengan tubuh lunglai.
“Ayah!!!!” seruku. Aku berlari, dan Paman Arya menyambutku. Kupeluik Paman Arya erat dan menangis tersedu-sedu.
“Kamu kenapa, Nak? Mereka menyakitimu? Tanya Paman Arya cemas.
“Tidak. Aku sadar, ayahku adalah pria yang membesarkanku selama 8 tahun dengan penuh kasih sayang.Ayahku adalah kau...”
Paman Arya terharu. Airmatanya membasahi rambutku. Kini aku tidak akan membisu lagi. Akan kukatakan pada dunia bahwa ayahku adalah Paman Arya.

TAMAT

Bidadari Biru

Diposting oleh Ken Mercedez di 11.19.00 0 komentar
“Happy bhirthday to you... happy bhirthday to you...” kami bertepuk tangan sambil bernyanyi lagu ulang tahun untukku yang hari ini genap berusia 17 tahun. Walau tidak sempat membeli kue karena ini dadakan untukku, kami masih bisa menaruh lilin – lilin sejumlah 17 butir di atas meja kayu kamarku.
“Sekarang tiup lillin kan?” tanyaku semangat.
“Yups!” kata Kitty.
“Yeeee!” lalu dengan kebahagiaan yang meluap-luap, kutiup lilin-lilin dihadapanku.
“Lho, kok gak ucapin permohonan dulu?” Melody baru inget.
“Ampun deh, bego banget sih loe!” Kitty menjitak kepalaku.
Aku tertawa cengengesan.
“Belum terlambat kok. Ayo ucapin keinginanmu, Cat...” ujar Melody semangat.
“Ah, jadi kayak kucing aja. Jangan panggil aku ‘Cat’ doang...” protesku. Tapi aku segera meratap, berdoa.
“Tuhan... berikan aku cinta... cinta... cinta yang datang dengan unik...” ucapku semangat.
“Bego! Doa kayak gitu!” sekali lagi Kitty menjitak kepalaku. Sementara Melody cekikikan.
“Sayang ya, kita ngerayain ulang tahun gak pake kue tart...’ kataku lemas.
“Nih, meja kayu ini bisa kamu makan juga kok sebagai gantinya kue tart...” gurau Melody.
“ah... bisa ompong aku!” selorohku.
“Yuhuuu... Catty Honey Booney Sweety... Ik datang...” suara yang dimerdu-merdukan itu hampir membuat gendang telingaku pecah.
“Paman, jangan malu – maluin dong!” aku ngambek saat Paman Adi yang ‘melambai itu memasuki kamarku.
“Liat nih... Apa yang Ik bawa,” Paman Adi menyodorkan setangkai mawar merah tepat di depan hidungku.
“Huachy!” aku bersin tak tertahankan. Aku sangat alergi bunga!
“Paman ini sengaja ya?” ujarku. Paman Adi hanya terkekeh lalu lari. Detik selanjutnya aku mengejar pamanku dengan bantal dan guling. Sementara Melody dan Kitty hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kami berdua. Aku dan paman hanya hidup berdua, dia satu-satunya keluargaku. Dan kami selalu melakukan hal-hal konyol seperti ini.
***
“Ada lomba Fashion show di Gelora! Ikut yuk?” ajak Melody saat aku sedang asyik membuat kue resep baru yang akan jadi bahan ujian praktekku nanti.
“Ah, gak minat!” kataku cuek.
“Yaaah... kalau gitu, kamu aja yang jadi modelku ya?” Melody mulai merayu Kitty yang sedang asyik merajut.
“Ah... malas!” Kitty menggeliat.
“Hadiahnya 10 juta lho!” Melody tak putus asa merayu Kitty.
“Apa??? 10 juta!” mendadak mata Kitty berbinar bak lampu neon. Cewek yang masuk jurusan menjahit di SMKku ini memang tergila-gila pada uang. “Aku mau deh jadi modelmu...”
“Sip!” Melody tersenyum puas. Melody memang senang mendandani orang. Karna itu ia masuk jurusan Kecantikan. Beda denganku yang doyan memasak, aku masuk jurusan Tata Boga. Dan aku paling anti dengan make-up dan semua yang berbau kecantikan. Penampilanku sederhana, sama sekali tidak modis karena aku suka mengenakan celana model monyet yang ada talinya itu tuh... rambutku juga dipotong model ‘Bob’. Yang ini agak gaul, mirip Agnes Monica. Hihihi...
“Jurinya siapa?” tanya Kitty antusias.
“Jurinya ada 3, Martha Pangestika, si perancang busana super keren itu. Trias Mardani yang ahli make-up artis, dan Moreno Candius. Model cakep itu lho!” jelas Melody.
“Apa?!” sekarang aku yang histteris mendengar nama Moreno.
Melody menganmgguk. “Hadiah untuk juara 1 10 juta, juara 2 dapet 7 juta, dan juara 3 dapetnya 5 juta,”
“Kalau gitu aku mau ikut deh! Dandani aku ya?” tiba-0tiba aku kerasukan bidadari centil. Aku mulai merengek-rengek pada Melody.
“Kamu gimana sih? Tadi gak mau. Sekarang modelnya Melody kan aku,” Kitty menjitak kepalaku. Lagi!
“Uhhh... Bisa nggak sih kamu gakj ngejitak kepalaku!” aku meprotes Kitty.
“Sori... Abis kepalamu enak sih buat dijitakin. Licin bo...” Kitty cengengesan.
“Nih rasain pembalasanku!” aku menjitak kepala Kitty.
“Jangan ribut!” seru Melody. “Catty, kalo kamu mau ikut, cari anak Kecantikan lain yang lagi cari model deh!”
Aku terdiam. Siapa yang mau mendandani aku yang tidak punya pesona ini ya? Apa aku sebaiknya tidak usah ikut aja? Tapi aku ingin menjadi pusat perhatian Moreno. Duuh... gimana nih?!
***
Sudah satu minggu aku mencari anak yang masih tidak memiliki model untuk acara Fashion itu. Tapi hasilnya nihil karena mereka semua sudah punya pilihan. Aku jadi murung. Hari ini kuhabiskan untuk melamun di taman sekolah.
“Ehm...” seseorang berdehem di sampingku.
Aku melirik sekilas. Oh... ternyata Duo Ratu yang datang. Anak dari kelas kecantikan dan Tata Boga si biang gosip. Mereka bernama Ratih dan Utami. Duo Ratu itu singkatan nama mereka.
Tapi untuk apa mereka datang menghampiriku?!
“Ada apa?” tanyaku dengan nada enggan.
“Denger – denger.. ada yang lagi cari penata rias ya?” pancing Utami, si cewek jurusan memasak.
Aku diam saja. Pasti maksudnya meledek.
“Aku lagi cari model, lho...” kali ini Ratih yang bersuara.
“Hah? Yang bener?” aku jadi semangat. Mataku berbinar bak lampu neon.
Ratih mengangguk.
Aku senaaaaang sekali! Jadi aku menyetujui tawaran mereka untuk menjadi model di acara loma Fashion Show besok. Tak kusangka mereka ada baiknya juga!
***
“Paman, udah dong!” aku merrengek saat Paman Adi sibuk membedaki, menyemprotkan parfum, dan menyuapiku makan sekaligus.
“Aku telat niiiih!” aku mulai mencak-mencak.
“Sabar dong, Sayang... Ik cuma pengen ye kelihatan cantik hari ini,”
“Iya, iya... yuk berangkat!” aku segera meletakkan piring, parfum, dan bedak di meja.
“Yuk..” kata Paman Adi genit. Kami lalu menaiki mobil kodok putih milik Paman Adi.
***
Aku segera memasuki ruang tata rias di belakang panggung. Ternyata sudah banyak cewek yang berbusana cantik disana.
“Permisi...” aku berjalan mendekati Mario, cowok ganteng yang masuk jurusan kecantikan ini. Tapi dia sama sekali nggak melambai seperti pamanku. Ia sedang sibuk berbicara lewat telepon.
“Ya, ada apa Cat?” tanya Mario dengan raut gelisah. Aku sedikit kesal disapa ‘Cat’. Seperti kucing saja...
“Kamu liat Ratih?” tanyaku.
“Oh, disana...” Mario menunjuk arah di depannya. Tepat saat itu aku melihat Ratih bersama Utami. Aku sedikit heran, Utami didandani siapa? Apa dia ikut fashion juga? Karena dia sudah siap dengan gaun marunnya.
“Kemana aja sih kamu? Udah telat 1 jam nih!” Ratih ngomel – ngomel.
“Maaf...” hanya itu yang bissa kukatakan. Ukh! Ini semua gara – gara Paman Adi!
“Ya udah, sini duduk! Tapi mata kamu harus ditutup biar surprise!” kata Ratih. Ia memasangkan sapu tangan untuk menutup mataku. Aku sih menurut saja. Lagi pula aku tidak tahu-menahu tentang tata rias.
“Selesai!” kata Ratih saat 1 jam telah berlalu. Aku membuka penutup mataku. Tapi... aku jadi penasaran karena ku dengar semua orang tertawa. Ku buka kedua mataku dan.... AAAAAA!!! Aku syok!
“Apa – apaan ini?” aku terlonjak. Penampilanku sangat berantakan. Lipstik merah menyala, eye shadow ‘merah-kuning-hijau’, blush on merah muda norak, dan rambut palsu tak berbentuk. Sangat norak dan tidak cocok dengan gaun mekarku, topi koboi, sepatu bots. Apa – apaan ini? Aku seperti orang gila saja.
“Kamu tega!” aku berlari menuju ambang pintu persimpangan antara toilet pria dan wanita. Aku menangis sejadi – jadinya disana. Dimana tak seorangpun melihatku.
“Kamu kenapa?” Itu suara Mario.
Aku mendongak, “Kamu lihat kan? Aku seperti badut idiot...” ratapku. Sungguh, baru kali ini aku menangis di hadapan cowok.
“Jangan nangis.kamu percaya sihir? Aku akan menyihirmu menjadi bidadari!” kata Mario.
Aku masih tidak percaya. Tapi Mario menggandeng tanganku memasuki ruang make up-nya. Oh, Tuhan... Dia bahkan tidak meminta persetujuanku dulu. Tapi aku seperti terkena sihir beneran! Aku hanya diam, pasrah dengan semua langkah cekatannya memperbaiki make up-ku.
“Sekarang kamu tinggal pake baju ini...” Mario menyodorkan gaun biru padaku. Aku menurut, aku segera mengepas baju di ruang ganti.
Tidak berapa lama kemudian, aku tercengang saat melihat penampilanku yang memukau.
“Kamu Bidadari Biruku sekarang...” bisik Mario lembut.
Aku tersipu. Lalu kami melangkah menuju belakang panggung. Semuanya terpana melihatku masuk, tadinya aku seperti badut, tapi sekarang dengan balutan busana biru langit tanpa lengan yang dipadukan cardigan putih, serta high heels tali spagetty biru langit, aku terlihat fresh! Bahkan aku tak perlu mengenakan rambut palsu.
***
Mario Candius melenggang ke atas panggung. Aku dengar dadaku berdegup kencang. Oh, Tuhan... Semoga jantungku tidak copot.
“Akan saya umumkan Juara Pertama Lomba Fashion malam ini.”
Aku makin merasa tegang.
“Pemenangnya adalah...” suara Moreno Candius membuat jantung para kontestan hampir copot. “Mario dan Catty Wilma dengan tema ‘Bidadari Biru’...”
Waah! Aku tak menyangka. Saking girangnya aku sampai memeluk Mario yang berdiri di sampingku.
“Silahkan, pemenang maju ke depan...” kata juri yang lain.
Mario menggandeng tanganku. Kami berjalan menuju podium, menerima piala dan.... bunga! Oh, tidak! Aku ingin bersin jadinya. Mati – matian aku berusaha menahan. Tapi, saat mikrofon diarahkan padaku oleh pembawa acara, satu – satunya yang kulakukan adalah bersin! Oh, betapa malunya aku. Semua orang tertawa. Aku memandang Mario, aku cemas dia ikut malukarena aku. Tapi ternyata dia tersenyum hangat.
***
“Wah, selamat ya!” Melody dan Kitty yang meraih juara 2 memelukku bergantian.
“Untung aja modelnya Mario gak bisa datang, jadi kamu deh yang beruntung!” kata Kitty.
“Eh, jangan gitu...” kataku malu – malu.
“Keponakanku tersayang...” Paman Adi datang lalu memelukku dengan gaya lincah plus genitnya.
“Paman...” kali ini aku tidak merasa kesal pada Pamanku yang ‘melambai’ itu.
“Nih, ada cowok ganteng yang nitip ini buat kamu,” Paman Adi menyerahkan selembar kertas yang terlipat padaku. Aku segera membukanya. Melody dan Kitty ikut mengintip.
“DINNER????”
Mario
Olala!!! Sepertinya perjalanan cintaku akan segera dimulai.
“Wah, impianmu segera terkabul nih!” Melody merangkulku.
“Tuhan... berikan aku cinta... cinta... dan cinta yang datang dengan unik....” Kitty menirukan ekspresi dan ucapanku saat aku megucapkan permohonanku di hari ulang tahunku dulu.
“Dasar!” aku menjitak kepala Kitty.
Jadi... aku harus berdandan seperti apa nanti malam saat dinner bareng Mario???

SELESAI

Sebuket Edelweis di Hari Valentine

Diposting oleh Ken Mercedez di 11.15.00 0 komentar
Mungkin enak ya jadi cewek cantik? Pikirku. Yeah... pemikiran ini kadang muncul kalo aku ngeliat orang lain yang lebih beruntung dari aku soal cinta. Sebenernya aku minder liat cewek-cewek cantik yang lainnya. Mereka bisa dapetin cowok yang mereka inginkan. Ato, cowok itu yang dateng ngantre cinta cewek cantik itu. Fuuuih... itu satu hal yang gak mungkin terjadi deh sama aku? Gimana enggak? aku sadar diriku ini jauh dari kata cantik. Emang sih aku tergolong punya tinggi dan berat badan ideal, tapi aku gak punya kulit putih, hidung mancung, dan rambut lurus berkilau. Rambutku ikal, kulitku sawo matang, dan hidung pesek. Kenapa Cupid gak pernah memanahkan seorang cowok keren buat aku ya? Hiks...
“Hoy! Kamu ngelamun terus! Ayo tugas kamu belum dikerjain nih!”
Suara itu tiba-tiba membuatku sadar. Sedari tadi aku bertopang dagu di bangku perpustakaan sekolah. Dan suara itu milik TonySi Ketua OSIS yang Sok banget! Uh...sebel juga sebenernya jadi wakilnya, tapi mau gimana lagi? Udah takdir kali ya...
“Nih udah aku selesaikan kok proposalnya. Kamu cukup minta tanda tangan Wakasek Kesiswaan aja,” ucapku sebal.
“Bilang kek dari tadi, ngelamunin apa sih? Penting banget!” ejek Tony.
“Suka-suka aku dong!” sergahku. Lalu aku beranjak pergi meninggalkan Tony.
“Eh, mau kemana kamu?” tanya Tony.
“Mau ke toilet!” ujarku pendek. Lalu aku melanjutkan lagkahku meninggalkan pintu perpustakaan. Hari ternyata udah sore, semua siswa sudah pulang, bahkan pengurus OSIS lainnya. Hanya ada aku dan Tony yang sibuk menyusun proposal kegiatan OSIS di perpustakaan. Tapi sebenernya bukan cuma ada kami berdua, karena ada tiga tukang kebun yang lagi ngobrol di kantin sebelah perpustakaan.
Setelah aku selesai dengan urusan ‘pribadi’ku, aku kembali ke ruang OSIS. Tapi aku langsung terbelalak kaget. Diaryku yang tertinggal, yang sebelumnya tergeletak di meja perpustakaan sudah berpindah tempat ke tangan Tony. Tanpa pikir panjang aku segera merampasnya dengan kasar.
“Kamu gak tau ya ini buku harianku? Ini pribadi!” kataku gusar.
“Loh, ini buku harian? Aku pikir buku dongeng..” kata Tony dengan tampang lugu yang menyebalkan.
“Sebel ngomong sama kamu, Ton!” lalu aku mengambil tasku dan pulang tanpa satu patah pun.
*
Keesokan harinya ketika aku tiba di sekolah, aku langsung menuju ruang OSIS. Walau sebal juga dengan kejadian kemarin, tapi aku perlu menanyakan Tony apakah proposalnya sudah rampung. Tapi aku sedikit bingung, tidak ada satu orang pun di ruangan itu. Kemana Si Tony? Biasanya pagi-pagi dia udah nangkring di ruang OSIS. Merasa gak ada gunanya disana, aku putuskan untuk keluar saja.
“Eh, mana Tony?” tanyaku cepat pada salah satu temanku yang lewat.
“Kamu belum tahu ya? Dia kan ikut Ekstra Pecinta Alam naik gunung,” kata Lilatemanku.
Aku cuma bisa ber “Oooo” saja.
*
Tiga hari berlalu sejak kepergian Tony ke gunung. Entah mengapa rasanya ada yang kurang tanpa Tony. Aku kangen dengan gayanya mengejekku waktu melamun, marah-marahnya, bahkan senyumannya. Aaagh! Aku ini kenapa sih? Aku lirik kalender di dinding kamarku, hari ini tanggal 14 Februari. Itu artinya hari ini ‘Valentine Day!’ tapi percuma saja, tidak akan terjadi sesuatu yang spesial hari ini. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Aku beranjak membuka tirai jendela kamarku. Hari ini minggu yang cerah, dan aku tak tahu mau kemana hari ini. Sambil menguap aku melihat jalanan. Tapi aku sungguh tak percaya. Ada seseorang di depan pagar rumahku. Dan itu, cowok bertubuh tegap dengan rambut jabrik yang membawa sebuket bunga Edelweis. Dan itu Tony! Apa-apaan sih dia? Karna penasaran, aku langsung berlari membuka pagar, walau masih mengenakan piama tidurku.
“Kamu ngapain????” tanyaku penasaran.
“Nih, buat kamu. Aku sempat baca di buku harianmu waktu kita di perpustakaan sekolah. Disitu kamu tulis, cowok yang ingin jadi Valentine-mu harus datang pagi-pagi ke rumahmu di hari Kasih Sayang dengan sebuket bunga keabadian kan?” ujar Tony. “Dan aku membawakannya untukmu...” lanjutnya.
“Tapi... kamu bawa ini hanya untuk menebus kesalahanmu waktu itu aja kan?” tanyaku ragu. Aku masih tak percaya Tony bersungguh-sungguh menembakku.
“Yah, Anak ini! Ngapain juga aku repot-repot ke gunung buat ngambil ini hanya untuk minta maaf????” kata Tony agak kasar. “Tentu aja buat nembak kamu!” lanjutnya, masih dengan agak kasar.
“Uh kamu ini! Masa’ nembak pake marah-marah?” sergahku.
“Maaf... kamu sih gak cepet nyambung bin tulalit... mau kan jadi Valentine-ku?” tanyanya. Kali ini dengan suara pelan dan agak gugup.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Tapi kurasa Tony mengerti. Dia tersenyum lalu meraih tanganku. Dia memberiku sekotak cokelat cantik untukku.
Selesai

Kasih yang Terlambat

Diposting oleh Ken Mercedez di 11.13.00 0 komentar

Tak kusadari cinta disisiku
Yang tak pernah lelah menanti
Dengan setiap senyum memuja
Tak pernah ku rengkuh cinta
Yang begitu dekat menyapa
Hingga suatu saat
Sesal yang slalu datang kemudian
Kasihku telah terlambat
Pergi bersama hembusan angin membawanya jauh
tak pernah kembali lagi padaku

Hujan lebat sore itu membuat bulu kuduk setiap orang berdiri. Gigi mulai gemerutuk mengikuti tubuh yang menggigil kedinginan. Aku berdiri di halte bersama beberapa orang yang menunggu hujan reda. Aku jadi ingat pada seorang gadis yang pernah hadir dalam hidupku setahun yang lalu. Gadis itu kost dirumahku. Dia selalu menemani ibu, dan ibu sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri. Namanya Tria, gadis manis berkulit kuning langsat.
Suatu hari saat hujan lebat, ia datang memberikan payung padaku yang menggigil kedinginan di halte bus sepulang sekolah. Dia bilang ibu yang menyuruhnya memberiku payung itu agar aku bisa lekas pulang. Tapi aku tahu itu hanya kebohongan belaka. Dia yang menginginkan aku pulang ke rumah bersamanya. Entah mulai kapan ia selalu mengejarku. Walau slalu ku maki dan tak ku hiraukan. Ia slalu menatapku dengan tatapan memuja.
Tapi itu yang membuatku kesal. Aku tidak menyukai Tria.
Setiap ibu pergi ke kantor, ia selalu memasak untuk makan siangku ketika aku pulang sekolah. Dia satu tahun lebih muda dariku. Tapi lagaknya –menurutku- seperti ibu-ibu yang selalu mencemaskan anaknya. Dia tidak pernah menyerah. Selalu saja melayani keperluanku walau aku tak pernah menyuruhnya, dengan harapan aku terenyuh akan cintanya. Ibu selalu marah saat melihatku ketus pada Tria.
Hingga enam bulan kemudian, Tria duduk di halte bus siang itu. Saat aku berlari kedinginan dan hendak berteduh sejenak di halte sementara menunggu hujan deras mulai reda. Tria menantiku disitu. Tapi aku agak bingung, dia tidak membawa payung seperti biasanya. Dia hanya diam berdiri menatapku. Aku segera berlari ke arahnya, menanyakan maksud kedatangannya. Ku kira Tria datang mengajakku pulang bersama lagi. Tapi ternyata tidak. Ia menunjukkan sebuah cincin yang
melingkar di jari manis tangannya. Aku terkejut.
Dengan penuh deraian airmata yang mulai menetes dipipinya, ia mengatakan bahwa ia telah bertunangan dengan seorang pemuda yang dipilihkan orang tuanya. Ia berpamitan padaku. Ia hanya sebentar. Tanpa menunggu komentarku ia berlari menembus hujan ke arah sebuah mobil di kanan jalan. Aku melihat seorang pria tinggi dan gagah membukakan pintu mobil untuknya. Itukah calon pendamping hidupnya?
Mobil itu membawa Tria pergi. Dan Tria tak pernah kembali lagi. Saat itu aku sadar aku akan kehilangan Tria untuk selamanya. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Walaupun aku telah berlari sekuat tenaga untuk mengejarnya, mobil itu tidak berhenti melaju. Aku baru menyesal. Kasihku telah terlambat. Tak pernah sebelumnya aku sadari bahwa selama ini aku telah jatuh cinta pada Tria, gadis manis yang pernah hadir disisiku. Andai saja waktu kembali terulang, aku ingin merubah semua yang telah terjadi. Takkan kubiarkan sesal ini hadir dalam hidupku.

Selesai

Cintaku Bersemi di Bimasakti

Diposting oleh Ken Mercedez di 11.10.00 0 komentar
Liburan sekolah udah tiba. Kali ini bukan liburan kenaikan kelas, tapi liburan untuk memberi kesempatan siswa – siswi kelas 12 menyiapkan diri ikut SPMB. Aku termasuk siswi kelas 12 yang juga libur. Tapi ternyata sahabat – sahabatku masih menyempatkan diri ke Pantai. “Kiran! Mau ikut gak?” tanya Sofia, sahabatku. Ia berlari keluar dari mobilnya menghampiriku yang sedang berjalan pulang ke rumah. “Nggak bisa nih. Mama gak ngijinin aku, Fi,” kataku lemas. Sebetulnya aku ingin sekli ikut. “Uh, rugi banget deh! Nano ikut ke Pantai. Dia kan naksir berat sama kamu. Beruntung lho kamu bisa ditaksir cowok seganteng dia,” bujuk Sofia. “Nggak, Fi. Aku gak suka sama Nano. Aku jadi lega gak bisa ikut ke Pantai bareng kalian. Daripada ikut terus dilirik Nano terus. Hiiii…,” aku bergidik. “Hahaha. Jadi kamu mau refreshing kemana?” tanya Sofia. “Nggak ada, di rumah aja,” jawabku. “Oke deh. Ntar kalo kamu kesepian, call aku aja yach! Bye!” Sofia lalu lari ke arah mobilnya. Aku melongok ke arah mobil Yaris silver Sofia yang penuh dengan teman – temanku di dalamnya. * Pagi hari di rumahku terasa sepi. Ya… Memang begini kondisinya tiap hari. Hanya ada aku dan Mama. Kami hanya hidup berdua di rumah kami yang sederhana tapi asri. Papa meninggal 17 tahun lalu. Waktu itu usiaku baru 1 tahun. Dan aku tidak punya kakak ataupun adik. Kalau Mama bekerja, aku kesepian deh… Kulihat Mama sedang sibuk memakai pakaian kerjanya. Terpikir olehku untuk membujuk Mama tinggal di rumah hari ini saja. “Ma, hari ini sama Kiran aja ya?” rengekku manja. “Sayang, Mama nggak bisa. Kalo Mama di rumah, pasien – pasien Mama gimana..?” bujuk Mama lembut. “Kenapa sih Mama bisa betah ngurus pasien – pasien nggak waras? Apa Mama gak takut dicekik mereka?” sungutku sebal. “Mama kan sudah bilang, kalau kita ramah mereka tidak akan macam – macam,” jelas Mama masih dengan senyum ramah. Itulah Mamaku. Mama adalah perawat di sebuah Rumah Sakit Jiwa bernama Bima Sakti. Pekerjaan ini sudah lama dilakoni Mama setelah Papa meninggal. “Ma, Kiran kesepian,” aku masih berusaha meluluhkan hati Mama. “Gimana kalau kamu ikut Mama aja ke Bima Sakti?” usul Mama tiba – tiba. “Hah? Nggak mau! Kiran takut!” aku sampai bergidik. “Tenang aja! Kan ada Mama…” ujar Mama yakin. * Akhirnya aku datang juga ke Bima Sakti tempat Mama bekerja. Aku hanya duduk di bangku koridor ruangan, menatap taman di depanku. Ternyata Rumah Sakit Jiwa tak seseram yang kubayangkan. Orang – orang hilang ingatan sibuk bermain di taman seperti kembali ke masa kecil mereka. Entah apa yang mereka lakukan asal tidak membuat kegaduhan. Ada yang sedang makan disuapi suster, ada yang menangis tak jelas dan menyanyi lagu – lagu tak jelas. Mama sendiri sedang sibuk menyuapi seorang ibu setengah baya yang memilin – milin rambutnya dengan tatapan kosong. Lama – lama aku bosan sehingga memilih untuk berjalan – jalan di sekitar taman. “Rima, sini!” seseorang menepuk bahuku dari belakang. Aku masih takut untuk menoleh. Bagaimana kalau aku menoleh lalu orang itu mencekikku? “Nggak apa – apa, Mbak. Kan ada saya,” seorang suster datang menghampiriku. Aku jadi malu sendiri. Lalu aku menoleh takut – takut. “Rima, kamu mau main boneka? Ayo Kakak temani!” pemuda berpakaian putih panjang itu menarik lenganku. “Suster…” rengekku. Suster disampingku tersenyum dan menemaniku. Pemuda itu mengajakku duduk di bangku taman. Ia menyodorkan sebongkah kayu padaku yang menurutnya sebuah boneka. “Kok diem aja? Ini boneka kesayangan kamu. Kakak menyelamatkannya dari rumah kita yang kebakaran tadi malam,” celoteh pemuda itu padaku. “I... iya,” jawabku tergagap. “Rima sudah makan? Kakak suapin ya!” tanpa menunggu jawabanku pemuda itu meraih bubur yang sedang dibawa suster di sebelahku. Ia mulai menjejalkan sesendok bubur padaku. Terus seperti itu sampai bubur di mangkuk yang dipegangnya habis. Aku sendiri dengan susah payah menghabiskan bubur di mulutku. Pemuda itu tersenyum puas. Aku buru – buru berdiri dan mundur teratur. “Suster, saya mau pulang aja,” kataku. 1… 2… 3… Lari!!! Aku melarikan diri dari Rumah Sakit Bima Sakti dengan menaiki angkot. * “Kamu kok pulang nggak bilang Mama?” tegur Mama sore itu ketika pulang kerja. “Ma, aku dikerjai cowok gila. Aku takut, jadi aku lari,” ujarku membela diri. Mama geleng – geleng kepala. “Kamu tau nggak, cowok itu bikin gaduh waktu kamu pulang. Dia mau kabur nyari kamu,” kata Mama. Hiii… Aku jadi bergidik ngeri. “Besok kamu datang lagi ya ke Bima Sakti. Kasihan cowok itu, dia sampe disetrum listrik biar tenang,” bujuk Mama. “Hah? Nggak! Kiran takut!” kataku ketakutan. “Plis Ma… mengertilah aku.” “Pokoknya besok kamu harus datang lho! Kalau kamu gak mau nurut, ntar gak dapet uang jajan lho!” ancam Mama. Percuma aku protes, kalau Mama sudah menghendaki itu maka harus aku ikuti. Uffh… sebal! * Aku menyerah, akhirnya aku datang lagi ke Bima Sakti dengan perasaan was – was. “Rima!” pemuda gila yang kemarin langsung lari menyambutku. Sementara aku hanya cuma bisa nyengir kuda, pasrah. “Jangan pergi lagi ya, Rima. Kemarin Kakak mau nyari kamu tapi dimarahin Pak Guru,” kata pemuda itu. Yang dimaksudnya Pak Guru adalah perawat laki – laki yang menyetrumnya hingga pingsan kemarin. “Rima sudah makan?” tanya pemuda itu. “Sudah,” jawabku cepat. Aku takut disuapi bubur dengan paksa seperti kemarin. “Rima mau main apa hari ini?” tanya pemuda itu lagi. Aku memutar otak. Uhm… main apa ya? Yang tidak membahayakan keselamatanku tentunya. “Main…” aku masih berpikir. “Main petak umpet yuk! Kamu yang jaga ya!” usulku seenaknya. “Ya sudah, tapi kamu jangan kabur lagi ya!” ancam pemuda itu. Ups! Rencanaku ketahuan! “Ya deh,” jawabku pasrah. Seharian aku bermain petak umpet dan kejar – kejaran dengan pemuda yang belum aku ketahui namanya ini. Sore hari, Mama mengajakku pulang. Tapi pemuda itu tak mau melepaskanku. “Besok Rima datang lagi, sekarang Rima harus tidur dulu ya,” bujuk Mama halus. Pemuda itu kelihatan tidak rela. Tapi akhirnya ia mengangguk. “Tapi jangan bohong ya! Bohong itu dosa,” katanya manyun. Aku dan Mama spontan mengangguk. Fiuh… Aku lega juga. Akhirnya aku bisa pulang. Tapi aku senang bermain seharian dengan pemuda itu. Seakan aku kembali ke masa kecilku. * Di angkot keesokan harinya… “Ma, cowok yang kemarin itu siapa namanya?” tanyaku saat kami dalam perjalanan menuju Bima Sakti. “Namanya Arjuna, umurnya 20 tahun. Ia hilang ingatan sejak kebakaran yang menghanguskan rumah dan adiknya. Ayahnya lalu memasukkannya ke Bima Sakti,” ujar Mama. “Kasihan sekali ya,” kataku iba. “Sekarang kamu tahu kan kenapa Mama suka kerja disana? Banyak orang yang membutuhkan kasih sayang dan bantuan kita untuk sembuh,” terang Mama. “Iya Ma,” jawabku lirih. * Setibanya di Bima Sakti, Arjuna berlari menyambutku seperti kemarin. “Hari ini kita mau main apa?” tanyanya polos, seperti anak kecil saja. “Liat deh, aku bawa layangan. Gimana kalo kita main layangan aja?” tawarku. “Kamu tahu ya aku suka main layangan!” serunya riang. Lalu kami bermain layangan di taman dekat pohon Akasia. “Begini caranya,” Arjuna memegang tali layangan yang tengah kupegang. Ia mengajariku seolah – olah aku tidak tahu cara bermain layangan, padahal waktu kecil aku selalu menang main lomba layangan di kampung. Ia berdiri di belakangku dan menggenggam tanganku. Belum pernah aku sedekat ini dengan pemuda manapun. Aku merasakan dadanya yang bidang dan lengannya yang kokoh. Dia tak tampak seperti orang gila kalau begini. “Rima jangan takut lagi ya. Kebakaran itu memang menghanguskan rumah kita. Tapi ada kakak disini yang akan jaga Rima selamanya,” kata Arjuna lirih. Suara itu begitu jelas di telingaku. Aku menengadah memandang wajahnya. Dagunya lancip dan membelah. Rahangnya kokoh dan rambutnya sedikit acak – acakan. Sekarang aku mulai menyadari ketampanannya. Oh Tuhan, apakah aku mulai tertarik padanya? Aku tertarik pada orang gila! Ya ampun, apa aku ikutan gila sekarang? Apa kat teman – temanku nanti? Yang waras saja ku tolak, nah sekarang naksir orang gila… * Malam hari di rumah. Aku menatap hujan yang turun begitu deras. Pikiranku melayang pada sosok Arjuna. Betapa menderitanya ia tinggal di sebuah Rumah Sakit Jiwa. Apa yang dilakukannya saat ini? Kalau dia normal tentu aku bisa menelponnya saat ini. Tiba – tiba aku teringat Sofia. Segera ku raih ponselku dan menekan tombol nomor ponsel Sofia. “Halo,” sapa Sofia di seberang sana. “Halo Sof, lagi ngapain?” balasku. “Nih lagi di depan api unggun. Kamu denger suara nyanyian gak?” tanya Sofia. Aku menajamkan telingaku. Samar – samara terdengar suara orang bernyanyi diiringi suara gitar di seberang sana. “Ya, aku dengar. Emang kenapa?” “Itu suara Nano. Suaranya merdu banget kan?” yakin Sofia. “Biasa aja,” jawabku sekenanya. Aku kurang tertarik pada apapun yang dikerjakan Nano. Walaupun dia menang juara panjat Monas sekalipun. “Ah kamu ini! Kamu bener – bener gak ada rasa ya sama cowok keren itu?” “Gak ada,” lagi – lagi nada suaraku datar. “Ih, datar banget!” komentar Sofia. “Jangan – jangan kamu udah naksir cowok lain ya?” tanya Sofia. Glek! Aku harus jujur nggak ya? “I… Iya,” akhirnya aku mengaku juga. “Wah, siapa tuh? Ayo dong kenalin, aku kan sohib kamu. Masa aku gak boleh tau?” goda Sofia dibarengi suara cekikikannya yang khas. “Nanti deh kamu bakal tau, tapi jangan kaget ya!” “Kenapa? Dia lebih keren dari Nano?” tanya Sofia. Boro – boro keren, yang ada malah penampilannya acak – acakan. “Nggak, biasa aja,” kataku. “Sudah ya. Jangan lupa oleh – olehnya buat aku,” “Oke deh,” jawab Sofia. Lalu ia menutup telepon. Uh, aku semakin pusing. Bagaimana caranya menjelaskan pada Sofia tentang Arjuna, pasien Rumah Sakit Jiwa Bima Sakti? “Eh, bengong aja,” Mama mengagetkanku. “Ma, apa Arjuna bisa sembuh ya?” tanyaku. “Ya bisa saja. Asal dia punya semangat untuk sembuh,” jawab Mama. “Oh ya, kamu sudah mutusin mau masuk jurusan apa? Sebentar lagi udah SPMB lho,” tanya Mama kemudian. “Aku mau masuk Psikologi aja, Ma. Aku pengen Bantu Arjuna sembuh,” kataku. “Bagus itu! Mama bangga punya anak berjiwa sosial tinggi kayak kamu,” Mama mengelus rambutku sayang. “Ma, apa salah ya… kalau Kiran suka sama Arjuna?” tanyaku takut –takut. Jangan – jangan Mama bakal kaget lalu memarahi aku atau menilaiku sudah sinting. Tapi ternyata Mama Cuma tersenyum lembut. “Nak, nggak ada yang salah. Cinta itu perasaan yang murni dan suci. Itu merupakan anugerah dari Tuhan. Kalau kamu memang sayang dengan Arjuna, buktikan dengan membantunya sembuh,” ujar Mama bijak. Mama memang orang yang lembut dan penuh perhatian. Aku beruntung punya Mama yang bijaksana. Aku memeluk Mama. Sekarang aku bertekad untuk membantu Arjuna sembuh. * Tak terasa sebulan t’lah berlalu. Dan setiap hari aku tak pernah absen ke Bima Sakti. Kali ini aku datang bersama Sofia. Tentu saja dia kebingungan. “Ngapain kita kesini?” Sofia memegang lenganku erat. Sepertinya ia amat ketakutan. Persis denganku saat pertama kali Mama mengajakku kemari. “Nanti kamu juga tau,” kataku. Sofia mengerutkan kening, ia tentu penasaran. Kulihat Arjuna sedang duduk di bangku taman, memegang mangkok nasinya yang belum ia jamah sama sekali. Aku mempercepat langkahku dan Sofia mengikutiku, tangannya masih saja memegang erat lenganku. “Hei,” sapaku pada Arjuna. Pemuda itu segera menoleh, ia tersenyum dan berdiri menyambutku. “Rima lama sekali, Kakak capek nunggu Rima. Kakak gak mau makan,” kata Arjuna dengan gaya manja. “Siapa itu, Ran?” bisik Sofia di telingaku. “Ini Arjuna. Dia cowok yang aku taksir,” kataku. Aku tak akan malu mengakui orang yang aku taksir bagaimanapun keadaannya saat ini. “Masa kamu naksir orang gila?” tanya Sofia tak percaya. “Biarin. Sebentar lagi dia akan sembuh,” kataku meyakinkan Sofia. “Berapa usia Kakak sekarang?” tanyaku pada Arjuna. Arjuna menghitung dengan jarinya. Sofia memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia sedikit prihatin pada Arjuna. “Sepuluh,” Arjuna mengangkat kedua telapak tangannya. Aku tertawa. Dia lucu sekali. “Sekarang Kakak makan ya? Biar cepat besar,” kataku. Aku mulai menyuapi Arjuna. Ia menurut dan membuka mulutnya lebar – lebar. Aku tak pernah menyangka cintaku bersemi di Bima Sakti. Dan aku akan membantu Arjuna untuk sembuh. * Siang hari setelah kami pulang dari Bima Sakti, aku dan Sofia pergi ke CafĂ© Chochoberry dekat Bima Sakti. Aku membeli jus alpokat dan Sofia membeli jus jeruk. Kami lalu duduk di sebuah bangku dekat jendela. Sepanjang perjalanan tadi aku menceritakan awal pertemuanku dengan Arjuna. “Kamu masih menganggapku sahabat kan? tanyaku was – was. Sofia berhenti menyeruput jus jeruknya. “Ran, aku gak akan mutusin persahabatku dengan kamu cuma gara – gara kamu naksir Arjuna,” katanya. “Tapi apa kamu gak menganggapku aneh?” tanyaku lagi. Hatiku masih belum tenang. “Aku gak mau bohong sama kamu. Aku memang sempat berpikiran kamu aneh. Cowok sempurna seperti Nano kamu tolak, sekarang kamu malah naksir sama cowok semacam Arjuna,” tutur Sofia panjang lebar. “Tapi namanya juga cinta, Ran. Kita gak pernah tahu dengan siapa kita akan jatuh cinta. Yang penting sekarang gimana caranya kamu bisa bantu Arjuna sembuh.” “Iya. Aku tahu,” jawabku pendek. “Udah kamu tenang aja. Aku gak bakal cerita sama siapa pun soal Arjuna. Sumpah!” kata Sofia serius. Ia menggenggam tanganku. Memberiku semangat dan rasa tenang saat ini. “Makasih ya, Fi,” kataku. Sofia mengangguk dan tersenyum ramah. * Keesokan harinya, Sofia datang ke rumahku dengan mobil Yaris berwarna silver. “Hei, udah siap?” tanya Sofia di depan pintu rumahku. “Udah nih,” kataku ceria. Hari ini aku dan Sofia akan mengikuti tes SPMB di Universitas Airlangga. “Yuk berangkat!” ajak Sofia. Aku mengangguk setuju. “Ma, aku berangkat dulu,” seruku. Mama yang sedang sibuk di dapur segera keluar mengantar kepergianku. “Doakan aku ya, Ma!” pintaku sembari mencium telapak tangan Mama. “Tentu aja Mama doain kamu,” kata Mama. Aku dan Sofia segera masuk ke dalam mobil. Dalam hati aku berdoa agar aku lulus SPMB dan bisa meraih cita – citaku menjadi seorang Psikiater. Semua ini kulakukan untukmu, Arjuna. Selesai

A Love Story Between A Portal

Diposting oleh Ken Mercedez di 11.05.00 0 komentar

Kilatan cahaya menerawang jiwaku. Kali ini, kilatan itu benar – benar memperhatikanku. Kenapa harus aku? Aku tak bisa. Tapi inilah garis takdirku sebagai Pemburu hantu.

Kacamata hitam menyembunyikan wajah senduku. Aku harus tegar. Di sebelahku, Yilang – kucing betina setengah serigala juga memandang langit. Ia seperti memiliki pemikiran yang sama denganku. Kami adalah insan terpilih yang sebenarnya tidak ingin dipilih.

“Yilang, ayo kita pergi,” ajakku. Kucing itu mengeong. Beberapa detik kemudian Yilang berubah menjadi serigala besar, tingginya hampir sepundakku. ia merendahkan tubuhnya agar aku bisa segera menaikinya. Kami pun menyusuri malam. Melalui hutan terlarang, dimana manusia biasa takkan bisa melihatnya.

Semakin jauh kami menelusuri hutan, semakin dekat kami dengan portal yang menghubungkan duniaku dengan alam manusia. Benar saja, portal itu mulai terlihat. Seperti sebuah cermin raksasa yang di tengahnya berasap tebal. Yilang melompat memasuki portal bersamaku. Sejenak terasa begitu dingin. Andai manusia biasa memasukinya, pasti ia akan mati beku sebelum berhasil menembus portal.
***
Alam manusia sungguh berbeda dengan duniaku. Banyak orang berlalu lalang dengan ceria, saling bercengkrama. Di kediamanku, wajah kami selalu menunjukkan keseriusan. Tidak ada pembicaraan yang terjalin, kecuali mengenai sesuatu yang penting. Sungguh membosankan. Aku dan Yilang, yang kini berubah menjadi kucing biasa, menelusuri jalan setapak di tengah kota.

“Kakak,” seorang anak perempuan menepuk tanganku dari samping. Aku menengoknya tanpa ekspresi.

“Boleh gendong kucingnya nggak? Lucu banget kak,” seru gadis yang lain.

Aku mengangguk saja. Mereka kelihatan gembira dan segera mengangkat Yilang. Kucing itu menyeringai. Tapi aku mengangguk padanya ketika ia melihatku. Sekarang ia bisa lebih tenang.  Ia benar – benar seperti kucing pada umumnya. Mengeong dan kelihatan senang sekali saat anak –anak itu memeluknya. Aku ingin seperti Yilang, yang dengan mudah berganti ekspresi. Tapi kenapa aku seperti batu. Ada apa dengan diriku ini?

Ciiiiit.....

Terdengar mobil berdecit di tengah jalan. Orang – orang mulai ramai berkerumun. Aku segera berlari kesana, diikuti Yilang yang segera melompat dari gendongan gadis – gadis tadi. Aku mendesak beberapa orang untuk masuk. Kulihat seorang lelaki yang terbujur kaku dengan banyak darah keluar dari belakang kepalanya. Kemudian, arwahnya  mencoba keluar dari tubuh itu. Aku segera menghampirinya. Dengan cepat kutepuk dahinya. Beberapa orang melihat perbuatanku dan menjerit. Tapi aku tak bergeming. Kutekan dahinya kuat – kuat.

“Apa yang kau lakukan?” seorang pria paruh baya menarik lenganku. Dia menghempaskanku ke pinggir.

Laki – laki sekarat itu mengejang. Semua orang  panik. Namun anehnya tak satupun dari mereka yang memiliki inisiatif tertentu.

Setelah mengejang, lelaki itu membuka matanya perlahan. Ia memandang sekelilingnya dengan heran.

“Wah, dia bangun,” seru seorang wanita muda sambil menunjuk pria itu.

“Kamu tidak apa – apa?” yang lain bertanya sambil berjongkok.

Laki – laki itu hanya menggelengkan kepala. Kemudian ia berdiri dan mendesak keluar dari kerumunan.

Aku mulai lega. Kemudian kerumunan ini buyar. Semuanya pergi. Hanya ada aku dan Yilang yang tetap di posisi diam mengamati lelaki itu berjalan.

“Hei kau, kalau tetap begitu berikutnya kamu yang tertabrak!” seru seorang bapak tua di pinggir jalan.

Aku tersadar dan segera berlalu. Aku gagal lagi menjalankan tugasku, sama seperti sebelum – sebelumnya.

Lelaki yang kepalanya berdarah itu berhenti melangkah. Ia menengok ke belakang, ke arahku.

“Sepertinya kau tadi menepuk dahiku keras sekali?” tanyanya.

“Kalau tidak begitu, kau pasti akan mati,” jawabku singkat.

“Oh ya?” katanya dengan tampang bodoh.

“Kau mau bunuh diri kan?” tanyaku.

“Bagaimana kau tau?” tanyanya lagi.

“Dari wajahmu itu. Jelek sekali,” kataku asal.

“Hei, jangan mengatakan itu. Aku sudah lelah, setiap gadis mengatakan itu,” jawabnya kesal.

“Jadi kau patah hati?”

“Menurutmu gimana?” dia malah balik bertanya.

“Payah,” jawabku sekenanya. Lalu aku berjalan melewatinya. Tapi ia menarik tanganku.

“Jangan pergi, sebentar saja.  Maukah kau menemaniku? Sehari saja,” pintanya.

Aku diam, tak tahu harus bagaimana. Aku melirik Yilang. Tapi ekspresinya sama denganku, datar.

“Siapa namamu?” tanya lelaki itu.

“Parkit,” jawabku.

“Aneh sekali. Kenapa seperti nama burung?”

“Tidak tau,” jawabku datar.

“Aku Elgo. Mau kan menemaniku sehari saja. Aku sedang patah hati,” katanya. Senyumnya begitu indah. Belum pernah kulihat senyum seindah itu dari seseorang yang hampir mati.

Tanpa menunggu jawabanku, ia menggenggam tanganku dan mulai berjalan. Yilang geram. Mungkin dia berpikir Elgo menyakitiku.

“Tidak apa – apa,” bisikku lirih. Yilang mulai mengerti. Ia menjajari langkahku.

“Kepalamu, apa mau ku perban?” tanyaku.

“Oh iya, tapi darahnya sudah berhenti,” Elgo memegangi belakang kepalanya.

“Kalau tidak diperban, kau tampak aneh,” kataku.

“Iya. Beberapa meter lagi ada klinik. Ayo kesana,” Elgo menarikku untuk berlarian bersamanya. Dadaku bergetar. Ada apa ini? Kenapa aku bisa merasakan sesuatu yang lain saat bersamanya? Padahal dia hanya manusia biasa.
***
Kepala Elgo sudah diperban. Para perawat dan dokter di klinik tadi juga terheran – heran. Bagaimana bisa seseorang yang kepalanya berdarah sebanyak itu bisa tetap hidup. Tapi Elgo hanya tertawa.

“Parkit, disana ada penjual gulali. Kamu mau?” tanyanya.

“Tidak, terimakasih,” jawabku.

“Hei, semua gadis suka gulali. Kamu kenapa? Gigi sensitif?” guraunya.

“Aku tidak pernah makan gulali,”

“Kamu  aneh. Hei, lihat wajahmu itu. Seperti mayat hidup saja. Coba tersenyum, jagan datar begitu,” kata Elgo sambil memegangi wajahku. Matanya bertemu langsung dengan mataku. Dan saat itu dadaku berdesir lagi.

“Tidak pernah tersenyum ya? Seperti ini,” dia menarik pipi kanan dan kiriku hingga membentuk sebuah lekukan. “Nah, coba pertahankan,” dia melepas tangannya.

Aku tetap menyunggingkan pipiku seperti katanya barusan.

“Amboy. Kau sungguh cantik. Gadis tercantik yang pernah kutemui,” dia mengagumiku. Rasanya dada ini meletup – letup. Tapi kenapa? Kenapa aku merasakan ini? Padahal tidak pernah sekalipun aku begini.

“Kau tidak pernah tertawa ya?” katanya.

“Bagaimana itu?” tanyaku.

“Seperti ini,” dia memegangi pinggangnya dan berkata, “hahahahaaaaa.....”

Aku menirukan gerakannya, “Hahahahaaaaa.....” kataku.

“Bukan begitu, kamu seperti mayat yang tertawa. Ekspresimu mana? Sipitkan matamu, sunggingkan pipimu, jangan tegang. Dan tertawalah,” katanya.

Aku mengikuti semua yang ia katakan. “Hahahaaaaaa,”

“Nah, begitu bagus,” dia berjalan di depanku. Sedangkan aku mengikutinya sambil mempraktekkan apa yang dia ajarkan barusan.

“Jangan tertawa terus. Seperti orang gila, tau!” dia menoleh padaku.

Aku langsung kembali pada ekspresiku semula, datar.

“Hei, jangan datar begitu. Tersenyumlah,”

Aku menyunggingkan pipiku lagi.

“Nah, begitu kan manis. Ayo kita makan gulali. Lalu naik komedi putar,” dia menggandeng tanganku.
***
Malam hari di alam manusia sangat berbeda dengan duniaku. Aku, Elgo, dan Yilang sedang duduk di bangku taman kota. Hari ini Elgo mengajakku ke banyak tempat. Air mancur, pecinan, dan naik komedi putar. Elgo membelikanku sebuah jepit berbentuk burung kecil, yang katanya seperti burung parkit.

“Sebentar lagi jam 12 malam. Akan ada kembang api disana,” dia menunjuk langit.

“Apa itu?” tanyaku.

“Kau akan tahu,”jawabnya. “1,2,3....” dan kilatan – kilatan penuh warna berpendar di langit malam yang hitam. Sungguh indah. Aku sampai terperangah dibuatnya.

“Selamat tahun baru,” ucapnya padaku.

“Apa itu?” tanyaku lagi.

“Hari ini adalah pergantian tahun. Dengan begitu, harapan – harapan baru dimulai,” ucapnya.

“Apa harapanmu?” tanyaku.

“Bersamamu selamanya,” jawabnya cepat.

“Maaf aku tidak bisa,” terasa sakit di hatiku saat aku mengucapkannya.

“Kenapa? Kau telah menyelamatkan nyawaku. Memberiku harapan baru. Tetapi kemudian kau meninggalkanku,” tatapannya begitu dalam, seakan ia ingin memberikan hidupnya, segalanya padaku.

“Aku, bukan manusia. Alamku berbeda denganmu. Waktu itu aku menyelamatkanmu. Karena bila kau mati karna bunuh diri, aku harus menyeretmu ke neraka. Aku tidak bisa, walaupun itu tugasku,”

“Kau ini makhluk apa?” dia menanyaiku tak percaya.

“Manusia menyebut kami ...” sulit untuk mengatakannya.

“Apa?” dia masih menungguku menyelesaikan kalimatku.

“Manusia menyebut kami, Jin,” lanjutku.

“Aku tak peduli. Aku ingin bersamamu. Hanya kamu yang mau menerimaku apa adanya. Ku mohon, Parkit,” ia menggenggam tanganku.

“Aku tidak bisa. Sebentar lagi aku harus pergi. Aku sudah banyak melakukan pelanggaran hari ini,” kataku.

“Akankah kita bertemu lagi?” tanyanya.

“Tidak,”jawabku.

“Sekalipun aku mati?” tanyanya.

“Kau tidak akan menemuiku lagi. Selamanya,”

Kilat menyambar.Waktuku sudah habis. Aku harus segera pergi. Kututup matanya dengan kedua tanganku. Saat ia membuka mata, dia tak kan lagi melihatku. Selamat tinggal, Elgo.
***
Hujan membasahi kota. Sore itu kilat menyambar – nyambar.

Ciiit...

Sebuah motor berdecit. Orang – orang langsung berkerumun di tengah jalan. Seorang pria terkapar dengan luka di kepala dan hatinya. Matanya sayu dan hampir tertutup. Namun kemudian seorang gadis mendesak memasuki kerumunan dan menepuk dahi pria itu. Dipeluknya lelaki itu dengan penuh kerinduan.

“Apa yang kau lakukan?” seorang pria menarik lengan gadis itu dan menghempaskannya ke pinggir.

Lelaki itu terbangun, namun gadis yang berdiri di pinggir mendesak keluar dari kerumunan.

“Parkit,” seru lelaki itu. Tak peduli pada reaksi orang – orang yang terkejut dengan kebangkitannya. Bagaimana bisa seseorang yang akan menemui ajalnya dapat berdiri dan berlari secepat itu?

Selesai
 

Ken Mercedez Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting